Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for August, 2008

Apa perlu Pertamina pasang iklan?

In anggaran, bBm, bLog, country, dEmokrasi, daya, e-gov, eKsekutif, eValuasi, global, hIdup, index, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAnajemen, mAteri kUliah, money, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, ranking, readiness, risk, sUbsidi, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Friday , 29 August 2008 at 2:17 AM

logoku

Setiap kali saya (menyempatkan diri) nonton tivi dan menemui iklan Pertamina Pasti Pas nongol di layar kaca, saya kok merasa nggak sreg. Timbul pertanyaan dalam diri saya, apa perlu Pertamina pasang iklan? Apa sih yang ditawarkan? Mau meyakinkan konsumen BBM bahwa jasa pelayanan dan penjualan Pertamina di berbagai SPBU pasti pas, nggak curang, begitu? Nggak perlu itu. Mengapa? Karena produk atau barang sejenis BBM apapun kondisinya, dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya pasti dicari oleh rakyat untuk berbagai keperluan, terutama sebagai bahan bakar alat transportasi. Bahkan (mungkin sekali) untuk harga mahal dan  pelayan SPBU curang sekalipun pasti masih dikunjungi konsumen, disamperin, dan dibeli bensin/solarnya meskipun dengan perasaan dongkol, ngedumel, menyumpah-nyumpahi penjualnya! Mengapa, karena memang itu barang seperti kebutuhan “primer” sekarang, jadi butuh, butuh dan butuh. Lalu, iklan itu apa fungsinya? Meyakinkan konsumen? Nggak bisa merubah persepsi/bahkan fakta hal kecurangan itu dengan iklan. Apakah untuk mengimbangi pemasaran dengan SPBU dari perusahaan lain (selain Pertamina) yang mulai masuk Indonesia? Juga nggak signifikan!

Saya menghitung-hitung berapa milyar uang yang digerojokkan untuk iklan di tivi yang “sia-sia” itu …. sayang sekali. Bukankah semestinya yang dilakukan Pertamina lebih baik meningkatkan efisiensi di segala tingkatan dan jalur manajemennnya, meningkatkan kinerjanya, sehingga dengan cara itu siapa tahu bisa “menurunkan” cost produksi dan ujung-ujungnya menurunkan harga jual BBM. Jadi nggak perlu koar-koar, seolah-olah “eh, aku jual minyaknya pas lho, nggak curang, ayo beli, ayo beli” tapi kenyataannya …………… ? Saya tahu Pertamina sedang ada mengadakan pelatihan pelayan SPBU untuk mencapai target sekian SPBU pasti pas, itu bagus-bagus saja tapi realitasnya cek dan lihat lapanganlah …. Buang-buang uang untuk iklan yang mubazir khan sayang, mending untuk “menurunkan” harga BBM atau untuk peningkatan CSR langsung ke rakyat.

Setuju?

R A M A D H A N

In hAm, hIdup, iSlam, indonesia, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, nUrani, pEndidikan on Thursday , 28 August 2008 at 5:14 AM

logoku

Raih peluang mendapatkan bulan suci yang sangat berharga ini

Andaikan saja pertemuan dengan bulan Ramadhan seperti bertemu dengan pacar

Manfaatkan Ramadhan sebagai momentum perubahan menuju kebaikan

Abaikan semua hal yang nggak perlu yang mengganggu dan menghalangi ibadah kita di bulan Ramadhan

Doa dan ibadah kita tingkatkan setiap saat

Hubungan dengan Tuhan dan Manusia lain kita perbaiki kualitasnya

Apapun kegiatannya, kita fokuskan untuk meningkatkan iman dan takwa

Namanya usaha, nggak perlu dihitung-hitung bagaimana dan seberapa besar jumlah pahalanya, pokoknya lakukan kegiatan dengan ikhlas, sabar dan tawakal.

John Locke dan Montesquieu pun menangis melihat Indonesia

In anggaran, bLog, country, dEmokrasi, damai, daya, e-gov, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, index, indonesia, informasi, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, peace, ranking, readiness, risiko, risk, sUbsidi, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Wednesday , 27 August 2008 at 3:10 AM

logoku

Trias Politica merupakan ide pokok Demokrasi Barat, berkembang di Eropa pada abad XVII dan XVIII M. Trias Politica adalah menganggap kekuasaan negara terdiri dari tiga macam : legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Trias Politica menegaskan kekuasaan-kekuasaan ini tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh SATU TANGAN yang berkuasa. Kondisi ini diharapkan dapat menjamin hak-hak azasi warga negara. Ide ini pertama kali dikemukakan oleh John Locke (1632-1704) dan Montesquieu (1689-1755). Filsuf Inggris John Locke mengemukakan konsep tersebut dalam buku Two Treatises on Civil Government (1690), yang ditulis sebagai kritik terhadap kekuasaan absolut raja-raja Stuart di Inggris serta untuk membenarkan Revolusi Gemilang tahun 1688 (The Glorious Revolution of 1688) yang dimenangkan oleh Parlemen Inggris. Menurut Locke, kekuasaan negara harus dibagi dalam tiga kekuasaan terpisah. Selanjutnya, tahun 1748, filsuf Perancis Montesquieu mengembangkan konsep Locke tersebut dalam bukunya L’Esprit des Lois (The Spirit of Laws), yang ditulisnya setelah dia melihat sifat despotis (sewenang-wenang) dari raja-raja Bourbon di Perancis. Dia ingin menyusun suatu sistem pemerintahan di mana warga negaranya akan merasa lebih terjamin hak-haknya.

Ide dua pakar tersebut hebat sekali, jangan sampai kekuasaan ada di satu tangan dan semuanya untuk keterjaminan hak-hak warganegara. Namun andaikata mereka masih hidup dan mau melihat kondisi dan penerapan konsep Trias Politica di Indonesia sekarang, bagaimana? Saya pikir mereka berdua akan menangis tersedu-sedu dan mungkin sampai kering air matanya ….. Karena ternyata konsep yang bagus diasalahartikan oleh para penguasa yang menjalaninya …. Mereka harusnya hidup dan bertugas sesuai pembagian kerja masing-masing dengan cara yang benar, tetapi mereka rupanya kompak sekali, pembagian tugas oke, pembagian materi juga oke. Sayangnya dengan jalan yang salah, penyalahguanan kekuasaan, The Power tend to corrupt …. Wujudnya, tiang-tiang Trias Politica itu sama-sama harus berurusan dengan KPK!

Percaya? Anda harus yakin (haqqul yakin) wong bukti sudah lebih dari cukup. Legislatif, coba cek, betapa banyak anggota DPR dan DPRD harus keluar masuk gedung KPK, keluar masuk pengadilan, berapa pula yang sudah mendekam di penjara gara-gara korupsi dengan beragam cara. Eksekutif, coba teliti data-data pemberitaan betapa banyak Gubernur, Bupati dan Sekda yang terjerat kasus hukum terutama korupsi. Yudikatif, wouw jangan tanya lagi, berapa jumlah jaksa dan hakim yang keblinger duit milyaran dan akhirnya masuk ruang persidangan bukan bertugas sebagai jaksa/hakim tapi sebagai terdakwa!. Betul-betul, konsep Trias Politica yang salah arah. Ini namanya Bias Politika. kebangeten betul.

Jadi, anda percaya khan, kalau John Locke dan Montesqueiu masih hidup terus berkunjung ke Indonesia jadi heran? Geleng-geleng kepala? Bahkan saking kagetnya mungkin langsung pingsan. Bahkan malah mati, karena konsepnya yang bagus itu didemo pula oleh para koruptor dan antek-anteknya.

PAKAR atau PENGAMAT ……..

