Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for March 5th, 2009

Seri 001, Mahasiswa : Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan Menurut Saya

In bLog, dEmokrasi, indonesia, kEwarganegaraan, mAhasiswa, pEndidikan, sumber daya on Thursday , 5 March 2009 at 1:48 PM

Saya berpendapat bahwa setiap mata kuliah yang saya pelajari harus memberikan faedah pada setiap kehidupan saya. Pendidikan kewarganegaraan yang saya ambil juga harus memberikan manfaat yang nyata dalam hidup saya, karena itu saya akan membahas betapa pentingnya kita belajar kewarganegaraan sebagai mahasiswa dan sebagai rakyat NKRI. Saya rasa dalam realitas hidup mahasiswa saya tak perlu menjabarkan kepentingan belajar kewarganegaraan ini secara muluk – muluk, kita bisa mulai dari hidup bersosial secara bertanggung jawab dan beradab.

Menurut saya ketika kita mulai dan selesai belajar kewarganegaraan, sebagai mahasiswa kita dapat memiliki 3 poin penting. Tiga poin utama ini terdiri dari Penempatan diri (positioning), Kesadaran diri (self awareness)dan harmonisasi( harmonization ). Oleh karena itu saya akan mulai membahas satu per satu ketiga poin terpenting ini.

Penempatan diri (positioning)

Sebagai mahasiswa yang memiliki intelektual yang diatas rata – rata kita harus memiliki penempatan diri, selain kita juga hidup sebagai warga Negara Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan memberikan kita pengetahuan tentang bagaimana hak dan kewajiban diri kita sebagai warga Negara Indonesia pada umumnya dan mahasiswa sebagai khususnya. Pada realitas kehidupan nyata penempatan diri berperan dalam menyelaraskan kita dalam bagaimana hidup berbangsa dan bernegara sebagai contoh ketika saya orang sumatera merantau dan hidup di Yogyakarta ini saya harus bisa menempatkan diri saya sebagai mana layaknya orang jawa hidup bersama, berkomunikasi yang baik dan sopan santun yang membawa nama baik kampung saya. penempatan diri yang baik secara tidak langsung akan menciptakan harmonisasi yang nanti akan saya akan bahas lebih lanjut. selain sebagai orang sumatera saya juga harus menempatkan diri sebagai warga Negara Indonesia yang baik, kita harus membawa nama baik indonesia kita ketika kita berpergian keluar negeri, selain itu juga harus melakukan bela Negara apabila Negara terancam bahaya.oleh karena itu penempatan diri menjelaskan kita akan hak dan kewajiban kita, selain sebagai mahasiswa,juga sebagai warga Negara Indonesia.

Kesadaran diri (self awareness)

Pendidikan kewarganegaraaan harus bisa memberikan mahasiswanya kesadaran diri dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti apa yang dikatakan oleh K.H abdullah gymnastiar, kesadaran diri itu mulai dari diri sendiri,mulai dari yang mudah dan mulai saat ini. Saya rasa dalam realitas mahasiswa saat ini tak usah muluk – muluk ingin mengubah Negara atau sebagainya. Tanyalah kedalam hati kecil kita, Sudahkah anda menaati peraturan lalu lintas? Masihkah anda menitip absen? Apakah anda mengurus KTP sesuai prosedur?. Perubahan yang besar, selalu mulai dari hal – hal yang kecil, apapun itu mulailah dari sekarang untuk berubah ke hal yang lebih baik (change you can!). cobalah untuk mulai menepati waktu, datanglah pada kelas paling awal. saya yakin, kesadaran diri pada hal- hal sepele akan membawa kita pada kehidupan yang lebih baik. Banyak orang merasa bahwa jika orang lain tak berubah (kepada yang lebih baik), kenapa kita harus berubah?. Jadikan diri kita sebagai contoh yang baik untuk semua, percayalah bahwa sesuatu yang baik akan menyebar dan menularkan kebaikanya pada orang lain.

