Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for June 2008

In Memoriam Rekan-rekan Korban Casa 212

In aNak, bLog, dEmokrasi, eValuasi, hAm, hIdup, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, militer, nUrani, pEndidikan, pErtahanan, tEknologi iNformasi on Monday , 30 June 2008 at 5:28 AM

logoku

 

 

Dalam kehidupan memang ada satu yang tidak bisa kita hindari, yaitu: perubahan. Sekecil apapun. Fungsi waktu dan tempat terkadang sebagai penanda. Kelahiran, perkawinan (jodoh), dan kematian adalah rahasia Allah SWT. Begitulah.

Kecelakaan Casa 212 TNI AU di Gunung Salak Jawa Barat beberapa waktu lalu juga merenggut nyawa rekan-rekan saya. Bahkan ada yang terasa pilu manakala mengingat beberapa dari mereka adalah rekan dekat, karena pernah satu kantor dan pernah sekolah militer bersama-sama. Bahkan punya kenangan bersama, seperti ketika sama-sama menjadi finalis pada Lomba Karya Tulis Ilmiah TNI Tahun 2007 yang lalu. Mereka orang-orang yang berprestasi, berdedikasi dan wafat dalam tugas negara.

Ya begitulah takdir. Datang dan pergi tanpa dapat kita prediksi. Kita harus menerima keputusan Allah.

Semoga amal-amal mereka selama ini diterima oleh Allah SWT dan dosa-dosanya diampuni. Selamat jalan rekan-rekan, kalian sudah memberikan yang terbaik untuk TNI AU, bangsa dan negara. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menjalani dan dapat meneruskan idealisme serta harapan-harapan mereka. Amien.

Peringkat Pembajakan Software Indonesia Membaik

In country, e-gov, global, ict, indeks, kOmputer, readiness, risk, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi on Tuesday , 24 June 2008 at 5:29 AM

Survei Incorporated Data Services (IDC) dan Business Software Alliance (BSA) menyebutkan tingkat software piracy (pembajakan piranti lunak) turun 1% menjadi 84% pada 2007 dari 85% pada 2006. Peringkat Indonesia turun ke 12 pada 2007 dari 8 pada 2006. Penurunan peringkat Indonesia ke 12 pada 2007 dari 8 pada 2006 akibat tiga negara diikutsertakan dalam survei tersebut yaitu Yaman dengan software piracy sebesar 89%, Libya sebesar 88%, dan Irak sebesar 85%.

Penurunan software piracy di Indonesia diakui berkat dorongan proses penegakan hukum seperti razia kepada para pembajak dan terkait dukungan pemerintah mendorong penjualan piranti lunak legal.

Sementara itu dari sisi nilai kerugian software piracy di Indonesia naik menjadi US$411 juta pada 2007 dari US$350 juta pada 2006. Hal ini terjadi akibat peningkatan penjualan software di Indonesia. Sejumlah langkah perlu ditempuh,guna mengurangi kembali software piracy di Indonesia, seperti sosialisasi kesadaran hak atas kekayaan intelektual (HaKI) kepada masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa. Kualitas penegakan hukum pembajakan perlu ditingkatkan kepada kepolisian dan kejaksaan.

Pada sisi lain dari 108 negara-negara yang disurvei software piracy turun di 67 negara dan naik di 8 negara. Hal itu akibat pasar PC tumbuh cepat di negara-negara seperti Brasil, Rusia, India dan China tumbuh 26% pada 2007 dibandingkan pertumbuhan 13% di Amerika Utara, Eropa Barat dan Jepang. Tantangan sekarang bagaimana membangun budaya penghormatan HaKI.

Silakan cek daftar 2007 PC Software Piracy Rankings berikut ini:

Tingkat ketersediaan sumber daya terbarukan, Indonesia?

In climate, country, daya, e-goverment, global, indeks, index, indonesia, informasi, rank, risk, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Tuesday , 24 June 2008 at 3:21 AM

Bagaimanakah tingkat ketersediaan sumber daya terbarukan di Indonesia? Cobalah tengok hasil kajian Global Monitoring Report berikut ini:

Kuota penerimaan peserta didik baru yang menjebak

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Tuesday , 24 June 2008 at 2:19 AM

logoku

Pemerintah Kota Yogyakarta telah mengeluarkan Perwal tahun 2007 yang intinya pada tahun 2008 dilakukan sistem kuota untuk penerimaan peserta didik baru tingkat SMP dan SMA. Kuota dilakukan berdasarkan tempat tinggal orang tua, yaitu: Warga kota Yogyakarta (70%), Warga DIY (luar kota yogyakarta: 25%), dan warga non DIY (5%). Alasan standarnya untuk melindungi warga kota dalam mendapatkan kesempatan (prioritas) pendidikan di kotanya sendiri, karena pemahamannya APBD Kota dari dan semestinya untuk warga kota Yogyakarta, hal ini berbasis era otonomi daerah.

Sebenarnya ada plus minus dalam implementasi peraturan ini. Marilah kita telusuri secara lebih cermat:

Plus minus untuk wargakota Yogyakarta:

A. Plusnya:

1. Bagaimanapun kondisi/prestasi nilai sekolah sebelumnya mempunyai peluang besar mendapatkan sekolah lanjutan di Kota Yogyakarta. Karena persaingan untuk mendapatkan kursi sekolah sudah diatur/dibatasi oleh sistem kuota, sehingga “pesaing” sudah dikurangi.