In bLog, country, dEmokrasi, damai, e-gov, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, hAm, hIdup, iNtermezo, indeks, index, indonesia, informasi, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, peace, pers, rank, readiness, risk, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Wednesday , 27 August 2008 at 2:23 AM

logoku

Pakar atau Pengamat? Saya bukan berarti terlambat kalau menulis tentang hal ini. Cukup lama saya menyimpan uneg-uneg ini. Ya setidaknya sejak saya (sempat) menempuh S2 di Magister Teknologi Informasi Teknik Elektro UGM. Sambil terus menyimak ragam komentar di media massa (lewat internet juga alias weblog yang buaannyak banget komentarnya itu). Makin lama perasaan untuk tidak menulis makin terkikis karena rasanya kok nggak “bisa menerima” kalau media massa (televisi atau koran) menyebut “menurut seorang pakar ….” padahal setahu saya orang bersangkutan belum tepat disebut pakar. Ada perbedaan mendasar antara pakar dan pengamat. Pakar jelas seseorang yang kemampuan, keahlian dan ketrampilannya dalam bidang tertentu mestinya sudah mumpuni, teruji dan terbukti. Kalau pengamat sih bebas-bebas saja, entah bisa bener, apa bisa-bisaan, sudah teruji apa belum, bukti kemampuannya belum jelas nggak masalah, pokoknya asal bisa ngomong and ngobrol, tampil di media kaca gegap gempita, provokatif, sudah sah sebagai pengamat. Ya, sebagai pengamat saja. Wong bebas, siapa saja bisa jadi pengamat (apalagi pengamat sosial, nggak dibayar), dan bebas mengamati apapun. Sekali lagi yang beginian, mestinya jangan disebut pakar dong. Peran media memang penting disini untuk mendudukkan status sebenarnya. Media massa yang kredibel harus hati-hati dalam memberitakan dan menempatkan seseorang dengan kualifikasi pakar atau pengamat!

Untuk yang bersangkutan mestinya juga harus menyadari (jangan malah menikmati julukan yang salah, kayak selebritis saja, meski mempopulerkan, tapi ….. ), dirinya pantas nggak sih disebut pakar? Apakah tidak pas sebagai pengamat saja? Hal ini harus mulai diluruskan, apalagi nanti kalau suatu saat masuk wilayah hukum, nggak ada namanya saksi pengamat, yang ada saksi ahli yang nggak lain ya seorang pakar. Nggak boleh main-main itu, karena kesaksiannya harus betul-betul sejalan dan berkualitas berdasarkan keahliannya! Rakyat pun harus waspada, jangan mudah keblinger, dengan stereotip seseorang yang omong banyak, ngoceh banyak, tapi sebenarnya ya cuma omong saja, ngoceh saja, wujud dan realisasinya nol besar. Apalagi menjelang musim kampanye seperti sekarang …..

Ah, yang jelas saya bukan pengamat para pakar, juga bukan pakar para pengamat. Saya seorang blogger saja yang lagi seneng nulis dan menawarkan solusi (sekecil apapun pasti bermanfaat), terutama sesuatu yang mengandung perkeliruan yang perlu dan pantas diluruskan!

Dunguisme (lagi) di jalanan ….

In aNak, bLog, country, dEmokrasi, e-gov, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, indeks, indonesia, informasi, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, peace, readiness, risiko, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Tuesday , 26 August 2008 at 2:27 AM

logoku

Yogyakarta memang kota motor dan sepeda. Sudah mentradisi. Hal ini dikarenakan banyak pendatang yang berstatus pelajar dan mahasiswa yang butuh alat transportasi, dan yang tergolong terjangkau ya sepeda dan sepeda motor. Sebagian saja yang bawa mobil. Persolannya, banyak dari mereka yang nggak faham bagaimana cara berkendaraan secara baik dan benar di jalanan (yogyakarta juga, yang mulai ada tradisi kemacetan). Mungkin karena kebiasaaan di daerah asal yang memang begitu ….. Bagaimana sih bentuk perilaku mereka yang saya anggap termasuk dunguisme:

a. Naik mobil seperti naik motor saja. Sleat-sleot seenaknya ….

b. Ngobrol antar pengendara yang naik sepeda/sepeda motor berdampingan dua kendaraan, bahkan ada yang sampai tiga kendaraan ….

c. Naik motor sudah perlahan (tidak melihat/mengikuti irama kecepatan kendaraan di jalan itu pada umumnya) terus ambil posisi di tengah jalan lagi.

d. Guyon atawa ngobrol antar pengendara dan penumpang, sehingga nggak konsentrasi lihat keadaan jalanan … berbahaya nhi!

e. Nggak ngerti ada aturan “belok kiri jalan terus” ….

f. Memarkir kendaraan seenaknya ….

Walah-walah banyak banget, capai kalau ditulis semua ….

Nyusun APBD kok lama, kenapa?

In anggaran, bLog, country, dEmokrasi, daya, e-gov, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, hIdup, index, indonesia, informasi, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, rank, risiko, risk, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Tuesday , 26 August 2008 at 2:02 AM

logoku

Saya sedih mendengar Menko Perekonomian/Menteri Keuangan minta tolong UI untuk “mendalami” dan “memantau” kesulitan pembahasan/penyusunan APBD di berbagai daerah di seluruh Indonesia yang sekarang banyak menemui “kemacetan”. Memang mengapa begitu? Saya memahami kerja pokok anggota DPR/DPRD khan ada tiga: Legislasi, Budget dan Kontrol/Pengawasan. Lho, kalau yang kerja pokoknya saja (nyusun ABPD khan masuk budget) nggak beres-beres bagaimana? Rakyat juga nanti yang disengsarakan! Kalau dari eksekutif sudah muncul konsep RAPBD mengapa harus susah-susah toh semua pagu anggaran dan uraian program kerja khan terlihat jelas, bisa diukur. Dimana persoalannya? Toh, di Legislatif sudah banyak legislator yang mempunyai staf ahli yang mampu membantu menghandle pekerjaan semacam itu (saya juga mau kok jadi staf ahli anggota DPR bukan DPRD lho, yang penting HITUNGANNYA mantap, dari sumber yang benar-benar halal!).

Jadi kalau persolannya teknis penyusunan anggaran saya kok nggak yakin betul. Lain lagi, kalau inti keterlambatan penyusunan RAPBD (supaya menjadi APBD) pada tataran economic dan politic approach, ya mau bagaimana lagi? Apalagi tahun 2008 ini saat menentukan menjelang pemilu yang akan datang ….

Apapun menurut saya, berikan yang terbaiklah untuk rakyat …. mereka sudah “mempercayai” wakil-wakilnya, mempercayai pemimpinnya dan pejabat-pejabatnya untuk merancang KEPUTUSAN/KETETAPAN dalam berbagai bidang termasuk anggaran, harus dibalas dengan kerja yang serius dong … jangan main-mainlah. Rakyat berdaulat lho. Mereka sudah mulai taat membayar pajak dan sebagainya, di tengah gelombang naik turun harga BBM, harga gas, harga sembako, penggususran, masak harus diberi sajian kinerja wakil-wakilnya seperti itu ….

Setuju atau tidak setuju? Merdeka. Bagaimanapun saya juga rakyat Indonesia.

Dosen dan Internet ….. [Masak lebih gesit mahasiswanya]

In anggaran, bLog, country, dEmokrasi, e-gov, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, hIdup, ict, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, operasi, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, rank, readiness, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Monday , 25 August 2008 at 3:21 AM

logoku

Dosen jaman sekarang susah-susah gampang. Mau nyantai dan merasa jadisatu-satunya sumber informasi bagi mahasiswa, nggak bisa lagi. Mau menjangkau perkembangan teknologi, terutama internet, banyak keterbatasan. Harus bagaimana lagi?

