Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for March 6th, 2009

Apa kontribusi yang telah anda berikan kepada negara?

In bLog, country, dEmokrasi, daya, e-goverment, eKsekutif, global, hIdup, indeks, index, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, peace, sumber daya, survai on Friday , 6 March 2009 at 11:05 AM

Saya beberapa waktu lalu (19 Februari 2009) dapat email dari salah seorang mahasiswa saya.  Intinya mempertanyakan Apa kontribusi yang telah saya berikan kepada negara? Isi lengkap emailnya:

Saya punya pertanyaan kepada bapak,
1). apa kontribusi bapak untuk negara baik sebagai militer maupun sebagai rakyat sipil?
2). apakah kontribusi yang bapak berikan yang terdapat pada pertanyaan no.1 sudah terlaksana secara maksimal?
3). apabila kontribusi tersebut belum terlaksana secara maksimal, apa yang akan bapak lakukan untuk memaksimalkan kontribusi tersebut?

Waduh ini pertanyaan berat dan sensitif.

Saya terima kasih dengan email ini, tapi saya merasa ini harus hati-hati menjawabnya. Karena dalam pendapat saya masalah kontribusi untuk negara/bangsa harus proporsional dan semua serba relatif, lebih-lebih menurut saya nggak pantaslah saya bicara apa yang telah/dapat saya berikan kepada negara/bangsa kepada orang lain. Cukup disimpan di dalam hati sendiri. Supaya nggak dikira sombong (walau mungkin ada kontribusi sekecil apapun. atau malah saya sesungguhnya belum punya kontribusi apa-apa untuk negara/bangsa), apalagi saya harus menghindari sifat riya’ sesuai keyakinan saya pribadi.

Jadi jawaban saya apa? Inilah jawaban email saya:

Kalaupun saya sudah berkontribusi untuk negara, saya selalu “menyembunyikan” hal ini,nggak pantas diomong-omongkan, karena prinsip saya yang begini ini tergolong pamer atau riya’, itu nggak boleh sesuai keyakinan yang saya anut. Namun sekadar memenuhi pertanyaan anda, saya sedikit saja bercerita (maaf tidak ada maksud untuk pamer). Saya mengajar dimanapun termasuk di AAU/UGM berusaha semaksimum mungkin menjalankannya, dan mengevaluasi/memberi nilai apa adanya. Sehingga beberapa kali berbenturan dengan orang lain/mahasiswa yang tidak memahami bahwa proses ini sebagai yang terbaik untuk siapapun. Dalam menjalankan jabatan apapun (saya sebelumnya banyak di jabatan struktural) berusaha  clean dan selalu mendasarkan pada UU dan aturan yang berlaku. Sehingga beberapa kali berhadapan dengan atasan/pimpinan yang tidak sejalan. Alhamdulillah saya sampai sekarang tetap bisa eksis. Waktu sekolah pun (militer dan sipil) saya pantang menyontek, meminta nilai, dan memberi contekan waktu ujian. Waktu mahasiswa saya sudah jadi aktivis di beberapa organisasi, meski jejak saya nggak ingin saya  pamerkan. Saya menjadi pengurus beberapa organisasi kemasyarakatan tanpa bayaran, pengurus RT 2 kali, dan sekarang sedang membina dukuh/desa sekitar saya. Saya selalu memberi masukan ke beberapa pejabat/tokoh yang saya kenal dengan cara saya (sms/email/lisan) jika mereka tidak “betul” dalam pandangan saya. Saya punya anak asuh yang tiap bulan saya santunin, jumlahnya nggak perlu diungkapkanlah. Kalau dalam dinas militer, terlalu banyak diceritakan! Sementara begitu ya … nanti saya terjebak dalam situasi riya’ …. Insya Allah tidak ya. Kontribusi saya untuk negara, secara pribadi saya anggap masih keciiiiiiiiiiiiiiiiiiill …… dan sangat-sangat belum maksimum! Banyak yang ingin saya lakukan nantinya … tolong didukung ya ….

Begitu kira-kira jawaban saya, maaf jangan ini dianggap pamer, saya takut dikira riya’, apalagi saya bukan caleg, nggak perlu pamer gigi dan unjuk kontribusi untuk negara/bangsa.

Prinsip terindah saya (menurut saya pribadi lho!) yang bisa juga dipakai/diterapkan oleh orang lain ialah:

a. Mencuci harus dengan air bersih. Artinya bersihkanlah diri kita sendiri dulu sebelum ikut “mencuci” orang lain!

b. Kalau nggak sanggup ikut membersihkan, janganlah ikut mengotori. Artinya kalau anda dan saya melihat banyak nggak benernya di sekitar lingkungan kehidupan kita, dan kita nggak sanggup meluruskannya, ya sudah, tenang-tenang saja, jangan malah ikutan nggak bener atawa ikutan ngedan, itu yang terbaik.

