Senin, 28 Juli 2008, saya hadir sebagai undangan dalam acara sambungrasa dan makan malam bersama wisudawan purnawira Perwira Tinggi TNI AU di Gedung Handrawina Akademi Angkatan Udara Yogyakarta. Setidaknya ada 31 perwira tinggi TNI AU yang akan mengikuti acara wisuda purnawira esok hari hadir di acara itu, salah satunya adalah mantan Panglima TNI, Marsekal Pur Djoko Suyanto.
Ada hal-hal yang patut disimak dan dijadikan bahan pembelajaran dari kesan dan pesan yang disampaikan Marsekal Djoko dalam acara itu, yaitu bahwa setidaknya terdapat dua hal yang dijadikan pegangan beliau selama menjabat Panglima TNI. Yang pertama tidak memalukan sumber (asal) beliau hingga bisa menjadi panglima. Disini yang dimaksud adalah TNI AU, karena beliau bisa jadi panglima melalui pengabdian dan dedikasi yang tinggi lewat TNI AU. Yang kedua adalah tidak memalukan yang memberi perintah/amanah. Tentu saja yang dimaksud disini adalah Presiden SBY. Meskipun kita fahami amanah jabatan itu pun atas kehendak Allah SWT. Jadi betapa tingginya beliau memahami tentang jabatan yang diembannya dari dua sisi.
Lantas apa yang dapat ditimba dari ungkapan beliau itu? Andaikata semua pejabat dapat memahami posisi jabatan yang diembannya secara benar sebagaimana yang dilakukan mantan Panglima TNI itu, maka negara ini akan jaya dan makmur karena para pejabatnya tahu diri dan tahu apa yang harus dilakukan/dikerjakan dalam jabatannya dilihat dari sisi asal dan amanah. Misalkan anggota DPR darimana dia bisa menjabat? Pasti dari parpol. Siapa yang memberi amanah/mengangkat? Pasti dari rakyat. Karena dia jadi anggota DPR dari sokongan suara rakyat. Itupun atas kehendak Allah SWT. Makanya tidak semestinya melupakan rakyat dan Tuhan dalam berperilaku, bekerja dan memutuskan apapun di gedung yang mentereng sana. Begitupun pejabat-pejabat lainnya di bidang hukum …..
Marilah kita belajar secara total dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan memahami jabatan sebagai amanah, bukan sebagai peluang beraji-mumpung.