Makanya dosen jaman sekarang nggak boleh lengah, apalagi merasa jagoan, kedudukannya secara keilmuan dan perkembangan iptek tidak mungkin menjadi referensi tunggal lagi dalam proses perkuliahan. Siapa tahu mahasiswanya yang lebih canggih dalam berinternet mampu menunjukkan referensi dan data yang lebih up to date untuk bidang keilmuan yang digeluti.

Sumber informasi iptek tiap detik melayang-layang di internet. Siapa saja bisa dengan mudah menangkapnya. Jadi jangan sampai Dosen tertinggal dengan mahasiswanya. Dan soal internet nggak harus Dosen TI saja yang umek, Dosen non TI harus juga mau masuk dan mengenal lebih jauh.

Jadi bagaimanakah upaya Dosen menghadapi situasi demikian? Beberapa cara dapat dilakukan:

a. Ikuti perkembangan iptek teknologi informasi (komputer, jaringan komunikasi, internet, sejenisnya) semaksimum mungkin. Rajin-rajin lihat pameran iptek (termasuk TI) suatu cara bagus. Baca penerbitan/jurnal keilmuan sendiri dan perangkat TI bagus juga.

b. Gunakan perangkat TI (laptop, LCD, HP, sejenisnya) dalam proses perkuliahan semaksimum mungkin. Disamping mendalami bidang keilmuannya, jangan lupa harus tetap mau “mempelajari” software/perangkat TI yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan keilmuannya/proses perkuliahannya.

c. Sinergi dan kolaborasilah dengan mahasiswa, toh mereka biasanya lebih gesit dalam mencari informasi perkembangan TI dan juga mencari materi-materi keilmuan lewat internet. Nggak ada salahnya sharing informasi, berani memberi dan berani menerima. Penugasan ke mahasiswa boleh juga dari internet dan mereka diminta menyebutkan sumbernya (website yang diakses).

d. Jangan pernah anti internet (meski anda dosen tua, yang lebih suka pakai transparansi dalam pengajaran atau whiteboard, realitislah jaman telah berubah). Dan jangan pernah 100% persen percaya materi dari internet, disini ada hukum GIGO (gabage in gabage out), untuk itu biasakan check, recheck dan crosscheck! supaya nggak dapat sampah dari internet.

Viva Dosen Indonesia.

UGM: Ospek diganti Pelatihan Pembelajar Sukses?

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 22 August 2008 at 4:09 AM

logoku

Di Universitas Gadjah Mada Ospek untuk mahasiswa baru tahun 2008 ini diganti menjadi Pelatihan Pembelajar Sukses, bagaimanakah pendapat saya? Oh, very very good. Ini terobosan ciamik. Sebagai perguruan tinggi tua dan berpengalaman para pengelola UGM memang harus terus kreatif, inovatif dan menyongsong future dengan cara yang benar dan baik. Bahkan harus berani “menentang” sifat ketidaksukaan sebagian orang terhadap perubahan [Ingat Pareto, hampir 80% manusia cenderung menolak perubahan atau hal-hal baru. Banyak alasannya: tersingkir, malas belajar, dan lain lain. Biasanya ini tantangan orang-orang yang mau melakukan Change Mangement].

Apapun alasannya, masa depan mahasiswa (dan lulusan perguruan tinggi) nantinya harus siap dan mampu “menundukkan” kebutuhan lingkungan kerja masa depan yang cenderung realistik, nalar ing laku, menjunjung tinggi profesionalisme. Itu berarti bekal yang didapat waktu kuliah (termasuk awal-awal kuliah) yang logis-logis dan memang bermanfaatlah ….

Selama ini kita ketahui, masih banyak kegiatan Ospek untuk mahasiswa baru dikreasikan dalam bentuk TANTANGAN fisik dan mental, sedikit sekali tugas-tugas yang mengarah pada penalaran, realisme dunia kerja, leadership yang bener, dan perilaku profesionalisme. Tadi pagi saja, saya lewat 2 kampus di yogyakarta, masih terlihat mahasiswa-mahasiswi yang pakai kucir warna-warni dan tas kain dari karung tepung terigu. Coba direnungkan barang sesaat, untuk apakah itu? Pelatihan mental atau untuk “merendahkan” harkat martabat manusia yang berstatus mahasiswa baru? Untuk mengasah mental, keberanian, kreativitas dan daya juang, apakah tidak ada cara lain yang lebih cerdas? Padahal ospek itu khan substansinya adalah membekali mahasiswa baru dengan pengetahuan tentang lingkungan pendidikannya, kurikulum dan ekstra kurikuler yang akan ditempuh nantinya, menjalin persahabatan dan kerjasama antar teman, senior serta pengajarnya. Dan yang lebih penting adalah membekali SOFT SKILL kepada para mahasiswa baru agar mereka sukses dalam menjalani dan menyelesaikan pendidikan di jurusannya tepat waktu, tepat cara dan sesuai target yang diinginkan. Bila perlu mereka dapat tuntas pendidikannya secara lebih cepat dari rata-rata lama pendidikan seniornya sebelumnya.

Nah, kalau UGM sekarang mengarah ke masa depan dengan memberikan pelatihan pembelajar sukses untuk mahasiswa baru sebagai pengganti Ospek, saya salut dan mendukung. Kegiatan-kegiatan yang nggak perlu, nggak nalar, nggak penting, nggak akademis, nggak ilmiah dan nganeh-nganehin memang harus mulai dieliminasi dari dunia pendidikan, agar jangka jauhnya Indonesia nantinya dipenuhi alumni-alumni perguruan tinggi (termasuk UGM) yang punya kompetensi hebat, nggak main kayu saja bisanya dan moralnya baik, sehingga dengan demikian kualitas SDM kita makin ciamik, untuk mendorong kemajuan bangsa menuju masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Ayo menuju kehidupan kampus yang maju dan bermartabat ….

Memang nggak jamannya Perti nyari duit dari mahasiswa baru

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Wednesday , 20 August 2008 at 5:46 AM

logoku

Judul ini serius. Karena saya melihat masih ada kampus / perguruan tinggi yang sampai saat ini masih “mencekik” dan “memeras” para mahasiswa baru (tentu orang tuanya juga) dengan biaya masuk perti yang sedemikian tinggi. Keterlaluan! Apalagi kalau perti itu tergolong favorit! Sudah seharusnya biaya operasional pendidikan umumnya (perguruan tinggi juga, yang swasta juga) tumpuannya selain dari Pemerintah (lewat dana hibah, misalnya) yang Insya Allah Tahun 2009 dapat dari APBN minimum sebesar 20%, juga ditopang hasil dari kreativitas serta upaya pengelola Perti. Civitas Academica harus aktif. Bukan seenaknya meminta dari mahasiswa baru. Mestinya dapat dari alumni yang telah dibina hubungannya dengan kampus asalnya secara baik, karena mereka toh sudah terlihat kelulusannya merupakan hasil didik perti itu, apalagi jaringan alumni yang sudah kuat, yang mungkin beberapa sudah sukses secara materi. Dan tentu meningkatkan terus menerus jalinan kerjasama dengan pihak-pihak lain yang tidak mengikat, seperti dengan berbagai perusahaan swasta maupun BUMN, ataupun pemda-pemda. Dari sana dapat diambil pos biaya R&D maupun CSR (Corporate Social Responsibility). Dan ragam upaya lainnya …

Jadi bukan dari mahasiswa baru, yang belum jelas dan belum terbukti “kesuksesannya”. Setuju?

Ragam mahasiswa sekarang ini ….