Harmonisasi (harmonization)

Ketika kita sudah memposisikan diri secara baik, melakukan perubahan dari diri sendiri,so there’s a prize beyond my reach, diharapkan akan tercipta harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. pada Negara maju yang memiliki tigkat intelektual yang tinggi, mereka memiliki kesadaran penuh dalam menempatkan dirinya, mereka tahu bagaimana pentingnya menaati peraturan, mereka tahu bagaimana semestinya bergaul dengan orang lain. Ketika harmonisasi sudah terjadi, yang ada hanyalah kenyamanan dalam hidup, tetapi dalam realitas sebenarnya banyak warga negara indonesia merasa nyaman hidup dalam kesemrawutan. Meskipun demikian dalam hatikecil warga Negara Indonesia, mereka juga mendambakan kehidupan yang harmonis. Karena itulah segala perubahan akan timbul jika kita sendir juga mau melakukan perubahan tersebut. Karena itu mulai dari detik ini, ciptakanlah keharmonisan dalam hidup berbangsa dan bernegara sebab itulah urgensi pendidikan kewarganegaraan menurut saya. [Ditulis oleh : Omar Mufti, 06/196854/PA/11203, Geofisika --> 90]

Lihat Seri : 001 ,002 , 003 , 004 , 005 ,

Itu bukan media (khususnya majalah) Indonesia!

In bLog, country, dEmokrasi, e-goverment, hIdup, indeks, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pers, readiness, sumber daya, teknologi, uang on Thursday , 5 March 2009 at 1:38 PM

Saya terus terang sejak dulu muak melihat tayangan tv, entah berupa sinetron, film dewasa ataupun kartun, yang berbahasa Indonesia secara lisan/voice, sementara wajah-wajah yang tampil sama sekali bukan orang Indonesia. Apakah mereka (orang asing itu) sudah pintar berbahasa Indonesia? Bukan begitu, yang pintar pengusaha lokal kita yang men-dubbing tontonan itu. Biar komunikatif sehingga banyak peminat, sehingga banyak penonton, dan akhirnya banyak iklan. Dasar materialistis, tanpa memahami sifat, sikap dan efek kebangsaan yang baik!

Tontonan semacam itu kalau diamati pasti lucu banget, karena gerak bibir dan kata yang diucapkan nggak klop sama sekali. Termasuk gerak-gerik, ekspresi, tingkah lakunya pun pasti nggak pas. Bahkan cenderung membodohi orang Indonesia, seolah-olah mereka bisa berbahasa Indonesia. Kalau tontonan itu dipaksakan tampil di media kita mestinya lebih baik diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dialognya (yang aslinya mungkin Inggris, Jepang atau lainnya) dan dikasih subtitle dibawahnya mengikuti alur cerita. Itu lebih logis dan “menghargai” bangsa dan bahasa Indonesia. Rupanya cara-cara dubbing itu sekarang sudah amat berkurang (bahkan menghilang).

Tetapi ada kecenderungan muncul “cara-cara jenis” ini lewat media lain … apa itu?

Coba cermati, akhir-akhir ini begitu banyak media cetak asing (terutama majalah) yang muncul di negeri dalam bentuk sudah dilokalisasi. Maksudnya? Merk dagang, nama majalah, materi majalah, gambar-gambar dan olah redaksional umumnya masih asli sononya. Yang terlihat berubah adalah bahasanya, sudah di-Indonesia-kan. Saya pikir cara-cara bisnis semacam ini aneh. Apakah tuannya tidak punya keyakinan dan kemampuan bikin media (majalah) yang asli digarap oleh orang Indonesia dan merk Indonesia, seperti beberapa majalah asli Indonesia yang masih eksis itu. Masak harus kulakan merk (model franchise beginian alias suka dompleng, mau gampangnya saja). Nggak punya semangat juang ber-Indonesia. Majalah jenis tembakan begini, coba dicek kebanyakan setting tulisannya masih tetap mengikuti culture aslinya. Nggak membumi, materialistis, borjuis! Apakah anda ingin beli majalah beginian? 100% itu bukan majalah Indonesia. Itu tetap saja majalah asing yang di-Indonesia-kan. Itu thok. Ini mungkin akibat neo-kapitalisme yang menggeliat dengan kuat, sehingga orang Indonesia terjebak pragmatisme, apalagi bikin penerbitan cetak sekarang nggak perlu ijin. Kebangeten.

Anda melihat itu? Perhatikan, kita secara halus dibuat agar “menyerap” dan mengimplementasikan  budaya dan kehidupan ala mereka ….