2. Sumbangan PAD yang diberikannya terasa kembali lagi ke wargakota Yogyakarta.

B. Minusnya:

1. Semangat berusaha wargakota Yogyakarta untuk breprestasi secara maksimum dalam pendidikan tidak muncul karena merasa dengan usaha sedang-sedang saja alias secukupnya sudah bisa mendapatkan sekolah lanjutan yang relatif baik. Hal ini secara jangka panjang akan membahayakan karena kalau nantinya berhadapan dengan situasi yang berupa persaingan terbuka secara fair, tanpa proteksi, tanpa kuota, entah secara nasional atau internasional, kemungkinan besar wargakota ini tidak sanggup mengikuti atau menghadapinya secara fight. Sangat mungkin melahirkan sifat yang selalu ingin ada proteksi, perkecualian, prioritas. Mengerikan deh, tidak sanggup bersaing secara bebas dan fair (kecenderungan berikutnya ingin KKN terus), berarti kegagalan pada tingkat pendidikan berikutnya sudah di depan mata! Dan ini sumbangan negatif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk wargakotanya sendiri (Tanggungjawab siapa ini?).  

2. Sangat mungkin setelah masuk di lembaga pendidikan lanjutan yang diinginkan juga tidak terpacu untuk berprestasi dengan optimum, karena rekan-rekan satu sekolahan umumnya juga merupakan produk kuota/proteksionisme.

Plus minus untuk sekolah-sekolah di Kota Yogyakarta:

A. Plusnya:

1. Sebenarnya relatif tidak ada. Hanya sangat mungkin untuk sekolah-sekolah yang level bawah kecenderungannya lebih enak, tanpa usaha yang keras dan inovasi macam-macam kemungkinan dapat siswa dari kota yogyakarta (juga subsidi dari Pemkot) tetap lancar. Nggak perlu repot-repot menaikkan kualitas pendidikannya. Juga kalau yang SMP enak juga, karena lulusannya kalau masuk SMA Kota juga masih berpeluang besar karena ada proteksi (kuota), artinya nanti dengan nilai apa adanya masih lancar melanjutkan SMA di kota. Sehingga tanggung jawab kualitas lulusan sekolah (SMP) tidak terasa membebani para guru-guru SMP itu.

B. Minusnya:  

1. Kualitas masukannya terbatas (pasti tidak setinggi kalau tanpa kuota) sehingga proses pendidikannya perlu usaha yang keras. Calon-calon yang berkualitas dari luar kota yogyakarta dan luar DIY sedikit yang dapat masuk, sehingga tingkat persaingan usaha belajar di sekolah itu juga pasti relatif rendah, akibatnya kualitas lulusannya juga pasti tidak maksimum.

2. Dengan terbatasnya warga luar kota yogyakarta yang masuk di sekolah kota yogyakarta maka kemungkinan mendapatkan dukungan pengembangan pendidikan (finansial) untuk sekolah itu (dari oranggtua siswa) makin berkurang, karena harus diakui dan disadari bahwa seperti di daerah-daerah lain, di DIY sudah banyak penduduk kelas menengah ke atas yang memilih bertempat tinggal untuk keluarganya di luar kota Yogyakarta (Sleman atau Bantul, yang juga tidak jauh dari pinggiran Kota Yogyakarta).

3. Sekolah-sekolah favorit yang selama ini memiliki tradisi prestasi yang baik pasti akan melorot kualitasnya, karena harus memenuhi kuota warga kota yang belum tentu tinggi kualitasnya seperti yang diharapkan, jadi mau nggak mau sekolah ini tidak sepenuhnya menerima peserta didik baru atas dasar prestasi kemampuan/nilai.

4. Untuk lembaga pendidikan SMA sangat kasihan, karena nantinya lulusannnya kalau masuk perguruan tinggi yang baik tidak akan bisa maksimum bersaing dengan lulusan-lulusan SMA dari kota lainnya yang nggak pakai kuota-kuotaan yang sudah punya mental bersaing terus menerus. Indikasi ini lihat saja pada SMA-SMA yang dianggap baik berapa % lulusannya yang terserap langsung dan murni ke perguruan tinggi baik (UGM, ITB misalnya) yang melalu Ujian Masuk (UM), bukan swadaya yang cenderung beradu berdasar besarnya jumlah sumbangan.  

Plus minus untuk Pemerintah Kota Yogyakarta:

A. Plusnya:

1. Dapat membanggakan diri bahwa PAD dikembalikan manfaatnya (seolah-olah) ke wargakota Yogyakarta. Jadi sepertinya pro wargakota Yogyakarta, karena dapat menyediakan kesempatan pendidikan yang murah dan cukup bagi warganya.

B. Minusnya:

1. Patut diduga mendapat tanggapan negatif secara regional maupun nasional karena menghalangi/mengurangi kesempatan warganegara Indonesia lainnya untuk mendapatkan kesempatan pendidikan secara fair (tanpa kuota-kuotaan) dimanapun di seluruh daerah di Indonesia. Kesannya diskriminatif.

2. Atribut Yogyakarta sebagai kota pendidikan lama-lama mati dan hilang karena sudah tidak menjadi tujuan untuk melanjutkan pendidikan bagi warga luar kota Yogyakarta. Lama kelamaan perguruan tinggi yang banyak tersebar di Yogyakarta akan terkena imbasnya semakin sulit mendapatkan calon mahasiswa baru, kalaupun dapat kualitasnya tidak seperti yang diharapkan.

3. Secara ekonomi Yogyakarta akan merosot dari sisi pendapatan karena keluarga-keluarga yang mampu dari luar DIY sudah tidak memiliki keinginan menyekolahkan/mengkuliahkan anaknya di Yogyakarta (sekarang ini kampus banyak lho, bukan hanya UGM, mereka mulai berbenah diri), sehingga pengeluaran mereka (yang umumnya punya kemampuan finansial lebih dari cukup) tidak dapat dinikmati pengusaha/wargakota Yogyakarta, tidak ada pemasukan secara ekonomi bagi pemerintah daerah Yogyakarta (kota dan DIY).