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Wednesday , 20 August 2008 at 5:36 AM

logoku

Sewaktu saya mengikuti acara Temu Orang Tua Mahasiswa Baru di Fakultas Psikologi UGM kemarin, ada mahasiswa yang belum senior banget sih yang memberikan testimoni alias gambaran tentang ragam mahasiswa sekarang ini menurut pandangannya. Katanya, mahasiswa dapat digolongkan dalam ragam jenis seperti binatang, sebagai berikut:

a. Mahasiswa tipe kutu buku ini jenis mahasiswa yang kegiatannya kuliah dan cari buku melulu di perpustakaan. Cari ilmu doang …..

b. Mahasiswa tipe kupu-kupu ini jenis mahasiswa yang kegiatannya kuliah pulang kuliah pulang. Nggak mikir teman ….. di rumah juga nggak jelas ngapain saja ….

c. Mahasiswa tipe kura-kura ini jenis mahasiswa yang kegiatannya kuliah rapat kuliah rapat. Berorganisasi terus, hobinya ….. sepertinya ingin jadi “pejabat” yang rapat-rapat melulu …..

d. Mahasiswa tipe kucing ini jenis mahasiswa yang kegiatannya kuliah terus plencing (ini bahasa jawa, maknanya: menghilang). Habis kuliah terus cabut entah kemana …. nggak jelas …. semaunyalah. Kalau untuk kebaikan nggak apa-apa, tapi kalau untuk yang nggak bener, lalu “tiba-tiba” tersesat bagaimana ….

Maka, kalau anda masih tergolong sebagai seorang mahasiswa, anda masuk kelompok ragam mahasiswa yang manakah?

Pengalaman membuktikan: jangan hanya masuk ke salah satu ragam mahasiswa tersebut di atas. Saran saya lengkapi diri anda dengan semuanya, karena pekerjaan dan profesi apapun sekarang dan ke depan memerlukan kecakapan/kemampuan tidak hanya dari materi kuliah saja, perlu soft skill. Angka-angka yang baik di daftar nilai saja tidak terlalu cukup untuk “menghadapi” situasi lapangan kerja. Semestinya kuliah oke, rapat organisasi oke, perpustakaan oke, pulang (ingat orang tua/keluarga) juga oke. Komunikasi dengan orang lain dan tentang materi lain (di luar materi kuliahnya sendiri juga perlu), karena akan menjadi NILAI TAMBAH nantinya kalau sudah lulus kuliah dan bekerja/berprofesi.

Percayalah!

Tirakatan atau Tasyakuran?

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 15 August 2008 at 1:07 AM

logoku

Menyongsong Peringatan ke 63 Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, apa yang kita lakukan? Tirakatan atau Tasyakuran? Jawabnya harus tegas: Tasyakuran. Mengapa?

Dua kata itu telah kita kenal dengan baik. Tirakatan ada unsur asal dari bahasa Jawa, sedang Tasyakuran ada unsur asal dari bahasa Arab. Agaknya bukan asal muasal kata yang perlu kita cermati, namun makna hakiki dua kata itu. Meski dua kata itu sama-sama menggambarkan proses upaya manusia dalam ber-kontemplasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tetapi dua kata itu memiliki perbedaan situasi dan kondisi dalam implementasinya. Tirakatan seakan-akan meminta diri kita harus menunjukkan perilaku prihatin, sabar, meski tetap berupaya keras, karena cita-cita belum kesampaian, harapan belum terwujud, dalam konteks suasana ini berarti seolah-olah kemerdekaan belum tercapai, jadi masih tingkatan “kemerdekaan”. Disini tidak terlihat unsur “terima kasih” kepada Allah SWT, Tuhan Yang maha Kuasa. Sedangkan kalau Tasyakuran menunjukkan pemahaman bahwa kita tetap berperilaku sabar dan tetap berusaha keras , karena cita-cita belum kesampaian semuanya, harapan belum tergenggam seluruhnya, dalam konteks sekarang berarti makna kemerdekaan belum sepenuhnya diperoleh. Tetapi difahami telah ada cita-cita dan harapan yang telah direngkuh, dan terlihat ada tabiat “terima kasih” kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberi sebagian kemerdekaan sebagai manusia dan sebagai anak bangsa. Sudah ada “sebagian kemerdekaan” yang telah didapat, dan sebagian itulah yang patut disyukuri. Karena dengan mensyukuri apa-apa yang sudah digenggam, kita pasti akan mendapatkan lagi nikmat-nikmat kemerdekaan lainnya yang kiranya belum kita peroleh. Itulah makna Tasyakuran. Jadi kalau Tirakatan kesannya “sedih” terus karena belum mencapai apa yang diharapkan, sedangkan Tasyakuran menampakkan performance netral, bahkan bangga dan gembira (meski tidak berlebihan) telah mencapai sebagian “kemerdekaan “. Toh, memang kemerdekaan bukan nggak ada batasnya, tapi kemerdekaan pada level tertinggi masih terus diupayakan. Oleh sebab itu, kita Tasyakuran saja …..

Begitukah saudara-saudara? Dirgahayu Republik Indonesia ke-63. Mari bersama-sama kita berusaha menuju kemerdekaan dan “kemerdekaan” dengan optimis, jangan pernah nglokro, menyerah maupun putus asa. Ingatlah “Atas berkat rahmat Allah ….

Terima kasih MK … [stakeholder pendidikan harus siap]

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Thursday , 14 August 2008 at 6:04 AM

logoku

Kebangkitan memang harus dari dunia pendidikan. Jadi kalau MK telah memutuskan menerima judicial review PGRI soal anggaran pendidikan yang 20% dari APBN sudah semestinya. Terima kasih MK. Untuk stakeholder pendidikan di Indonesia harus bersiap-siap mulai tahun 2009 tunjukkan dan buktikan kinerja kaum pendidikan betul-betul bisa mendongkrak kualitas pendidikan rakyat Indonesia dan meningkatkan Index Manusianya. Jangan cuma ingin anggaran besar tapi nggak bisa menyerap, tapi nggak bisa mengimplementasikan, tapi nggak bisa menunjukkan prestasi.

Mari bersiap-siap mulai sekarang secara personal dan keorganisasian. Semisal sertifikasi harus dijalani secara positif, jangan asal-asalan.

Ok, bravo dunia pendidikan Indonesia.

SMS dari bu guru ….. [salut deh!]

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, tEknologi iNformasi on Wednesday , 13 August 2008 at 1:28 AM

logoku

SMS dari bu guru? Siapa yang nggak senang menerimanya. Saya saja ikut senang, apalagi isinya penuh motivasi …..

Bagaimana ceritanya? Anak saya baru menginjak SMP kelas I (sekarang sebutannya kelas VII ya …) di salah satu SMP Kota Yogyakarta, yang konon kabarnya merupakan SMP favorit di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan alhamdulillah anak saya masuk di kelas Akselerasi (program pendidikan yang cuma 2 tahun). Sekarang dia lagi giat-giatnya penyesuaian kegiatan belajar dari SD ke SMP. Nah, kemarin malam sewaktu belajar anak saya terima SMS dari ibu gurunya, pengajar matematika. Intinya apa? Mengucapkan selamat belajar, dan mengingatkan besok ada ulangan. Anak saya diberi motivasi untuk persiapan dengan belajar yang cukup. Wouw? SMS ini membuat surprise anak saya, dan diri saya sendiri. Sepertinya SMS ini juga dikirim untuk teman-teman anak saya lainnya yang sekelas cuma 15 orang itu. Sentuhan kecil ini menurut saya dapat berefek besar. Lalu saya minta anak saya untuk mengirim sms balik inti isinya ungkapan terima kasih atas perhatiannya. Saya sendiri salut kepada ibu guru tersebut atas segala upayanya, dengan pengiriman SMS motivasi.

