Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for January 4th, 2009

Mengutuk serangan Israel, menarik pelajaran dari kejadian itu ….

In aNak, bLog, country, dEmokrasi, global, hAm, hIdup, indonesia, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kelaparan, mAhasiswa, pErtahanan, pOlitik, peace, sumber daya, teknologi on Sunday , 4 January 2009 at 1:12 AM

WN No 1

WNI No 1

Serangan Israel ke Palestina kembali terjadi. Seolah ingin ikut mewarnai Tahun Baru 1430H dan Tahun Masehi 2009, Israel dengan membabi buta (ya, seperti babi yang buta matanya, menembakkan senapan kemana saja arahnya) menyerang pemukiman Palestina di Jalur Gaza. Jelas, serangan ini melanggar hukum internasional dan Hak Asasi Manusia. Meskipun pejabat Israel menyatakan “negaranya berhak mempertahankan diri dari serangan roket dan mortir yang dilancarkan pejuang Palestina dari Jalur Gaza. Adalah kewajiban semua negara untuk memastikan hak hidup dan keamanan rakyatnya”, itu omong kosong belaka. Bagaimana dengan hak hidup dan keamanan rakyat Palestina? Boleh diabaikan? Apalagi blokade besar-besaran juga dilakukan Israel di Jalur Gaza, jelas tindakan ini membatasi/menutup pasokan bahan makanan, obat-obatan, listrik, air, dan materia lainnya. Akibatnya, krisis kemanusiaan terjadi disana.

Serangan ini patut dikutuk habis-habisan. Ini bukan persoalan satu bangsa, agama, ras atau kelompok tertentu. Ini persoalan Hak Asasi Manusia yang diabaikan dan disepelekan. Kalau sudah masalah HAM itu domain universal, siapa saja yang masih menyandang predikat manusia dan memiliki sifat kemanusiaan tentunya terketuk hatinya. Kalau nggak terketuk ya sama saja dengan perilaku buruk orang Israel itu. Pertanyaannya, mana nhi pembela, aktivis dan para penggiat HAM Indonesia, kok adem ayem? Nggak boleh double standard dong. HAM itu universal, maka lakukan apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan tindakan biadab Israel itu …. Jangan katakan, ah itu urusan disana, disini saja banyak yang harus dikerjakan. Lho kok, menggiatkan HAM pilih-pilih? ….

Korban yang semuanya rakyat Palestina mencapai ratusan meninggal, dan ratusan pula yang luka berat, apa mesti dibiarkan? Dengungkan terus rasa solidaritas terhadap upaya pembelaan HAM dengan cara yang egaliter, terhormat, dan terukur.

Apa yang bisa dilakukan?

1. Salut pada Pemerintah RI yang cepat tanggap, mengutuk dan mau berperan maksimal lewat jalur diplomasi internasional, ini sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 kita “ikut menjaga ketertiban dunia …“, serta mengirimkan bantuan langsung ke pemerintah/rakyat Palestina. Semoga bantuannya cepat datang, dan dapat ditingkatkan …. sebelum bencana kemanusiaan makin hebat terjadi disana.

2. Rakyat (dan termasuk mahasiswa, mestinya juga aktivis HAM yang biasanya gagah berdemo itu ….) teruslah mengutuk dan mengecam Israel, serta berusaha mempengaruhi komunitas internasional untuk “membatalniatkan” Israel menggelar persenjataan secara lebih besar dan masuk menyerang Palestina lewat darat …. Kalaupun berdemo, demolah dengan aturan kita (kebebasan menyatakan pendapat khan sudah ada aturannya), jangan sampailah sesama anak bangsa bentrok dengan aparat kita sendiri …. artinya, demo memang hak, tapi orang lain (yang juga punya hak menggunakan jalan/fasilitas umum) perlu dihargai juga haknya ya ….

nnnnnnnnnnnn

Wujud kesedihan: Dua muslimah Argentina turut prihatin dan mengutuk keras serangan Israel ke Palestina. Mereka menggelar aksi dengan memakai topeng di depan Kedubes Israel di Buenos Aires, Argentina.

Apa yang bisa dipelajari dari kejadian semacam ini?

1. Semangat rakyat Palestina dalam mempertahankan tanah airnya dengan apapun yang dipunyai (ketapel dan batu, senjata minim) patut dicontoh. Semestinya nasionalisme (kita juga) tetap dipertahankan dalam kondisi damai maupun perang.

2. Kita melihat “perang sekarang” selalu dimulai dan dititikberatkan dari kekuatan serangan udara. Lihatlah AS di Irak dan Israel di Palestina. Jangan artikan kita harus meniru tindakan biadab Israel atau AS, tapi dalam konteks perang (suatu saat kalau ada negara lain yang nakal, kita harus siap berperang juga lho…) kita harus belajar dari “pemenang perang”.

3. Teknologi dan senjata perang harus mengikuti perkembangan iptek. Disamping menyesuaikan dengan kondisi ekonomi negara.

Anda punya pendapat lain?