Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Saya ditawari jadi caleg

In dEmokrasi, hAm, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, militer, nUrani, pOlitik on Thursday , 8 May 2008 at 4:11 AM

logoku

Sebenarnya saya ragu untuk menuliskan hal ini di weblog karena saya khawatir dikira GR. Tapi setelah saya pikir-pikir saya justru perlu nulis hal ini untuk refleksi diri sendiri, apabila kebetulan bermanfaat bagi orang lain, ya syukur alhamdulillah.

Seperti kita ketahui menjelang pemilu tahun 2009 partai politik saat ini sedang giat-giatnya menarik-narik siapa saja yang bisa memperkuat organisasi partai, syukur-syukur seide dengan warna dan ide politik khas partai tersebut. Tentu saja yang dicari partai politik adalah orang-orang yang berpengaruh (setidak-tidaknya dianggap punya pengaruh) untuk meningkatkan kantong suara dari para konstituennya (calon konstituen juga!). Nah, partai politik yang begitu banyak berseliweran rupanya ada yang menyapa saya (sengaja, serius atau asal-asalan, saya nggak tahu) dan mengajak masuk ke rumahnya, untuk dicalonkan sebagai calon legislatif (caleg) pemilu mendatang, belum jelas benar tingkat kabupaten/kota, propinsi atau pusat. Ngomongnya masih kesana kemari. Agaknya saya nggak perlu menyebutkan mutu dan status  partainya: yang sudah eksis, kacangan atau masih klas bayi merangkak.

Tawaran ini saya pandang sebagai satu kehormatan. Ternyata masih ada orang atau parpol yang menoleh dan melihat saya sebagai salah satu warganegara yang punya kans untuk menjabat di legislatif. Wouw rasanya berbunga sekali. Melambung deh. Hal ini berpijak pada kesadaran diri saya yang merasa sebenarnya saya “nggak punya apa-apa” untuk disumbangkan sebagai pengabdian tulus ke Negara dan Bangsa Indonesia tercinta. Kalaupun saya selama ini bekerja dan mengabdi sebagai aparat negara (pegawai negeri) melalui TNI AU, sayapun merasa pengabdian saya belum ada apa-apanya untuk kemajuan negara dan bangsa ini. Oleh sebab itu tawaran jadi caleg saya persepsikan sebagai buaian indah untuk pengabdian ke negara dan bangsa ini melalui jalan lain.

Tawaran menarik melihat peluang kekuasaan di legislatif, yang mungkin nantinya bisa juga ke eksekutif. Oh? Mungkin saya bisa lebih “berkembang” pada semua sisi, entah itu materi, entah itu pergaulan , entah itu apalah …… yang mungkin “lebih” dari level yang saya peroleh (dan saya syukuri!) sekarang ini.

Tetapi: Ternyata batin dan nurani saya terdalam tidak bisa diajak kompromi. Ternyata sampai saat ini saya masih punya rasa takut untuk masuk ke sana. Ternyata pada orang yang nawarin itu saya tegaskan saya belum mau mengambil kesempatan itu. Ternyata orang itu kaget, katanya: mengapa?

Oh, rupanya saya harus sedikit urai kenapa ya saya kok nggak mau ditawarin jadi caleg. Alasannya?

1. Saya sampai saat ini masih sangat bangga dengan cara dan tempat pengabdian ke bangsa dan negara saya yang sekarang ini melalu TNI AU. Saya menghidupkan lingkungan pendidikan, saya menyumbang (meski sedikit!) dalam pengembangan SDM TNI AU. Masalah gaji (juga take home pay-nya) besar apa kecil khan relatif. Mana sih ada orang yang pernah puas? Yang ada khan bagaimana melihat sampai sejauh mana tingkat kepuasan hidup. Nalar dan normanya bisa berbeda.

2. Saya merasa belum punya modal “kekayaan” untuk jadi caleg. Saya tidak ingin polemik dengan siapapun soal modal uang untuk jadi caleg atau jabatan lain yang melalui parpol. Saya yakin anda semua lebih tahu dari saya. Yang jelas, saya merasa belum “kaya hati”. Kalau materi barangkali saya sudah merasa kaya (ini relatif juga lho), toh punya rumah, tanah, mobil, motor, simpanan (deposito lho, bukan simpanan yang lain), keluarga, pekerjaan, jabatan, dan lain-lain. Kalau hati saya masih merasa miskin. Saya belum sanggup menghadapi godaan alias gangguan kalau benar-benar jadi legislatif. Saya masih merasa mudah silau dengan uang, saya masih merasa belum bisa jaga pandangan, saya masih merasa belum mampu menolak gratifikasi, saya masih merasa ….., merasa …. pokoknya masih miskin hatilah, belum kaya hati. Jadi takut berhadapan dengan penyakit 4-ta (tahta, harta, wanita, jakarta). Bukan tidak mampu untuk mengabdi ke rakyat. Kalau yang ini saya sanggup 100%. Sudah teruji. Buktikan saja (Ah kayak iklan kampanye saja…!)

3. Masih banyak warganegara Indonesia yang lebih mampu dan lebih baik dari saya yang lebih pantas jadi caleg.

Setelah jawaban ini saya ungkapkan ke orang yang nawari itu, dia manggut-manggut (sepertinya faham) dan kemudian pulang. Seminggu kemudian dia telpon, menyatakan: “Wah sampeyan ini gimana ya, kok nggak mau nyalon, padahal punya kemampuan materi, jaringan dan dukungan yang lumayan kuat”. Lalu, katanya lagi, “banyak orang lain yang saya dekati pada langsung mau, meskipun dukungannya pas-pasan”. Saya diam nggak komentar lagi apa yang dikatakannya ……

Bagaimana menurut anda? Bagaimana kualitas Pemilu 2009 nanti? Ah, terserah anda sepenuhnya: bagaimanakah menggunakan hak pilih dan hak dipilih. Saya? Biasa saja, status saya sekarang jelas: nggak punya hak pilih dan hak dipilih, he he he. Apa sih yang dicari ……….? Berikanlah rakyat Indonesia yang terbaik pada sisi apapun!

  1. sukurlah berarti sampeyan masih waras.

  2. Makasih sobat. Mohon doanya saja biar saya tetap waras sampai kapanpun, dan Insya Allah jika jabat apapun dimanapun. I love Indonesia. Saya dan anda pasti sama, nggak inginlah negara yang begini kaya sumber daya alam, rakyatnya banyak menderita terus menerus ….

  3. Beginilah, Bapak semakin memperlihatkan kepada saya, permainan partai politik yang ikut parlemen yang katanya mau memperjuangkan rakyat, tapi kebanyakan caleg yang dipasang, ya yang dipertimbangkan bisa mendongkrak dukungan kepada mereka saja. Visi mereka yang jelas bagaimana, untuk membangkitkan bangsa ini? Ideologi partai mereka aja ga jelas. Ideologi Pancasila? wah, layakkah pancasila dijadikan ideologi? lha wong tatanan ekonominya jelas-jelas kapitalistik begini.

  4. Saya memahami yang anda tulis, dan saya sepertinya juga melihat begitulah adanya.Mau bagaimana lagi? untuk itulah, mari kita yang masih waras (setidaknya dianggap waras) membentengi diri agar tidak mudah terkontaminasi. Syukur-syukur kalau dapat berkiprah lebih luas, lebih berpengaruh dalam pengambilan keputusan pemerintah/negara, dapat memanfaatkan kewarasannya untuk bangsa & negara secara konsisten. Ok?