Lha beginilah menurut saya salah satu cara pemanfaatan positif perangkat teknologi untuk peningkatan mutu pendidikan. Janganlah HP hanya untuk begejesan saja. Dengan cara ini terlihat nyata ada unsur pendidikan, perhatian, surprise, azas manfaat, dan membangkitkan motivasi individual secara positif. Apalagi saya masih mendengar selentingan dari orang tua murid lainnya (bukan di sekolah anak saya sekarang lho …) kalau masih ada guru yang “salah cara” dalam memotivasi muridnya agar berprestasi, yaitu dengan membocorkan soal-soal ulangan di sekolah pada saat memberi les privat ke beberapa murid yang mengikuti les di tempatnya/rumah. Katanya sih pembahasan/ latihan soal-soal, tetapi seringkali soal-soal yang dibahas itu juga yang dikeluarkan untuk ulangan. Kebangeten!

Bagaimana ya? Yang jelas saya salut deh untuk ibu guru matematika itu …

Aturan kok seumur jagung ….

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Tuesday , 12 August 2008 at 1:27 AM

logoku

Mendengar Mahkamah Konstitusi menelurkan keputusan-keputusan konstitusional saya salut dan sangat bangga, karena semua aturan perundang-undangan yang berbenturan dengan konstitusi ibaratnya terkoreksi sudah. Hanya saja pada sisi lain saya sedih dan “kasihan” pada para legislator plus pemerintah terkait (serta tim cerdik cendekiawannya) pengonsep/pemikir ataupun pembuat aturan perundang-undangan yang terkoreksi alias dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, meskipun tidak satu UU, ataupun satu pasal, satu ayat saja dibatalkan oleh MK menurut saya sudah merupakan pertanyaan besar, bagaimana dulu waktu ngonsepnya? Telaah semua sisi dan secara akademis sudah benar-benar matang nggak? Muatannya apa waktu itu? Menurut pengamatan saya para ahli/pakar hukum khan sudah banyak yang dilibatkan pada ranah eksekutif maupun legislatif, tetapi kok masih ada ayat/pasal dalam UU yang mudah digasak oleh MK karena bertentangan dengan konstitusi? Bagaimana itu? Jangan cepat bilang NOBODY PERFECT ya … itu namanya sembunyi dari kesalahan yang dibuat sendiri!

Saya memahaminya, kalau UU itu dibuatnya sudah tahunan terus mengalami judicial review dan ada yang dibatalkan ayat/pasalnya oleh MK mungkin masih wajar kita terima, karena perkembangan jaman dan lingkungan  masyarakat, perubahan pemikiran dan ada sumber-sumber hukum baru yang dapat mengeliminasi itu ayat/pasal, okelah. Tetapi kalau UU diketok tahun 2008, dan tahun 2008 belum habis (setengah tahun saja belum lewat) sudah ada ayat/pasal yang dibatalkan MK, pertanyaannya cara kerja MENDALAMI ayat/pasal di UU itu bagaimana? Muatan UU itu berat mana nhi, politis atau hukum? Wah wah …. Aturan kok seumur jagung! Makanya bikin aturan jangan sembarangan. Membumi dengan dasar-dasar hukum yang kuatlah … ingat konstitusi kita , UUD 1945. Eh, anda sudah tahu khan, ayat/pasal yang dibatalkan MK? Yang terakhir masalah pengunduran diri incumbent (pejabat yang mau maju lagi dalam Pilkada). Sebelumnya masalah calon independent, juga syarat calon DPD.

Bagaimana menurut anda?

Sayang, tiang benderanya membobol trotoar …

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hIdup, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Tuesday , 12 August 2008 at 1:04 AM

logoku

Hari-hari ini masih suasana 17-an memperingati Hari Kemerdekaan RI. Saya sangat bangga kemeriahan bendera merah putih berkibar dimana-mana termasuk di wilayah Yogyakarta tercinta, dimana saya sekarang tinggal dan berlabuh. Semoga banyaknya kibaran bendera kebesaran dan kebanggaan rakyat Indonesia itu merepresentasikan rasa nasionalisme yang juga tinggi, pro patria, sampai mati. Karena suasana perayaan 17-an begini akan terasa berbeda dan ampang jika posisi kita ada di luar negeri (mungkin anda yang pernah beberapa lama tinggal di luar negeri betul-betul dapat mebedakannya), gaung “kemerdekaan” tidak akan menyentuh kalbu …..

Disana (di luar Indonesia) tentu anda tidak akan melihat deretan merah putih berkibar-kibar diterpa bayu, anda tidak akan melihat spanduk-spanduk pembangkit rasa cinta tanah air, anda tidak akan melihat umbul-umbul warna-warni penyemangat suasana kehidupan, anda tidak pernah melihat lomba-lomba dan aneka permainan tradisional rakyat Indonesia yang menggairahkan persatuan serta keceriaan, anda tidak pernah melihat keguyuban dan gotong royong khas warga kampung Indonesia ….. oh, elok nian. Untuk itu marilah kita jaga Indonesia agar rakyatnya tetap bersatu, hidup nyaman dalam kemajemukan, multikultural, pluralisme … NKRI kita bangun dan kita jaga sebagai rumah yang indah, yang semoga dapat menyejahterakan seluruh rakyat yang menghuninya.

Ekspresi menyambut 17-an memang beragamlah …. meskipun satu idea: rakyat yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Nah, sayangnya dalam mengekspresikan kecintaan terhadap negara dan bangsa Indonesia kadang-kadang masih ada diantara kita yang kurang memperhatikan estetika dan kenyamanan lingkungan. Seperti yang saya lihat di pertigaan Jalan Solo dan jalan ke Bandara Adisutjipto Yogyakarta (ya di Yogjakarta nhi, karena saya bermukim dikota gudeg … tetapi hal-hal begini mungkin terjadi di lingkungan anda juga dimanapun di Indonesia). Hal apa? Itulah memasang begitu banyak bendera (yang meriah sekali) berderet-deret kok sayangnya semua tiangnya membobol trotoar. Khan kalau ada cor-coran semen atau apapun sebagai rumah penyangga tiang mestinya lebih manis, gagah dan enak dipandang. Saya khawatir selesai 17-an habis melepasi tiang-tiang itu, lobang bekas tiang-tiang itu dibiarkan terbuka, membahayakan pejalan kaki dong. Dan kalaupun ditutup kembali pasti nggak akan sebagus aslinya. Nada-nadanya samalah dengan proyek-proyek jalanan umumnya, gali lobang, tutup lobang, gali lagi, tutup lagi, beberapa instansi berlomba-lomba membolongi jalanan semunya …. dan lupa mengembalikan secara baik-baik.

Ya, begitulah pagi ini saya melihat sendiri fakta tiang-tiang bendera yang membobol trotoar. Marilah kita ekspresikan rasa nasionalisme dengan proporsional, wajar, positif tanpa meninggalkan estetika dan kenyamanan lingkungan hidup kita.

Bravo …. Indonesiaku (Indonesia anda juga khan?).

Dunguisme di jalanan (II) …..

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Monday , 11 August 2008 at 5:34 AM

logoku

Di jalanan ternyata masih banyak tersebar penganut dunguisme …. lihat saja: spion yang standar dan mantap di pasang kiri kanan stir motor DIUBAH jadi kecil mungil bahkan sering tinggal satu sisi saja yang tersisa, lagipula diposisikan di bagian bawah stir yang mana mungkin bisa untuk melihat ke belakang secara baik … jadi kalau mau belok malah nengak-nengok ke kiri atau ke kanan … dan BRUUKK … itulah yang sering terjadi, kalau cuma lecet nggak persoalan, tapi kalau nyawa melayang …. Ada lagi knalpot yang dimodifikasi semaunya, hingga bunyinya nggerong-nggerong dan asapnya tumpah ruah menyebar ke pengemudi belakngnnya. Belum lagi warna lampu-lampu yang diubah semaunya menjadi putih, kebiruan atau kehijauan, sehingga membuat pengemudi lainnya terganggu pada malam hari kalau berpapasan/di belakangnya. Dan perilaku yang terjadi pada saat berbelok yang seringkali tidak memberi lampu sein, bahkan untuk belok ke kanan saja nggak pakai lampu, apalagi belok kiri … membahayakan. Apakah hal ini bukan dunguisme saudara-saudara?