4. Kependudukan Kota Yogyakarta pasti semakin tidak valid karena banyak warga dadakan, penebengan pada KK, entah dengan cara resmi ataupun tidak resmi.

Plus minus untuk Warga di luar Kota Yogyakarta:

A. Plusnya:

1. Mereka memacu prestasi pendidikan semaksimum mungkin agar tetap dapat lolos masuk di sekolah-sekolah Kota Yogyakarta yang dianggap baik (tidak semuanya lho) meskipun dengan kuota kecil. Semangat berusaha, belajar dan bersaing mereka meningkat dengan cara yang baik.

B. Minusnya:

1. Untuk menghindari kuota kecil, sekaligus dapat masuk pada kuota yang besar (kalau sebagai wargakota yogyakarta), mereka mencari peluang dengan cara apapun, termasuk cari KK dadakan, nebeng KK siapapun agar seolah-olah sebagai warga kota Yogyakarta, biar bisa lolos masuk di sekolah-sekolah Kota Yogyakarta yang dianggap baik, meskipun nilai-nilainya pas-pasan. Apalagi Pemerintah kota Yogyakarta tampaknya tidak peduli dengan cara-cara negatif demikian, yang penting formalitas dapat menunjukkan bukti sebagai warga kota Yogyakarta (formalitas, sekali lagi ini konsep berfikir pemerintah yang formalitas belaka, bukan substansial). Justru substansinya tampak sekali mendorong warga negara Indonesia untuk mau selalu mencari jalan negatif, bahkan dalam ranah pendidikan, prihatin sekali. Bukan semangat berusaha, belajar dan bersaing secara positif yang diutamakan.

Begitulah pandangan saya. Saya sedih dan prihatin kok masih ada yang berpikir, bertindak, dan membuat keputusan yang sifatnya proteksionisme sempit, yang hanya menghancurkan kualitas hidup manusia Indonesia masa depan, karena nanti yang muncul (sangat mungkin) generasi kuota, generasi manja, generasi nggandol terus, nggak berani berusaha, nggak berani bersaing secara fair dan positif.

Bagaimana menurut anda?

GMR: Polusi air industri Indonesia ……

In climate, country, e-goverment, emisi, global, iKlim, indeks, indonesia, informasi, peace, polusi, rank, risk, tEknologi iNformasi, teknologi on Monday , 23 June 2008 at 7:27 AM

Ketika harus menepi

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, tEknologi iNformasi on Monday , 23 June 2008 at 7:19 AM

logoku

 

 

Ketika berjalan, haruskah di tengah?

Ketika berjalan dan perlahan, haruskah di tengah?

Ketika berjalan, perlahan dan tidak setara pejalan lain, haruskah di tengah?

Aku memahami ini sebagai kehidupan.

Berjalanlah kita dalam kemampuan kita.

Berjalanlah kita dalam jangkauan kita.

Mengikuti pejalan lain, setarakah diri kita?

Mari merenung.

Tidak harus berjalan perlahan, seterusnya mesti perlahan.

Dan, tidak semestinya memaksakan percepatan,

sementara modal kita adalah lamban, malas, bolot, korup, semaunya,

dan macam-macam lagi yang penuh perilaku minus sekaligus dengki.

Jadi, ubah dulu diri kita masing-masing:

otak kita, hati nurani kita, semangat kita, harapan kita, dan sejenisnya

baru bicara,

berjalan cepat, berjalan setara, bersaing dengan pejalan lain

Jadi, kalau harus menepi dulu, menepilah

menepi untuk merekonstruksi harapan

menepi untuk mereformasi perilaku

menepi untuk menguatkan jari, kaki, fisik kita keseluruhan

menepi bukan untuk kalah, tetapi menepi untuk mengisi diri

menyiapkan esok yang lebih baik …..

sementara, dan sementara

aku dan anda, kita semestinya memahami dari cermin yang sama:

berjalan tidak harus di jalan tengah sekarang!

Polling Edisi II: Nyamankah anda di Indonesia Tahun 2008?

In aNak, damai, global, indonesia, informasi, peace, pers, rank, ranking, risk, survai, tEknologi iNformasi on Friday , 13 June 2008 at 4:07 AM

Betulkah begitu saudara-saudara? Mari kita instropeksi diri kita masing-masing dalam memahami hubungan warganegara dengan negara, dan warganegara dengan warganegara.

Anggaran militer negara-negara di dunia Tahun 2008, Indonesia ranking 33

In anggaran, country, damai, global, index, informasi, kOmputer, militer, money, peace, rank, ranking, risiko, risk, saing, tEknologi iNformasi, teknologi on Friday , 13 June 2008 at 3:50 AM

“Of all the enemies to public liberty war is, perhaps, the most to be dreaded because it comprises and develops the germ of every other. War is the parent of armies; from these proceed debts and taxes … known instruments for bringing the many under the domination of the few.… No nation could preserve its freedom in the midst of continual warfare” [James Madison, Political Observations, 1795].

Memperhatikan anggaran militer negara-negara di dunia tentu cukup menggelitik kita semua. Bagaimanapun besarnya anggaran militer itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi negara tersebut, sekaligus merefleksikan tingkat potensi ancaman yang harus dihadapi negara tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia? Anggaran militer Indonesia tampak terlihat super kecil diantara negara-negara di dunia, meskipun secara prosentase terhadap APBN masuk ranking 33 dengan nilai sebesar 3.6 juta US dollar, tetapi sebenarnya itu baru 0.24% dari APBN. Coba bandingkan dengan yang ranking 1 yaitu Amerika Serikat, anggaran militernya sebesar 711 juta US dollar atau 48.28% dari APBN, sedangkan negara yang masuk ranking 2 adalah China dengan anggaran militer sebesar 121.9 US Dollar atau 8.28% dari APBN.