Bagaimana menurut anda?

Memo anti teror rahasia Paman Bush, bukti nyata kebijakan semaunya sendiri ….

In bLog, dEmokrasi, e-goverment, eValuasi, global, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, peace, ranking, readiness, tEknologi iNformasi on Friday , 6 March 2009 at 10:10 AM

Beberapa waktu lalu Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Obama merelease memo-memo anti teror rahasia Presiden ke-43 Amerika Serikat Geroge Bush. Dari memo-memo itu terlihat bahwa kebijakan anti teror Bush pasca serangan 11 september 2001 penuh kontroversial dan cenderung semaunya sendiri. Ini suatu bukti nyata yang nggak bisa ditampik lagi. Ada cara interograsi tanpa batas kemanusiaan, penyadapan telepon/telekomunikasi semaunya yang melanggar aturan hukumnya sendiri, penahanan tak berperikemanusiaan. Ya, pantas ada sepatu melayang di wajahnya, seperti berikut ini (maaf, versi ini baru, kiriman dari seorang teman by email):

Kenangan tak terlupakan!

Kenangan tak terlupakan!

Ini pelajaran bagi seseorang yang sedang menjabat. Jangan mentang-mentanglah kalau sedang memegang jabatan! Apalagi aji mumpung. Apalagi pendukungnya, atau negaranya, tergolong punya kekuatan, alias digdaya. Hukum alam dan causalisme pasti akan terjadi, entah kapan waktunya, dan dimana tempatnya. “Pembalasan” dalam bentuk apapun pasti akan muncul. Penistaan setelah menjabat pun sulit dihindari! Apalagi kalau kesewenang-wenangannya itu menyangkut masalah kemanusiaan seorang bahkan ribuan manusia, jangan mudah mempermainkan. Apalagi dengan urusan nyawanya.

Seri 002, Mahasiswa : Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan Menurut Saya

In bLog, dEmokrasi, indonesia, kEwarganegaraan, mAhasiswa, pEndidikan, sumber daya on Friday , 6 March 2009 at 8:54 AM

Memiliki Rasa Kewarganegaraan Yang Tinggi

Apa sebenarnya hubungannya antara topik tugas Kewarganegaraan “Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan” dengan “Memiliki Rasa Kewarganegaraan Yang Tinggi”? Mengapa saya kaitkan keduanya, akan saya jabarkan berikut ini. Pertama, di bahas mengenai Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan, tentu saja bagi saya. Kedua, hubungan antara judul yang saya berikan dengan topik yang telah ditetapkan.

Setiap kali mendengar kata kewarganegaraan, secara tidak langsung otak merespon dan mengaitkan kewarganegaraan dengan pelajaran kewarganegaraan pada saat sekolah, dan mata kuliah kewarganegaraan pada saat kuliah. Bisa jadi kata kewarganegaraan di dalam memori otak tersimpan kuat karena setiap tahun dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas ada pelajaran kewarganegaraan yang harus dipelajari, dan ternyata saat kuliah juga ada.

Awal Mula Pendidikan Kewarganegaraan dan Keengganan untuk Memepelajarinya

Pendidikan Kewarganegaraan menjadi mata pelajaran setelah terpecah dari PPKN ataupun Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Mengapa awalnya di gabung menjadi satu? Karena isi dari Pendidikan Kewarganegaraan sendiri besumber dari Pancasila itu sendiri. Selanjutnya di pecah menjadi mata pelajaran sendiri karena Pendidikan Kewarganegaraan dianggap penting untuk di ajarkan kepada siswa dan dalam Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan materi kewarganegaraan yang lebih luas dan tidak hanya bersumber langsung dari Pancasila.

Mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan bagi sebagian mahasiswa tidak ubahnya mempelajari Pancasila tahap dua, atau bahkan tidak jauh berbeda dengan Pendidikan Moral Pancasila dan Sejarah Bangsa. Beberapa materinya memang berkaitan ataupun sama. Itulah mengapa banyak yang tidak suka ataupun tidak mau mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan. Bisa jadi karena bosan ataupun dianggap tidak penting seperti Matematika, Fisika, Kimia, dan lainnya. Pada akhirnya Pendidikan Kewarganegaraan selalu saja di anak tirikan dalam setiap pembelajaran.

