Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for May 26th, 2008

Indeks "Hunger" Global 2006 : Indonesia?

In aNak, country, hunger, iKlim, indeks, index, indonesia, informasi, kelaparan, rank, ranking, risiko, risk, teknologi on Monday , 26 May 2008 at 8:28 AM

Bagaimanakah indeks Indonesia dalam hal hunger dalam konteks global? Berikut ada data dari International Food Policy Research Institute (IFPRI) untuk tahun 2006. Tiga hal yang dijadikan dasar ukuran, yaitu: Tingkat kecukupan kesediaan pangan, Status nutrisi anak-anak, dan tingkat kematian anak-anak. Indeks Indonesia lihatlah, antara 10 s.d 20, berarti? cek sendiri saja pada indeks di bawahnya itu. (N.B. Saya lebih suka judul tetap pakai kata Hunger, tahu maksudnya? Masak saya ganti dengan kelaparan, khan nggak pantas!
Ada komentar?

Oleh-oleh dari simposium kebangkitan nasional

In aNak, dEmokrasi, eKsekutif, hAm, iSlam, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, militer, nUrani, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Monday , 26 May 2008 at 1:48 AM

logoku

Tanggal 19 Mei 2008, di Kampus UGM Yogyakarta, saya mengikuti Simposium Nasional dalam rangkaian Peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional. Acara ini diselenggarakan oleh UGM, Pemda DIY dan Kagama. Tema yang diusung cukup mentereng, “Reaktualisasi Nilai-nilai Kebangkitan Nasional” dalam rangka “Peningkatan dan Pendayagunaan Daya Saing Anak Bangsa Menuju Kompetisi Global“. Woh, mantap khan? Apalagi pembicaranya: dua menteri, satu mantan menteri, pejabat militer, rektor dan mantan rektor, profesor dan doktor, …..

Saya ingin menuliskan oleh-oleh ini bukan berpretensi sebagai notulen atau penyusun laporan, tetapi sekadar saya cuplik ha-hal yang urgent dan relevan. Karena saya anggap apa-apa yang diungkapkan dan terungkap di forum itu pun tidak semuanya mengena, bahkan cenderung banyak yang lipstick, gincu-gincu doang …. dalam pikiran saya coba kalau disuruh mengeksekusi (sebagai pihak pemerintah) belum tentu mampu juga, omong doang …. gampang itu!.

Okelah, saya nggak berminat ngrasani lho ….. dosa nanti. Saya ambil yang penting-penting saja untuk kita renungkan ….. kita bangkitkan …..

1. Pluralisme bangsa dan tanah air harus kita fahami sebagai aset, bukan sebagai beban.

2. Kita harus mampu mewujudkan semangat kebangsaan dengan meningkatkan persatuan.

3. Harus ada inisiatif dari kita sekecil apapun untuk membangkitkan bangsa, yang penting bersifat kecil berantai. Karena realitasnya, sekarang masih ada ancaman disintegrasi, keterpurukan bangsa, masalah kualitas kepemimpinan bangsa.

4. Kita harus memanfaatkan semua keunggulan bangsa, yaitu: keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif.

5. Sebenarnya masih ada harapan Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar.

6. Pengembangan pendidikan tinggi, semestinya: a. Mengambil dana dari alumninya, bukan dari peserta didiknya ; b. Pilih dosen-dosen terbaik dengan pemberian insentif/gaji yang baik, dengan alasan, kalau tidak ada orang-orang yang terbaik masa kini yang mau jadi dosen dan masuk dalam dunia pendidikan secara total, bagaimana mungkin kita dapat “melahirkan” orang-orang terbaik pada masa depan ; 3. Harus ada rekayasa sistematis bagaimana caranya pihak pengusaha swasta mau dan senang masuk dan mendukung pengembangan kampus (bukan fisik belaka, lho!) dengan sifat simbiosis mutualisme, bukan sumbang menyumbang seperti lembaga sosial.

7. Terungkap, sebenarnya tidak ada ancaman serius mengenai hubungan agama dan wawasan kebangsaan. Indonesia : nation-state. Islam tidak dipecahbelahkan oleh doktrin geografis, suku, dan lain-lain. Islam itu universal. Hubul wathon minal iman. Pancasila adalah ideologi yang “berteman” dengan Islam : compatible. Untuk itu kita tidak boleh menggeneralisasikan suatu kasus yang kebetulan “anti Pancasila” untuk semuanya.

8. Perlunya revitalisasi negara, revitalisasi Pancasila untuk kebangkitan nasional. Hal ini untuk melawan ideologi alternatif yang cenderung dianggap sebagai solusi instant (liberalisasi, misalnya).

Ini sedikit oleh-oleh, semoga bermanfaat. Yang perlu digarisbawahi adalah kebangkitan sebaik-baiknya dari individu-individu anak bangsa, dan dalam skope kecil dari keluarga-keluarga Indonesia, terutama soal mental, mental bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan koridornya adalah HAM dan hukum, sekali lagi hukum. Hal ini penting sekali. Bukan sekedar mental berdemokrasi dengan makna kebebasan sebebas-bebasnya, tapi kebebasan yang juga menghargai kebebasan warganegara Indonesia lainnya. Demo oke saja dalam alam demokrasi, tetapi apakah dengan demo boleh mengganggu lalu-lintas pengguna jalan lainnya? Boleh bebas membising-bisingkan suara kendaraan ke kuping rakyat lainnya? Boleh menakut-nakuti warga negara Indonesia lainnya dengan kerumunan massa dan acungan bambu runcing, bahkan senjata tajam? Boleh menyemprotkan pylox kemana-mana? Boleh mendobrak pintu, merusak gedung seenaknya? Boleh menendang petugas, memukul petugas, melempar petugas seenaknya? Mengumpat semaunya? Oh! Rakyat sudah menderita teman, memang semestinya dibela, tetapi caranya begitukah?

Adakah komentar anda ….. ?