Jadi, bagi warganegara Indonesia dengan anggaran militer sebesar itu sudahkah merasa aman? Ah, kembali ke kesadaran kita sendiri dalam melihat posisi negara kita dan negara-negara sekitarnya, lihat saja tabel berikut.


Sumber tulisan ini adalah U.S. Military Spending vs. the World dan Center for Arms Control and Non-Proliferation, February 22, 2008.

Mencuci memang harus dengan air bersih

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 13 June 2008 at 12:42 AM

logoku

Mencuci adalah suatu pekerjaan yang bertujuan untuk menghasilkan objek yang mempunyai keadaan menjadi lebih bersih. Nah, mungkinkah mencuci suatu objek dengan air yang kotor? Ah, kita pasti punya jawaban sama. Jadi secara eksaki harus kita yakini bahwa mencuci objek apapun harus dengan air bersih. Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bagaimana mungkin kita meletakkan harapan kondisi negara dan bangsa ini agar lebih baik kepada orang-orang yang nggak bersih? Oh, imposible.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Sederhana saja. Kalau ada proses pemilihan ataupun seleksi tokoh maupun pimpinan dalam level apapun ( tingkat kampung sampai tingkat nasional) marilah anda dan kita (semuanya) yang mempunyai hak menggunakan haknya secara proaktif dan benar-benar sesuai harapan, serta betul-betul memilih orang-orang yang bersih, punya kapabilitas dan potensial membawa yang dipimpin ke arah yang lebih baik. Jangan mudah terjebak penampilan, janji-janji dan bunga-bunga yang membuai otak, hati dan emosional kita. Cermatilah track recordnya selama ini dengan melihat dan menelusuri fakta-fakta dan data-data orang bersangkutan, termasuk keluarganya. Jangan beli karung dalam kucing, eh kebalik ya.

Begitu mungkin salah satu upaya sederhana. Masih banyak upaya lain yang bisa dilakukan ….. yang utama tetap diingat: mencucilah dengan air yang bersih. Benar-benar bersih secara kualitas, dan airnyapun diperoleh secara baik-baik, bukan dari mencuri!

Begitu khan saudara-saudara?  

Model operasional dalam operasi informasi

In bLog, eKsekutif, eValuasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, mAteri kUliah, militer, pEndidikan, pErtahanan, tEknologi iNformasi on Thursday , 12 June 2008 at 1:32 AM

logoku

Dalam melaksanakan operasi informasi, terdapat suatu model operasional yang umum dilakukan dengan mendasarkan pada level serangan dan target yang hendak dicapai. Model operasional dalam operasi informasi dapat digambarkan sebagai berikut:

model ops oi

Terlihat khan bagaimana tingkat pengaruh serangan yang diiinginkan?
Bagaimana menurut anda?

Anda bukan organisator sejati

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, iSlam, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Wednesday , 11 June 2008 at 2:34 AM

logoku

Banyak sekali organisasi di Indonesia (entah kemahasiswaan, sosial, politik, pemerintahan, tingkat kampung, dan lainnya) yang nggak beres jalan dan kiprahnya. Hal ini disebabkan organisasi itu diawaki oleh manusia-manusia yang nggak faham cara dan manajemen berorganisasi, tetapi merasa hebat dan benar terus dalam bertindak dalam konteks berorganisasi. Ciri-ciri manusia yang bukan organisator sejati sebagai berikut (semoga anda yang membaca tulisan ini nggak termasuk kategori ini) :

1. Menjungkirbalikkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. Artinya gampang sekali bagi manusia ini untuk melewati, mengabaikan, menabrak, mengganti dan memporakporandakan ketentuan-ketentuan apapun yang legal bagi organisasi itu demi kemauan dan kepentingan sendiri.

2. Hasil rapat organisasi yang nyata legal nggak dipatuhi. Artinya keputusan yang telah diambil suatu organisasi dari acara rapat (sejenisnya) yang masuk quorum dan legal, apapun itu, harusnya dipatuhi oleh anggota organisasi itu secara konsisten. Meskipun dalam rapat, ide, saran ataupun pendapat semua anggota organisasi tidak dapat diakomodasi dalam keputusan organisasi, tetap saja semua harus patuh. Tetapi organisator palsu biasanya nggak mau itu, gagal mempengaruhi keputusan organisasi, biasanya mbalela di luar organisasi. Ngomong atas nama organisasi, tetapi sebenarnya menurut kemauan dan kepentingan pribadi.

3. Gampang bikin organisasi baru yang sejenis. Biasanya begitu, kalau kalah dalam pengaruh di internal organisasi, terus bikin organisasi tandingan. Wow, dasar organisator palsu ya begitu, mempunyai cara destruktif dan tidak simpatik dalam berorganisasi, mengapa tidak berjuang lebih keras dalam organisasi aslinya saja? Kadang-kadang juga loncat ke organisasi lainnya yang jadi partner atau pesaing sebelumnya. Ini kutu loncat namanya! Memang bikin organisasi yang kredibel gampang?