Selanjutnya ada hal yang membuat banyak orang dan terutama mahasiswa enggan mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan. Ketika zaman Orde Baru Pendidikan Kewarganegaraan yang bersumber langsung dari Pancasila dan UUD dijadikan sebuah alat untuk mengambil keuntungan bagi beberapa pihak. Bukannya sebagai warga negara yang taat dan melaksanakan Pancasila, tapi beberapa pihak tersebut malah menjadikan Pancasila, UUD, dan Pendidikan kewarganegaraan untuk melegalkan apapun keinginan mereka. Akhirnya banyak yang tidak percaya lagi dan kemudian berkembang menjadi keengganan untuk mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan tersebut.

Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan

Padahal sesungguhnya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan seharusnya menjadi hal yang lebih utama di banding dengan pendidikan yang lainnya. Pendidikan Kewarganegaraan lah yang mengajarkan bagaimana seseorang menjadi warga negara yang lebih bertanggung jawab. Karena kewarganegaraan itu tidak dapat diwariskan begitu saja melainkan harus dipelajari dan di alami oleh masing-masing orang. Apalagi negara kita sedang menuju menjadi negara yang demokratis, maka secara tidak langsung warga negaranya harus lebih aktif dan partisipatif. Oleh karena itu kita sebagai mahasiswa harus memepelajarinya, agar kita bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi negara.

Pendidikan Kewarganegaraan juga mengajarkan bagaimana warga negara itu tidak hanya tunduk dan patuh terhadap negara, tetapi juga mengajarkan bagaimana sesungguhnya warga negara itu harus toleran dan mandiri. Pendidikan ini membuat setiap generasi baru memiliki ilmu pengetahuan, pengembangan keahlian, dan juga pengembangan karakter publik. Pengembangan komunikasi dengan lingkungan yang lebih luas juga tecakup dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Meskipun pengembangan tersebut bisa dipelajari tanpa menempuh Pendidikan Kewarganegaran, akan lebih baik lagi jika Pendidikan ini di manfaatkan untuk pengambangan diri seluas-luasnya.

Memiliki Rasa Kewarganegaraan yang Tinggi

Selanjutnya dijelaskan tentang hubungan antara perlunya memepelajari Pendidikan Kewarganegaraan dengan memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi. Beberapa paragraf di atas telah mengemukakan bagaimana dan mengapa Pendidikan Kewarganegaran itu menjadi penting untuk dipelajari. Pendidikan Kewarganegaran menjadi penting karena memiliki manfaat yang begitu besar. Sedang memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi tersebut merupakan salah satu manfaatnya.

Sebagai mahasiswa yang menempuh Pendidikan Kewarganegaran akan menjadi tahu betul mafaatnya. Salah satunya adalah menjadi seseorang yang memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi. Hal ini tidak hanya mengenai bagaimana rasa bangga menjadi seorang warga dari sebuah negara, akan tetapi juga mengatahui bagaimana hak dan kewajiban dari seorang warga negara. Jika kita mengerti dan paham betul apa yang di ajarkan dalam Pendidikan Kewarganegaraan pasti kita akan memiliki rasa kewarganegaraan yang tinggi.

Kita akan menghargai kewarganegaraan yang kita miliki. Kita bangga akan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Tentu saja kita akan paham bagaimana memperlakukan diri kita terhadap negara. Sikap ini berhubungan dengan pentingnya mempelajari Pendidikan Kewarganegaraan yang menjadikan warga negara menjadi aktif, toleran, dan partisipatif. Apapun yang terjadi di Negara kita, kita akan menjadi aktif untuk selalu mendukung. Toleran dengan keberagaman yang dimiliki negara Indonesia. Serta partisipatif dengan hal kebaikan apapun yang diselenggarakan oleh negara.

Rasa kewarganegaraan yang tinggi, akan membuat kita tidak akan mudah goyah dengan iming-iming kejayaan yang sifatnya hanya sementara. Selain itu kita tidak akan mudah menyerap secara langsung budaya yang bukan berasal dari Indonesia dan juga menghargai segala nilai-nilai yang berlaku di negara kita. Memiliki sikap tersebut tentu tidak bisa kita peroleh begitu saja tanpa belajar. Oleh karena itu mengapa Pendidikan Kewarganegaraan masih sangat penting untuk kita pelajari.

Kemudian dapat dipahami bahwa Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting manfaatnya, maka di masa depan harus segera dilakukan perubahan secara mendasar konsep, orientasi, materi, metode dan evaluasi pembelajarannya. Tujuannya adalah agar membangun kesadaran para pelajar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakan sebaik-baiknya dengan cara demokratis dan juga terdidik. [Ditulis oleh: Maika Sandra Puspita, 2007/253616/PA/11728, Geofisika --> 90]

Lihat Seri : 001 ,002 , 003 , 004 , 005 ,