Saya cinta negara ini, bangsa ini, saya ingin bangsa ini maju dengan perilaku yang baik …. tidak proteksionisme … tapi betapa semakin kita melihat lingkungan kita, di rumah, di jalanan, oh, banyak sekali tersebar penganut dunguisme! Semoga kita yang masih waras tidak katut dan terjerumus dalam lembah dunguisme ya ….

Mari mengingatkan diri sendiri. Anda meningatkan saya juga boleh kok …

Pakaian untuk koruptor?

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Saturday , 9 August 2008 at 2:25 AM

logoku

Jawabannya tegas, satu kata: HARUS. Saya sering ngelus dada melihat suasana penngadilan korupsi dengan terdakwa yang pakaian necis dan rapi (bak pejabat terhormat saja!) dan berdandan aduhai (terutama yang perempuan itu) apa memang sadar apa nggak ya kalau disorot banyak mata masyarakat Indonesia. Sehingga kalau ada ide pakaian untuk koruptor saya dengan pasti setuju 100%. Hanya saja yang perlu dirancang harus tetap berbasis HAM dan menjunjung azas praduga tak bersalah. Bagaimana caranya? Beri pakaian khas yang menyolok mata, warna dan modelnya. Baju bagian belakangnya kasih tulisan saja, SAYA TERSANGKA KORUPSI (untuk yang masih tersangka) dan SAYA TERDAKWA KORUPSI (untuk yang sudah jadi terdakwa). Kalau di tahanan, kasih saja tulisan SAYA TAHANAN KORUPSI. Beres khan?! Kalau cuma pakaian begitu nggak melanggar HAM dan tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah.

Tetapi ngomong-ngomong untuk memberantas korupsi memang harus dibuat terobosan hukum yang memungkinkan adanya PEMBUKTIAN TERBALIK. Jadi biar tersangkanya yang membuktikan darimana sih sumber kekayaannya yang selangit itu ….

Oke?

Dunguisme di jalanan …….

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iKlan, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 8 August 2008 at 5:00 AM

logoku

Hari ini dan hari-hari kemarin terlalu sering saya melihat pengendara motor menjalankan kendaraannya di jalanan sambil merokok. Saya memahami ini sebagai dunguisme. Jelas perilaku ini membahayakan diri sendiri dan orang lain. Terus yang merokok sebenarnya dia sendiri atau angin juga? Lalu, tak terbayangkan asap dan abunya yang melayang ke belakang yang sangat mungkin menerpa mata pengemudi di sampingnya atau di belakangnya. Membahayakan sekali. Kebangeten khan? Ada juga perilaku beginian pada pengemudi kendaraan roda empat, termasuk sopir angkot. Seenaknya saja membuang puntung rokok ke luar jendela mobil di jalanan, bahkan membuang abu pun melalui jendela mobil … yang juga bisa mengenai pengemudi motor/sepeda lainnya ….. kadang-kadang perilaku ini muncul juga dari pengemudi mobil yang metereng lho ….

Saya memang bukan perokok, tetapi saya tidak pernah anti terhadap kaum perokok, saya faham HAM 100% kok. Cuma kadang saya berfikir, perilaku perokok itu lho … kok seenaknya. Selain itu, jelas-jelas di bungkus rokok dan iklan-iklan rokok tertulis peringatan efek dari merokok tapi kok nekat tenan tetap merokok ya … khan menyakiti diri sendiri. Sehingga pikiran saya makin berlogika dan sedikit nakal, “para perokok itu menyakiti tubuh/diri sendiri saja berani, apalagi menyakiti orang lain ….” Ha ha ha, kalimat terakhir ini dianggap iseng juga boleh kok ….

Apa kata dunia?

8-8-8

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 8 August 2008 at 4:45 AM

logoku

Apa makna tanggal 8-8-8 (8 agustus 2008) bagi anda? Tanggal yang khas, triple eight, mudah diingat sebagai penanda kejadian/event tertentu yang mestinya kuat melekat di memori kita. Saya tidak terlalu mengartikan berlebihan terhadap “kandungan” apa-apa di balik angka atau tanggal yang unik semacam ini kecuali untuk pengingat saja. Toh, saya juga menempati rumah baru, yang sekarang saya huni bersama keluarga, juga mulai tanggal 7-7-7 (7 juli 2007). Ini pun angka yang unik bukan? Memang mengingatnya mudah, betu-betul mudah. Cuma itu? Ya, tidak. Mestinya hal-hal yang unik itu dapat dimaknai lebih dari sekadar untuk mengingat-ingat saja. Bagaimanakah caranya? Saya selalu ingin memakai konsep hijrah, perubahan yang lebih baik dari hari-hari kemarin (biar nggak merugi) dalam sisi apapun yang memungkinkan. Sehingga terlihat proses hidup kita, dan kehidupan kita yang berproses terus menerus ke arah kutub positif. Maka hal-hal unik semacam 8-8-8 pantas kita maknai sebagai tonggak ke arah kemajuan! Mestinya begitu ya … tidak cuma untuk memudahkan pengingatan saja.

Anda punya pemahaman sendiri?

Private number. Yes, I see …..

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Thursday , 7 August 2008 at 5:14 AM

logoku

Handphone, saya yakin, pada awalnya diciptakan untuk membantu dan memudahkan manusia dalam berkomunikasi dengan manusia lain. Sehingga dengan kemudahan komunikasi diharapkan akan meningkatkan tali silaturahim by voice atau video antar manusia, menaikkan tingkat produktifitas kerja dan kinerja perorangan maupun kelompok, mengurangi risiko yang mungkin terjadi yang bergantung pada kecepatan tindak dan waktu antisipasi, dan lain sebagainya.

Seiring dengan mudahnya dan murahnya alat komunikasi semacam HP maka makin banyak orang yang diuntungkan oleh nilai tambah kehadiran HP. Sayangnya kemudahan memperoleh alat komunikasi itu sepertinya tidak diimbangi dengan rasa tanggung jawab oleh sebagian pemilik alat tersebut dalam mempergunakannya keseharian. Inilah yang akhirnya banyak terlihat di sekitar kita, dan di negara kita, coba bayangkan ada sekitar 100 juta HP beredar dan digunakan sekarang ini, namun tingkat kemajuan bangsa yang didorong oleh adanya alat komunikasi semacam HP (yang sekarang sudah sampai 3.5G, bukan 3G lagi) belum benar-benar terlihat nyata. Sepengetahuan saya, tahun 1996 waktu saya di Jakarta baru ada Telkomsel yang promosi nomor HP dengan harga selangit. Jadi, 12 tahun lalu pengguna HP mungkin baru ribuan, belum ratusan ribu, belum jutaan seperti sekarang. Tapi coba buat perbandingan pendapatan per kapita kita pada tahun itu dengan tahun 2008 ini apakah berkorelasi secara signifikan dengan tingkat peningkatan jumlah pengguna HP kita yang dari ribuan menjadi ratusan juta sekarang ini? Saya pikir kita umumnya belum menggunakan HP secara baik dan benar yang memberi nilai tambah (apapunlah) secara nyata. Saya mengamati penggunaan HP belum menunjukkan manfaat nyata secara maksimum, bahkan masih minim sekali. Agaknya cuap-cuap kosong, sms kosong lebih mendominasi, bahkan cenderung untuk mainan (ingat, anak SD sudah banyak yang membawa HP ke sekolah). Lalu apalagi?