4. Nggak legawa dengan pemimpin organisasi yang baru. Ini terjadi pada organisator yang mengalami post power sindrome. Wong jelas-jelas sudah ada pemimpin baru di organisasi itu, kok masih mengatasnamakan organisasi yang pernah dipimpinnya dalam berpendapat dan beraktivitas di berbagai kegiatan di luar, bahkan memanfaatkan fasilitas dan simbol-simbol organisasi itu untuk kepentingan sendiri secara nyata. Bahkan kejadian pada suatu organisasi besar di Indonesia, karena melekatnya sang tokoh itu dengan organisasi yang pernah dipimpinnya, sampai ada lelucon begini: Kalau ada yang nanya, siapa sih Ketua umum Organisasi X itu?  Jawabannya, pak Y. Lho, bukankah sekarang organisasi itu dipimpin pak Z?  Wow, boleh juga, tetapi pada dasarnya Pak Y itu ketuanya, sedangkan pak Z itu penggantinya. Sampai terjadi begitu saudara, karena saking kebangetennya sang organisator itu punya sifat tidak legawanya.

5. Sering memaksakan kehendak untuk membubarkan organisasi lain yang tidak disukai. Siapapun boleh untuk mengecam, membenci sekalipun atau tidak suka dengan personal-personal suatu organisasi yang karena perilakunya mungkin dianggap cenderung menggunakan kekerasan atau nggak etis dalam menjalankan aktivitas organisasi, tetapi rasa benci ataupun rasa tidak suka semestinya tidak harus diarahkan untuk membubarkan organisasi itu. Hak berorganisasi itu dilindungi konstitusi dan merupakan hak azasi manusia. Jadi kalau ada yang menginginkan bubarnya suatu organisasi lain yang dianggap nggak benar, dengan menekan, mengancam apalagi dengan tindak kekerasan, lalu apa bedanya perilaku manusia-manusia demikian dengan perilaku aktivis organisasi yang nggak disukai itu. Sebenarnya simpel saja, kalau nggak suka pada suatu organisasi apapun ya carilah celah hukum (sekali lagi lewat jalur konstitusi/hukum!) yang memungkinkan untuk membubarkan organisasi itu. Apalagi kalau organisasi itu juga legal, nggak sembarangan seperti model gang motor begitu. Jadi, jelas kalau bukan organisator sejati pasti mengedepankan emosi dan kuat-kuatan fisik yang primitif dalam bertindak dan berhadapan dengan organisasi lain.

6. Nggak tahu diri dengan skala organisasi. Seringkali saya tertawa sendiri, ada manusia yang nggak tahu diri dengan kapasitas dan kekuatan pribadinya. Coba dipikir, untuk berkiprah dalam organisasi yang levelnya dibawah organisasi negara saja nggak mampu menjalankan dengan baik, bahkan organisasinya amburadul, penuh intrik, pepecahan, slinthutan dan bermasalah, kok mau menjangkau ke skala organisasi lebih besar (tingkat negara), bagaimana itu? Ini benar-benar nggak tahu diri. Rusaklah negara ini kalau dipimpin orang macam ini. Organisator palsu kalau sampai memimpin negara dengan ratusan juta manusia tentu berbahaya dan membahayakan. Logikanya memimpin organisasi kecil saja nggak becus kok mau memimpin organisasi yang lebih besar. Wah wah, mengerikan!     

Masih banyak sebenarnya, lain kali disambung ya ….

Mungkin anda ada pengalaman dan melihat ciri-ciri organisator palsu yang lain? Kirim saja sekarang ……..

Peta kebebasan pers 2008, Indonesia masuk kelompok tengah lho …

In country, daya, e-goverment, global, index, indonesia, informasi, kOmputer, pers, rank, risk, survai on Tuesday , 10 June 2008 at 8:49 AM

Peta kebebasan pers merupakan refleksi temuan-temuan dari penelitian Freedom House dengan judul Freedom of the Press 2008: A Global Survey of Media Independence di 195 negara dan teritorial selama tahun 2007.Berdasarkan rating ini, negara-negara di dunia diklasifikasikan sebagai Free, Partly Free, atau Not Free.

Sistem rating didesain untuk menggambarkan beragam cara dalam mana adanya tekanan-tekanan pada arus informasi dan kemampuan dalam mencetak, menyiarkan dan memberitakan lewat internet untuk menunjukkan tingkat kebebasan dan tanpa rasa takut terhadap tindakan represif. Penelitian ini juga melihat tingkat ketersediaan aneka informasi dan berita untuk publik di negara-negara dunia, dari sumber-sumber lokal maupun transnasional. Kriteria meliputi : lingkungan hukum tempat media beroperasi ; tingkat kontrol politis atas media pemberitaan ; tekanan ekonomi terhadap isi media ; kekerasan terhadap kebebasan pers dari mulai pembunuhan jurnalis hingga tindakan di luar hukum dan pelecehan oleh negara bmaupun aktor bukan negara. Freedom House adalah LSM independen yang memonitor kebebasan pers di dunia sejak tahun 1980.

Nah, coba cek Indonesia ditampilkan dengan warna apa di peta kebebasan pers itu? Lalu cocokkan dengan indikator warna yang ada di bawah peta. Oh, Indonesia baru di tengah ya ….. Jadi, kita harus banyak bekerja keras dan berusaha menuju ke arah kebebasan pers (yang bertanggungjawab, mestinya!).
Untuk informasi selengkapnya silakan kunjungi http://www.freedomhouse.org/

Skor konektivitas, Indonesia mana?

