Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Apakah salah membawa bekal MAMIN dari rumah?

In kEluarga on Monday , 13 July 2009 at 2:44 PM

Apakah salah membawa bekal dari rumah? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada anda yang sedang mengantar anak-anak  ke sekolah, saya tahu pasti jawabannya: Tidak Salah.

Namun, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada anda sendiri yang sedang menuju ke kantor, apakah jawaban anda soal bekal MAMIN (Makanan dan minuman) yang dibawa dari rumah? Pasti tidak tunggal jawabannya.

Sebuah suratkabar nasional, minggu kemarin menulis artikel terkait cara memperoleh makan siang di kantor bagi para pekerja. Kalau pekerja yang telah disediakan MAMIN di kantor oleh perusahaannya/institusinya tidak ada problem berarti, kecuali mungkin “ketidaksesuaian” rasa. Tetapi bagi pekerja yang harus menyediakan sendiri MAMIN di kantor, biasanya ada problem.

Problem yang umum adalah soal dukungan anggaran, waktu untuk memperoleh santap siang dikaitkan lama waktu yang tersedia untuk jam istirahat, dan tentu saja tingkat hygenis-nya makanan yang disantap.

Saya tidak ingin menulis hal-hal itu secara detil. Langsung saja, pendapat saya, paling baik BAWA BEKAL MAMIN dari rumah. Toh, keluarga tentu sudah sangat siap mempersiapkan hal-hal demikian. Rasanya semua problem itu akan tereliminasi kalau mau membawa bekal dari rumah. Apakah mengganggu sosialisasi dengan teman-teman kerja? Menurut saya tidak ada hubungannya. Kalau ingin moderat, ya, secara rutinnya membawa dari rumah, namun kadang-kadang makan di luar kantor atau di dalam kantor (kalau ada kantin/cafe) bersama rekan-rekan kerja.

Menurut saya untuk melakukan hal ini nggak perlu pemikiran yang panjang. Meski saya tahu, ada problem turunannya, yaitu CARA MEMBAWA BEKALNYA. Kalau ke kantor membawa mobil, memang sih nggak terlalu masalah untuk “mencangking” bekal itu, tapi kalau naik motor atau angkutan umum, sepertinya ada kendala teknis ya ….

Sekali lagi, dalam pandangan saya, nggak perlu diribetkanlah, yang penting bisa mengemasnya secara rapi, aman (tidak tumpah), dan membawanya normal-normal saja. Saya mengerti, sesungguhnya bukan masalah teknis membawanya, orang kita tidak ingin melakukan hal ini (membawa bekal MAMIN) dari rumah, sesungguhnya karena : GENGSI.

Budaya Pemerintahan Provinsi DIY, perlu sosialisasi ya…..

In e-goverment on Monday , 13 July 2009 at 2:24 PM

Budaya Pemerintahan, memang perlu dibuat, disosialisasikan, dan diterapkan, terus dikontrol ya …. agar kinerja para pegawai menjadi mantap …. seperti Budaya Pemerintahan Provinsi DIY, yang baru, memang perlu sosialisasi ya…..

Apakah Budaya Pemerintahan Provinsi DIY? SATRIYA :

Selaras,

Akal Budi Luhur Jatidiri,

Teladan-keteladanan,

Rela Melayani,

Inovatif,

Yakin dan percaya diri,

Ahli-Profesional.

Semuanya merupakan nilai-nilai yang baik dan unggul.

Problem kepemerintahan kita sesungguhnya apa kok sampai perlu budaya pemerintahan? Tidak ada satunya kata dan perbuatan, alias implementasinya, kalau istilah populer dulu ya pengamalannya (meminjam instilah P4) yang nggak terwujud nyata ….

Asyik, liburan lebaran dengan uang baru Rp.2.000,-

In aNak, anggaran on Friday , 10 July 2009 at 3:28 PM

Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan pecahan Rp 2.000 baru bergambarkan pangeran Antasari. Namun uang bernuansa abu-abu itu baru akan beredar luas di masyarakat menjelang Idul Fitri. Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) baru akan mendistribusikan 500 juta bilyet/lembar uang baru pecahan Rp 2000 kepada BI pada Juli 2009 dan Agustus 2009. Sektretaris Perusahaan Peruri, Toni Pandelaki mengatakan, Peruri akan mendistribusikan uang pecahan baru tersebut secara bertahap dengan jumlah nominal sebesar Rp 1 triliun.

Cocok untuk lebaran .....

Cocok untuk lebaran .....

Pada bulan Juli 2009, kita akan mendistribusikan kepada BI untuk disebarkan sebanyak 200 juta bilyet/lembar dan kemudian pada bulan Agustus 2009 sebanyak 300 juta bilyet/lembar,” ujar Toni dalam Media Gathering wartawan di kawasan SCBD, Jakarta, Jumat (10/07/2009). Ia menambahkan, uang pecahan Rp 2.000 itu diharapkan sudah bisa didistribusikan ke BI per 20 Juli 2009. “Nantinya sakaligus menyambut hari idul fitri, pecahan Rp 2000 sudah dapat tersebar ditangan masyarakat,” jelasnya.

Sebuah penghargaan untuk Sang Pahlawan

Sebuah penghargaan untuk Sang Pahlawan

Uang kertas baru pecahan Rp 2.000 berwarna dominan abu-abu dengan unsur pengaman berupa tanda air bergambar Pangeran Antasari dengan benang pengaman yang tertanam di kertas uang dan bertuliskan BI2000 berulang-ulang yang akan memendar merah di bawah sinar ultraviolet. Uang kertas pecahan baru ini juga mengakomodasi kebutuhan para tuna netra dengan menyediakan kode tertentu (blind code) di samping kanan bagian muka uang yaitu berupa kotak persegi panjang yang dicetak secara intaglio.

Soal uang, lama atau baru, jangan lupa 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang! Masih ingat khan?!