Ada yang lebih ekstrim, banyak yang punya HP keren, fitur lengkap dan canggih, tapi tingkat pemakaian fitur-fitur itu keseharian mungkin cuma 20% dari yang tersedia. Bahkan seringkali banyak yang tidak mampu mengoperasikan fitur-fitur HP yang ada pada HPnya sendiri. Kebangeten!. Memang untuk nampang saja itu HP? Saya terlalu sering membantu menunjukkan dan mengajari pada pemilik HP canggih dalam menggunakan fitur-fitur HP yang dimilikinya, yang sebenarnya sangat lengkap dibandingkan dengan HP saya pribadi. Dan, saya bukan pedagang HP lho, yang memang harus tahu karakteristik dan aneka fitur HP yang didagangkan.

Yang lebih parah banyak orang Indonesia punya HP lebih dari satu. Untuk apa sih sebenarnya? Silakanlah anda tanya pada mereka itu apa alasan punya HP banyak. Ngomong di HP saja khan nggak mungkin bareng-bareng dua atau tiga HP sekaligus …. komunikasi khan gantian!

Nah, yang paling aneh adalah yang menyembunyikan nomor HP waktu berkomunikasi. Kemunculan private number pada layar HP lawan bicara (kalau mau bicara, biasanya diem saja! lho …) rupanya disenangi sebagian orang Indonesia. Apa sih tujuan menyembunyikan identitas? Takut ketahuan orang lain? Phobia apa? Sengaja mengganggu? Kaum introvet memang cenderung menutup diri bahkan mengabaikan norma sosial dengan salah satu caranya seperti itu. Bahkan kalau sudah parah sekali, dengan private number lalu ngebel tengah malam berulang-ulang ke suatu nomor HP lainnya mungkin terasa berhasil misinya dan meraih tingkat kepuasan maksimum. Kaum psikopat seringkali juga seperti ini tingkah lakunya.

Apakah anda melakukan penyimpangan penggunaan HP seperti itu juga? Marilah kita kembali kepada dasar dan manfaat munculnya teknologi komunikasi semacam HP. Yang memudahkan, menyatukan antar manusia, connecting people …… Jangan disalahgunakanlah ….. Anda juga pernah mengalami ditelpon HP tanpa nomor alias private number doang? Kesabaran adalah penolong kita. Banyak cara untuk menerima dengan baik nomor-nomor HP yang dihidden itu … mematikan HP? Jangan, nggak perlu itu. Ubah saja mode HP anda dalam kondisi silent, tidak ringing, bergetar saja. Toh yang menghubungi anda tahunya koneksi masuk dan tahunya suara HP anda berdering …. lalu puas (seolah-olah). Padahal mungkin waktu itu anda sudah tidur pulas dan bermimpi ditelpon artis idola anda …..

He he he ….. begitukah saudara-saudara?

Melihat bendera merah putih dikibarkan …..

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Thursday , 7 August 2008 at 1:38 AM

logoku

Saya suka bulan agustus. Saya bisa melihat banyak bendera merah putih dikibarkan dan berkibar. Nasionalisme memang tidak dapat diukur dari bendera semata-mata, tetapi mengibarkan merah putih setidaknya sudah merupakan wujud nyata (sekecil apapun) ekspresi rasa keindonesiaan.

Namun kok ya masih ada yang memasang bendera kumal? Seperti barang “kadaluwarsa” saja? Tiang dan bendera juga nggak proporsional. Masangnya juga nggak tegak, asal-asalan. Mengapa tidak ingin menampilkan yang terbaik? Nggak mahal kok, kalau mau menyiapkan untuk itu.

Kita harus “memprovokasi” diri kita sendiri terus menerus

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Wednesday , 6 August 2008 at 1:21 AM

logoku

Provokator itu membahayakan? Ya, kalau karena itu digunakan untuk melanggar hukum dan perikehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tapi kalau untuk memprovokasi diri sendiri menuju ke arah kebaikan dan kebenaran itu halal dan wajib. Sebab kalau kita tidak memprovokasi diri sendiri secara terus menerus ke arah “jalan lurus” kita pasti terprovokasi oleh lingkungan kita, entah lingkungan rumah, kantor atau lingkungan luas (masyarakat) yang sekarang kecenderungannya materialisme (semua diukur secara material), instansisme (maunya jalan pintas), dan ambisiusisme (maunya apa harus tercapai, nggak peduli caranya bagaimana). Oleh sebab itu marilah kita memprovokasi diri kita sendiri secara konsisten dan kensekuen. Janganlah kita memprovokasi orang lain untuk ini, untuk itu, tapi … kita sendiri nggak mampu jalani. Kebangeten. Kalau kita sudah mampu melakukan ini, bawalah nuansa “provokator positif” ini ke lingkungan terkecil dulu, yaitu keluarga. Mampu nggak kita memprovokasi sekitar kita yang paling dekat itu …. Bagaimana mungkin kita mampu memprovokasi masyarakat luas kalau di ceruk yang kecil saja kita nggak bisa memprovokasi ke arah positif. Makanya saya sering melihat tokoh-tokoh yang muncul di permukaan, bagaimana sih keluarga intinya (suami, isteri dan anak-anaknya) tumbuh berkembangi, bagaimanakah kualitas keluarga yang dibinanya, keluarga sehat dengan cara dan kehidupan yang sehatkah …..

Wahai rakyat Indonesia, kalau anda mau mencari pemimpin bangsa dan negara, entah legislatif, eksekutif maupun yudikatif, jangan hanya melihat kapasitas pribadi personal calaon pemimpin itu dan tingkat aksepbilitasnya, tapi lihat jugalah background kehidupan keluarganya dan trackrecordnya selama ini. Saya nggak percaya ada pemimpin hebat yang muncul dari keluarga “hancur-hancuran”. Wong memimpin dalam skala kecil saja nggak mampu apalagi memimpin dalam skala yang luas. Lihatlah sekarang, artis dengan fakta keluarganya berantakan mencalonkan dalam pilkada, tokoh dengan background “hitam” mencalonkan diri dalam pilkada, ada juga yang di legislatif. Mari kita cari fakta-fakta yang disembunyikan oleh mereka ketika tampil ke permukaan …. Jangan sampailah kita mencari pemimpin seperti membeli kucing dalam karung …. siapa tahu nanti malah dapat kucing yang sudah dimutilasi, bahkan sudah jadi bangkai yang hidup lagi dan memimpin kita … wah mengerikan!

Oke, mari kita mulai memprovokasi diri kita sendiri secara konsisten dan konsekuen untuk selalu pada track yang lurus dan benar sebelum masuk wilayah publik, setidaknya patuh pada hukum, kultur dan aturan-aturan yang berlaku di negara kita tercinta ini ….

DIRGAHAYU KE 63 REPUBLIK INDONESIA : 17 Agustus 2008

Kita belum merdeka [dari perilaku korupsi]

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, tEknologi iNformasi on Tuesday , 5 August 2008 at 6:31 AM

Dahulu kala ……………………..

Ada pekik kebangsaan: [merdeka atau mati]

Ada Alinea I Pembukaan UUD 1945: [Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa]

Ada sepenggal lagu: [17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa]

Sekarang …………………………

katanya 63 tahun “merdeka” kok rasanya belum merdeka.

Hari gini masih korupsi!

Lakukan seperti yang saya lakukan …..[hati-hati!]