In country, daya, e-goverment, global, ict, index, indonesia, informasi, kOmputer, rank, ranking, risiko, survai, tEknologi iNformasi, teknologi on Tuesday , 10 June 2008 at 8:23 AM

Skor konektivitas adalah perintis perankingan teknologi komunikasi dan informasi (ICT) global yang mengukur keseluruhan pengguna, pebisnis dan pemerintahan dalam menggunakan teknologi konektivitas untuk bidang ekonomi dan sosial. Hal ini tidak seperti penelitian yang sudah ada, skor konektivitas mengukur kemanfaatan dan ketrampilan apa adanya, penggunaan software institusi dan aksesibilitas perempuan terhadap ICT. Hal ini juga mengartikulasikan keuntungan konektivitas secara eksplisit dalam kontribusinya terhadap bidang ekonomi dan sosial sesuai kebutuhan masing-masing negara. Pertumbuhan ekonomi didorong oleh inovasi bidang ekonomi yang tergantung pada penggunaan konektivitas, dimana efisiensi dan sumber daya dalam mendorong pengembangan sosial ekonomi memainkan peran penting untuk mendapatkan yang terbaik dari investasi konektivitas. Coba perhatikan tabel berikut yang menunjukkan tingkat skor konektivitas dari beberapa negara di dunia sebagai ukuran bagaimana pengembangan ekonomi dan sosial dipengaruhi oleh inovasi, efisiensi dan pemanfaatan sumber daya.


Lha, Indonesia mana? Tak tahulah saya, tetapi kalau anda mau menelusuri penelitian ini lebih lanjut coba kunjungi

http://www.connectivityscorecard.org/?utm_source=nsn-inter&utm_medium=banner&utm_content=content&utm_campaign=csmicro.

Yang jelas, penelitian mereka menunjukkan bahwa bahkan untuk negara-negara yang mempunyai konektivitas terbaik seperti Amerika Serikat dan Swedia ternyata tidak mengeksploatasi ICT secara maksimum sesuai potensi yang dipunyai.

Kata tokoh tentang informasi

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, hAm, iSlam, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 6 June 2008 at 8:02 AM

logoku

“Pengetahuan yang tidak sempurna mengenai situasi dapat membuat aksi militer terhenti”.Clausewitz

“Informasi inheren (melekat) dalam peperangan”. Sun Tzu

Informasi  memang tidak akan pernah memenangkan perang, namun apabila tidak menguasai dan tidak mampu mengendalikan informasi, maka pertempuran tidak akan pernah kita menangi”. Anonymus

HDR 2007/2008 : Indonesia ranking 14 penghasil emisi karbon

In climate, country, emisi, global, iKlim, indonesia, informasi, rank, ranking, risiko, risk, teknologi on Thursday , 5 June 2008 at 5:34 AM

UNDP (United Nations Development Programme) telah menerbitkan Human Development Report 2007/2008 dengan tema Menghadapi Perubahan Iklim: Solidaritas Manusia di dalam Dunia yang Terbagi. Apa isinya? Salah satunya terpampang data negara-negara penghasil CO2 (emisi karbon). Indonesia ranking berapakah? Ternyata ada di posisi 14. Data selengkapnya lihat saja pada tabel berikut.

Ingin tahu Peringkat Indonesia bidang apa?

In country, indonesia, informasi, kOmputer, polling, ranking, risk, saing, survai on Thursday , 5 June 2008 at 5:27 AM

Minggu lalu telah dipasang polling dengan pertanyaan, “Anda ingin tahu Peringkat Indonesia bidang apa?” dengan pilihan jawaban:
a. Ekonomi
b. Politik
c. Hukum
d. Iptek

Jawaban pengunjung weblog ternyata menunjukkan bahwa:
75% ingin tahu bidang politik.
25% ingin tahu bidang hukum.

Apakah nggak ada yang ingin tahu Peringkat Indonesia bidang ekonomi dan Iptek ya?
Mungkin sudah “capek” dengan kondisi sekarang ya …..

Mau 90 ribu dalam semenit

In aNak, bBm, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iKlan, iKlim, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Thursday , 5 June 2008 at 3:42 AM

————————————————————

Peluang untuk anda ….. Mau 90 ribu dalam semenit?

Kunjungi http://indorank.blogspot.com/2008_05_25_archive.html

Hanya Melalui Internet Penghasilan Tambahan Sekejap Mata!

Anda tinggal klik kesempatan itu.

Atau?

Ingin tahu ranking perguruan tinggi? Looking For College Ranking?

Visit Top College Ranking Sites melalui

http://indorank.blogspot.com/2008_05_25_archive.html juga.

——————————————-iklan————-  

Perlukah berhenti?

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, hAm, hIdup, iNtermezo, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Wednesday , 4 June 2008 at 5:29 AM

logoku

Saya baru berdiskusi ringan dengan rekan kerja. Intinya simple tetapi kalau berdasarkan aturan-aturan hukum, sosial, etika, keamanan dan perilaku kewarganegaraan, jadi susah jawabnya.

Permasalahannya adalah “Pada waktu kita naik kendaraan di jalanan umum pada pukul sekitar 02.00 pagi buta, kalau pas melewati lampu stopan yang lagi berwarna merah dan kendaraan dari arah lain tidak ada sama sekali, perlukah kita berhenti?

Untuk hal ini, saya pikir banyak sisi yang bisa ditelaah. Memang sih kalau secara hukum lalu lintas, lampu menyala merah seharusnya semua kendaraan harus mengikuti ketentuan, stop alias berhenti. Tetapi, pada jam seperti itu sikap disiplin (yang mati) dan kepatuhan tinggi pada aturan apakah tidak menimbulkan kerawanan? Bagaimanakah kalau tiba-tiba muncul preman menggedor-gedor kendaraan? Jadi, harusnya bagaimana? Tetap jalan, begitu? Bagaimana kalau tiba-tiba dari arah lain, ada pengemudi kendaraan yang berfikiran “ah, mumpung masih pagi, terobos saja” pasti bahaya khan?

Jadi menurut anda seharusnya bagaimana?

