Saya mempunyai pengalaman luar biasa, sampai tahun ini tetap menjadi kenangan tersendiri bagi saya saat membuka diary. Pengalaman ini dapat dikatakan sebagai ujian sekaligus ukuran manajemen hati untuk pribadi. Kalau anda melihat judul tulisan ini, ya itulah yang terjadi. Mungkin anda ingat satu film yang penggambarannya lebih dahsyat seperti yang saya alami, ingatkah anda dengan sleeping with the enemy?
Untuk kejadian yang saya alami ceritanya begini: Tahun 2002 saya punya kendaraan roda empat yang masih tergolong baru, karena saya membelinya pada akhir tahun 2000. Nah, pertengahan 2002 itu kendaraan saya ditabrak oleh kendaraan lain dari belakang di perempatan Mirota Kampus UGM Yogyakarta. Waktu itu saya dari utara (jln Kaliurang) mau belok ke timur (Bunderan UGM), tetapi setelah menabrak sang pengemudi jalan lurus ke selatan (jln Simanjuntak), saya sempat mengidentifikasi jenis dan warna kendaraannya (Toyota Kijang) dan nomor kendaraannya (AB xxxx PE). Setelah saya berhenti dan melihat bagian yang ditonjok dari belakang itu, lumayan luka, saya cukup emosi juga. Karena penabrak saya pikir orang yang tidak mau bertanggungjawab (melarikan diri) maka sejak saat itu seolah-olah saya menempatkan pengemudi dan kendaraan tersebut sebagai “musuh” yang harus dicari segera atau lambat.
Berhari-hari saya melacak dan mencari, menemukan jejak kendaraan tersebut yang ternyata dimiliki salah satu warga Sleman, dan sering melintas di jalan Kaliurang. Dari upaya pencarian tersebut sebenarnya sudah ada titik terang dan mengarah pada penemuan lokasi/posisi pemilik kendaraan. Namun, kok ndilalah Gusti Allah mempunyai keputusan lain, saya dapat tugas sekolah yang harus meninggalkan kota yogya dalam kurun waktu cukup lama (sekitar 10 bulan) sehingga emosi pencarian teredam dan nyaris terlupakan, tertutupi kesibukan baru itu.
Tahun-tahun berikutnya dan pada hari-hari selanjutnya, selesai sekolah, seperti biasanya saya berkegiatan sosial lagi, selain dinas rutin seperti biasanya. Pada saat kegiatan sosial itulah memori kendaraan tertabrak muncul lagi. Kejadiannya benar-benar tidak sengaja. Saat selesai rapat, keluar ruangan, jalan bersama menuju tempat parkir kendaraan dengan beberapa peserta rapat yang memang selama ini sudah akrab betul, nah saat masuk kendaraan itulah saya melihat kendaraan yang selama ini saya cari, jenis kendaraan, warna dan nomornya jelas persis, ada parkir di belakang mobil saya. Yang lebih mengagetkan saya adalah yang duduk di belakang kemudi adalah teman rapat yang selama ini akrab dan sama-sama aktif di perkumpulan sosial tersebut. Selama ini yang bersangkutan terkesan baik-baik saja, santun, bersahabat, Islami dan nuwani. Lalu kalau sudah begini mau apa?
Saya sempat terpekur beberapa saat. Dalam pikiran saya berarti selama ini saya sering rapat dan bersenda gurau bersama “musuh”, dan tidak terasa kondisi bermusuhan sama sekali. Akhirnya emosi saya masuk dalam tingkat kesadaran paling tinggi. Ini mungkin jalan yang ditunjukkan Allah kepada saya dalam “menghargai” suatu barang yang saya miliki dikaitkan dengan hubungan kemanusiaan dalam sisi lain. Sebab kalau (ya kalau, lho) dulu langsung ketemu mungkin keadaannya jadi lain, dan ujung masalah ini sangat mungkin berakhir dengan nggak baik. Akhirnya saya makin memahami semua ini, apalah makna emosi sesaat, apalah makna rusaknya suatu benda yang saya miliki, apalah arti persahabatan dan pertemanan yang lebih luas …..
Sekarang, saya dan bapak itu, berteman dengan baik! Kendaraan bonyok (sedikit) sudah lupakan saja …..