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iKlan, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Monday , 4 August 2008 at 6:33 AM

logoku

Teman saya tadi pagi cerita saudaranya pernah mengalami kerugian gara-gara mengelaborasi iklan peluang “menjadi kaya” dengan cara instant. Dikisahkan, dia membaca iklan yang menawarkan “cara cepat menjadi kaya” dengan hanya mengirimkan beberapa meterai Rp.6.000,- dan perangko balasan ke alamat yang ditentukan. Dengan janji nantinya akan dikirimi balasan berupa prospektus dan kiat-kiat menjadi kaya secara cepat. Pokoknya bahasanya provokatif bangetlah. Setelah ditunggu-tunggu beberapa waktu akhirnya datang juga balasan dari orang “yang berbaik hati” menunjukkan cara menjadi kaya. Apa isi balasan itu? Intinya: Lakukan seperti yang saya lakukan. Masya Allah.

Itukah kerja dan cara menjadi kaya orang waras? Saudara-saudara itu pasti penipuan berbentuk multi level marketing. Modelnya memang makin beragam, ada lewat iklan koran, internet atau kiriman pos langsung. Hati-hatilah mental anda dimainkan manusia-manusia semacam ini. Jadi apa negeri ini kalau banyak orang yang mengikuti perilaku demikian …. anda jangan ikutan ya … saya pasti nggak ikutan kok!

Prihatin barang impor yang bekas …..

In aNak, bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAnajemen, mAteri kUliah, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, sUbsidi, tEknologi iNformasi on Monday , 4 August 2008 at 6:12 AM

logoku

Beberapa waktu lalu Wapres RI menyindir orang-orang yang suka pakai barang-barang merek impor. Lalu, kita sendiri “melihat” dengan mata dan kepala sendiri betapa banyak sekali barang-barang impor yang masuk Indonesia, entah secara ilegal ataupun legal, yang tidak termasuk barang primer, bahkan juga bukan barang sekunder. Kemudian kalau kita hidup di kota seperti yogyakarta (mungkin di kota-kota besar di Indonesia lainnya juga) dapat dengan mudah menemukan toko-toko yang menjual barang impor, entah berupa pakaian entah berjenis elektronik, ataupun lainnya. Parahnya ternyata yang dipajang barang-barang luar negeri bekas pakai! Cilakanya lagi barang-barang itu dipajang dengan tempelan merek dan logo seperti baru, digantung rapi seperti barang impor yang baru keluar dari pabrik. Oh??? Lebih-lebih pengalaman pribadi saya ketika pernah sebulan hidup di daerah Tanjung Jabung Jambi di Sumatera sana beberapa tahun lalu, wuah …. begitu mudahnya “akses” mendapatkan barang impor bekas melalui laut, ada laptop, ada HP, ada kulkas, ada pakaian, macam-macamlah. Barang-barang itu tidak dijual per item produk, pakaian misalnya, dijual kiloan ataupun per karung. Ck … ck …

Lalu, apa sih nilai positif secara kenegaraan dan kebangsaan untuk yang menggemari barang bermerek asing dan impor ? Barang bekas lagi? Saya pikir terlalu minimlah. Dari sisi apapun lebih banyak jeleknya. Impor pasti berkaitan dengan devisa. Kalau untuk impor barang primer, tidak diproduksi di Indonesia, dan untuk barang sejenis kita belum mampu memproduksi, okelah. Nggak masalah devisa diluncurkan untuk belanja barang-barang tersebut. Tapi kalau barang-barang yang bisa dan banyak diproduksi serta tersedia di Indonesia kebangeten kalau kita masih nyari yang impor. Hargailah barang-barang produksi dalam negeri, kalau ingin membangun bangsa dan negara ini dengan benar dan baik, karena akan memutar roda ekonomi kehidupan pabrikan Indonesia, meningkatkan lapangan kerja untuk warganegara Indonesia. Jangan terbalik, lebih baik pakai barang impor walaupun bekas. Astaga, ini namanya mental bekas, mental rongsokan, harusnya yang dibangun dan dibentuk adalah mental new dan baik. Produk Indonesia sudah banyak yang bagus kok …. saya sendiri pakai laptop saja produk lokal nggak masalah, juga jalannya bagus serta memuaskan. Harga? Bersaing juga.

Oleh sebab itu marilah kita kembali ke Indonesia untuk belanja barang apapun, pakaian, elektronik, produk pertanian, dan lainnya …. Dengan demikian, langkah yang sederhana ini pasti merupakan sumbangsih positif kita untuk kejayaan perekonomian bangsa dan negara serta rakyat Indonesia. Jangan cuma koar-koar protes ini, protes itu, demo ini, demo itu, tapi nggak pernah melihat realitas apa yang kita jalani, apa yang kita konsumsi, apa yang kita pakai, semuanya dari mana? Menguntungkan atau merugikan rakyat Indonesia sesungguhnya …. marilah dari individu masing-masing kita membangun bangsa ini secara baik dan benar.

Kesimpulannya: Masak sih kita selalu membanggakan produk impor? Yang bekas lagi ….. malu ah!

SMS berantai, lho kok dari senayan?

In bLog, dEmokrasi, eKsekutif, eValuasi, hAm, hIdup, iNtermezo, iSlam, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, militer, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, pOlitik, tEknologi iNformasi on Friday , 1 August 2008 at 2:53 AM

logoku

Tadi malam saya dapat SMS berantai. Isinya pada pokoknya meminta saya untuk meneruskan kiriman SMS tersebut kepada 12 orang lainnya, dengan iming-iming saya akan mendapatkan kondisi keuangan pribadi membaik dalam 12 jam. Selain itu, kalau nggak meneruskan SMS tersebut kepada 12 orang lainnya, diisyaratkan akan mendapat naas yang tak terduga. Masya Allah. Meski beberapa kali saya dapat SMS semacam ini, saya tetap merasa aneh dan gamang dengan SMS berantai yang baru datang ini. Apa persoalannya?

Segalanya memang kembali pada keyakinan masing-masing ya. Anda boleh percaya SMS itu, boleh tidak percaya. Saya pun demikian. Bagi saya persoalannya lebih dari itu … pada pengrimnya! Anda tahu pengirim SMS itu adalah teman saya yang sekarang masih menjabat sebagai anggota DPR. Memang saya punya beberapa teman yang ada di Senayan. Tapi anehlah, selama ini saya mengenal teman yang ngirim SMS itu kuat keberagamaannya. Tapi nyatanya, kok ikut mendistribusikan SMS semacam itu. Wah wah ….

Saya menanggapi SMS beginian dengan dua cara:

Yang serius, saya kirim jawaban SMS ke teman saya itu. Isi SMS pada intinya saya telah memahami apa isi SMS yang dia dikirmkan. Selain itu saya implementasikan langsung hakekat SMS itu dengan mengirimkan nomor rekening bank saya ke teman saya itu. Siapa tahu benar-benar terwujud kondisi keuangan saya meningkat dalam waktu 12 jam! Ha ha ha … Tapi saya juga sedikit ngeri, kalau misalnya uang transferan (mungkin lho) dari hasil yang nggak bener … jangan-jangan KPK nanti mendatangi saya, karena menerima cipratan dari anggota DPR terhormat….

Yang guyonan, saya menanggapi dengan santai, karena logika otak saya masih jalan normal: ya jelas saja kondisi keuangan saya meningkat dalam 12 jam, wong sekarang tanggal 1 Agustus 2008 … lha memang waktunya gajian!

Dasar teman saya yang kurang kerjaan [Jangan pernah percaya SMS berantai deh ....]. Marilah berkomunikasi dengan Allah SWT jika mendapatkan hal-hal semacam ini. Insya Allah DIA melindungi kita.