Tanggapan anda, energi buat saya

In bLog, eValuasi, kEwarganegaraan, kOmputer, mAnajemen, mAteri kUliah, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, tEknologi iNformasi on Monday , 2 June 2008 at 5:49 AM

logoku

Apapun yang telah ditulis oleh pengunjung weblog saya adalah energi yang
sangat berarti (karena harga energi sekarang khan mahal!), pendorong dan
amunisi inspirasi tak terkira. Untuk itu makasih bagi anda yang telah
mengunjungi weblog saya (dan saya menunggu kunjungan anda berikutnya!)
seraya terus menyempurnakan tampilan dan contens weblog saya, dengan
harapan semakin hari semakin menggigit dan bermanfaat bagi banyak orang.
Berikut ini beberapa tanggapan pengunjung weblog saya
www.mardoto.wordpress.com dan www.indorank.blogspot.com
1.   “Saya sudah membaca artikel yg terpampang di front page
mardoto.wordpress.com. Dari situ saya bisa menyimpulkan bahwa artikel
yang ada di sana tidak jelek, cukup bagus malah. Namun sayangnya masih
belum cukup membuat saya tertarik untuk mengunjunginya lagi.
Percayalah, saya sudah menekan subyektifitas saya semaksimal mungkin.
Blog yang banyak dikunjungi adalah blog yang memberikan banyak
manfaat bagi pembacanya dan biasanya mengkhususkan diri pada satu hal
tertentu saja, misalnya blog tentang tutorial java, blog berita ekonomi dan
bisnis. So, tinggal mencari bagian dari diri Anda yang dirasa paling
bermanfaat bagi orang lain dan menuliskannya di blog. Semoga saran saya
bermanfaat. Selamat berblog ria.”
2.   “Saya mendapat link bapak dari mail mti.Wah, kalo semua petinggi2
punya blog seperti ini......”
3.   “Saya sudah lihat website bapak di wordpress dan blogspot. Pandangan
saya tentang website bapak adalah:
a. yang di blogspot kelihatannya ada sintax yg error ketika saya buka di
halaman atas muncul kode html.
b. saya belum melihat keseluruhan isi materi situs bpk, namun menurut
saya kedua situs tersebut terlalu penuh dengan text, sebaiknya di halaman
utama tidak ditampilkan text secara penuh (tampilkan sebagian saja lalu
diberi link jika ingin melihat informasi selengkapnya). jika bapak
memanfaatkan teknik highlighting untuk informasi2 yg penting akan
terasa lebih menarik. saran saya diberi sebuah gambar ilustrasi yg ada
hub dengan informasi tsb akan terasa lebih menarik.
c. sebagai referensi ada situs blog yang saya sukai,
http://romisatriowahono.net
d. tp ada satuhal kelebihan bpk dr saya., saya blum punya blog pribadi yg
update seperti punya bpk....”
4.   “Informatif but yang di blogspot ada code css yang keluar ........ yang
wordpress dah cools”
Wah makasih ya buat semuanya. Anda masih punya saran-saran lain?
Saya tak akan jemu-jemu menerimanya. Kirim aja ...

2007 Global Peace Index rankings, Indonesia damai?

In country, damai, global, indeks, index, indonesia, informasi, peace, rank, ranking, risk, saing, tEknologi iNformasi, teknologi on Monday , 2 June 2008 at 3:31 AM

The Global Peace Index menunjukkan ukuran relatif tingkat kedamaian dari suatu negara atau regional. Digagas oleh the Economist, panel kelompok pakar internasional dari institusi-institusi perdamaian dan lembaga pemikirnya, bersama dengan the Centre for Peace and Conflict Studies, University of Sydney, Australia. Daftar ini diluncurkan pada bulan Mei 2007.

Faktor-faktor yang diteliti meliputi faktor internal semacam tingkat pembunuhan dan kejahatan serta faktor eksternal terkait seperti adanya sepak terjang militer dan peperangan. Coba kita perhatikan, Indonesia berada di ranking berapa hayo? Sudah damaikan negara ini? Andalah yang merasakan (Saya juga) . Bandingkan juga dengan negara tetangga.

Lihatlah peta kedamaian global berikut:

Berikut secara berturut-turut menunjukkan ranking, negara dan skor.

1. Norway 1.357 ; 2. New Zealand 1.363 ; 3. Denmark 1.377 ; 4. Ireland 1.396 ; 5. Japan 1.413 ; 6. Finland 1.447 ; 7. Sweden 1.478 ; 8. Canada 1.481 ; 9. Portugal 1.481 ; 10. Austria 1.483 ; 11. Belgium 1.498 ; 12. Germany 1.523 ; 13. Czech Republic 1.524 ; 14. Switzerland 1.526 ; 15. Slovenia 1.539 ; 16. Chile 1.568 ; 17. Slovakia 1.571 ; 18. Hungary 1.575 ; 19. Bhutan 1.611 ; 20. Netherlands 1.620

21. Spain 1.633 ; 22. Oman 1.641 ; 23. Hong Kong 1.657 ; 24. Uruguay 1.661 ; 25. Australia 1.664 ; 26. Romania 1.682 ; 27. Poland 1.683 ; 28. Estonia 1.684 ; 29. Singapore 1.692 ; 30. Qatar 1.702 ; 31. Costa Rica 1.702 ; 32. South Korea 1.719 ; 33. Italy 1.724 ; 34. France (exc. overseas France) 1.729 ; 35. Vietnam 1.729 ; 36. Taiwan 1.731 ; 37. Malaysia 1.744 ; 38. United Arab Emirates 1.747 ; 39. Tunisia 1.762 ; 40. Ghana 1.765

41. sampai dengan 60. tidak ditampilkan (kalau anda membutuhkan, kirim email saja ke pengelola www.indorank.blogspot.com)

61. Kazakhstan 1.995 ; 62. Bahrain 1.995 ; 63. Jordan 1.997 ; 64. Namibia 2.003 ; 65. Senegal 2.017 ; 66. Nicaragua 2.020 ; 67. Croatia 2.030 ; 68. Malawi 2.038 ; 69. Bolivia 2.052 ; 70. Peru 2.056 ; 71. Guinea 2.059 ; 72. Moldova 2.059 ; 73. Egypt 2.068 ; 74. Dominican Republic 2.071 ; 75. Bosnia and Herzegovina 2.089 ; 76. Cameroon 2.093 ; 77. Syria 2.106 ; 78. Indonesia 2.111 ; 79. Mexico 2.125 ; 80. Ukraine 2.150

81. sampai dengan 99. tidak ditampilkan (kalau anda membutuhkan, kirim email saja ke pengelola www.indorank.blogspot.com)

100. Philippines 2.428 ; 101. Azerbaijan 2.448 ; 102. Venezuela 2.453 ; 103. Ethiopia 2.479 ; 104. Uganda 2.489 ; 105. Thailand 2.491 ; 106. Zimbabwe 2.495 ; 107. Algeria 2.503 ; 108. Myanmar 2.524 ; 109. India 2.530 ; 110. Uzbekistan 2.542 ; 111. Sri Lanka 2.575 ; 112. Angola 2.587 ; 113. Cote d’Ivoire 2.638 ; 114. Lebanon 2.662 ; 115. Pakistan 2.697 ; 116. Colombia 2.770 ; 117. Nigeria 2.898 ; 118. Russia 2.903 ; 119. Israel 3.033 ; 120. Sudan 3.182 ; 121. Iraq 3.437

Bagaimana tanggapan anda?

Sinergi KPK dengan Mahasiswa, mengapa tidak?

In bBm, dEmokrasi, eKsekutif, hAm, hIdup, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Monday , 2 June 2008 at 3:05 AM

logoku

Geram juga saya melihat KPK masih menemukan banyak tikus negara dan
virus bangsa yang saya yakin membuat dan mengakibatkan rakyat Indonesia
kebanyakan kena efek penyakitnya, sengsara.  Terakhir di Bea Cukai dapat
dirazia uang ratusan juta ilegal hasil “kongkalikong” aparat disana dengan
person-person yang mau ngurus dokumen bea cukai. Kebangeten. Rakyat
dan negara sudah begini kondisinya ternyata masih ada yang nekat
“berpesta” semaunya, yang ujung-ujungnya mengakibatkan high cost
economy. Kalau untuk ekspor berarti mendongkrak harga jual produk
Indonesia sehingga kalah bersaing dengan produk luar negeri di pasaran
internasional, kalau impor tentu mengakibatkan harga produk impor itu
dijual dengan bandrol mahal, sehingga rakyat (swasta dalam negeri)
sebagai konsumen yang harus menanggung biaya tinggi tersebut.
Bagaimana kalau produk impor itu barang penting? Primer? Wah tentu
harganya makin melangit. Belum lagi soal ini bisa berakibat pada “selisih
pajak” yang masuk negara. Wis, memang edan betul. Ini baru satu
instansi, belum instansi lain-lainnya ….. Oalah!
Tapi harus diamkah kita untuk semua ini? Tentu harus kita dukung KPK
biar semakin kuat dan tidak mudah terintervensi oleh siapapun.
Bagaimana caranya? Jangan lupa kita sebenarnya punya SDM yang
masih segar, relatif tidak terkontaminasi, dan punya idealisme. Siapa
itu? Mahasiswa Indonesia. Lihatlah pada saat demo-demo kenaikan
BBM, mereka begitu powerfull dan energik. Memang ada yang
kebablasan, cenderung anarkis dan brutal. Bahkan disinyalir ada yang
menunggangi. Tapi okelah, itu riak-riak demokrasi, dan virus-virus
ikutan dalam kebebasan, yang jelas sebagian besar mahasiswa itu
saya lihat masih waras dan terkontrol. Nah, kalau kita menempatkan
mereka benar-benar sebagai agents of changes, mengapa tidak
digunakan kemampuan dan idealisme mereka? Ya, kawinkan saja
profesionalisme KPK dengan semangat mahasiswa untuk perbaikan
negara dan bangsa ini. Untuk apa? Ganyang korupsi! Saya yakin
sinergi antar mereka menjadi kekuatan dahsyat!
Caranya, minta saja BEM-BEM perguruan tinggi untuk menyetor nama
para mahasiswa di kampus mereka yang tergolong berkualitas, secara
akademik, mental kepribadian terukur dan aktivis murni. Ambil saja
yang tinggal 2 atau 3 semester kuliahnya selesai. Seleksi secara ketat
tentang profesionalisme dan komitmennya untuk pemberantasan
korupsi dan menambah kekuatan tim-tim KPK. Saya yakin dengan
pola ini akan makin cepat pemberantasan korupsi, apalagi setelah
mereka dibekali dengan pendidikan/kursus yang cukup untuk
melakukan tugas-tugas seperti yang diemban KPK. Sebagai
imbangannya, berilah mereka salary yang proporsional sebagai kaum
profesional dan aman dari godaan. Untuk melengkapi strategi ini
tentu harus ada aturan-aturan penindakan korupsi yang lebih
progresif, dan tentu saja control ketat, jangan sampai petugas-
petugas KPK dari tokoh-tokoh mahasiswa ini melempem di jalan dan
luntur setelah berhadapan dengan uang.
Bagaimana komentar anda?