Studi terbaru yang perlu anda simak:
Wanita yang optimis hidup lebih lama, lebih sehat dibandingkan wanita yang pesimistis, kata beberapa peneliti AS, Kamis, 5 Maret 2009, dalam studi yang mungkin memberi kaum pesimistis satu lagi alasan untuk menggerutu. Para peneliti di University of Pittsburgh mengkaji angka rata-rata kematian dan kondisi kesehatan kronis di kalangan pasien dalam studi Women`s Health Initiative –yang telah mengikuti perkembangan lebih dari 100.000 perempuan yang berusia 50 tahun ke atas sejak 1994.

Time : optimis, berdamai dengan situasi
Perempuan yang memiliki sifat optimis –orang yang memperkirakan sesuatu yang baik dan bukan buruk akan terjadi– 14 persen kurang mungkin untuk meninggal akibat penyebab apa pun dibandingkan dengan wanita yang pesimis, dan 30 persen kurang mungkin untuk menghembuskan nafas akibat sakit jantung setelah delapan tahun pengamatan dalam studi tersebut. Wanita yang optimis juga kurang mungkin untuk menghadapi tekanan darah tinggi, diabetes atau menghisap rokok.
Tim tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Hilary Tindle, juga meneliti perempuan yang sangat tak percaya pada orang lain –satu kelompok yang mereka sebut “bermusuhan sangat sinis”– dan membandingkan mereka dengan perempuan yang lebih mempercayai orang lain. Perempuan di dalam kelompok bermusuhan secara sinis cenderung untuk setuju dengan pertanyaan seperti: “Saya seringkali harus menerima perintah dari seseorang yang tak mengetahui sebanyak yang saya ketahui” atau “Paling aman tak mempercayai seorang pun”, kata Tindle dalam suatu wawancara telefon dengan wartawan kantor berita Inggris, Reuters. “Pertanyaan ini membuktikan rasa tak percaya umum pada orang lain,” kata Tindle, yang menyajikan studinya dalam pertemuan tahunan American Psychosomatic Society di Chicago. Pola berfikir semacam itu merenggut korban. “Perempuan yang bermusuhan secara sinis 16 persen lebih mungkin untuk meninggal (selama masa studi) dibandingkan dengan perempuan yang tak terlalu bermusuhan secara sinis,” kata Tindle. Mereka juga 23 persen lebih mungkin menemui ajal akibat kanker.
Tindle mengatakan studi itu tak membuktikan sikap negatif mengakibatkan dampak kesehatan negatif, tapi ia mengatakan semua temuan tersebut benar-benar akan memperlihatkan keterkaitan pada suatu hari nanti. “Saya kira kita benar-benar memerlukan penelitian lebih lanjut guna merancang pengobatan yang akan ditujukan kepada sikap manusia guna melihat apakah semua itu dapat diubah dan apakah perubahan itu bermanfaat bagi kesehatan,” katanya. Dan Tindle mengatakan meskipun wanita pesimitis mungkin berpendapat, “Takdir saya sudah diputuskan. Tak ada yang dapat saya lakukan, saya tak yakin itu benar. Kita `kan tidak tahu”.
Nah, jelas khan … kalau anda membaca tulisan terkait di blog ini juga, pasti anda (para wanita tercinta) akan berfikir secara smart dan jernih dalam memandang dan menjalani kehidupan ini. Nggak perlulah terlalu “takut” dengan manusia lain (laki-laki, misalnya) dalam memperjuangkan hidup dan kehidupannya, optimis saja, sekarang sudah banyak perempuan yang punya talenta dan kemampuan yahud kok, serta siap bersaing “head to head”, nggak perlu meminta-minta untuk disejajarkan secara kekhususan melalui aturan afirmatif segala atas nama gender, tapi berkarya, berkarya dan berkarya …. itu sudah otomatis akan bisa “merubah” keadaan. Berkarya dimana-mana tetap bisa, termasuk yang ingin jadi ibu rumah tangga secara “profesional” dan menelurkan/mendampingi anak-anak yang sukses dunia akhirat itu juga punya nilai bagus. Apalagi yang mau berkarya di luar rumah tanpa melupakan kewajiban di dalam rumahnya, itu juga optimis saja Insya Allah berhasil, sepanjang niat tulus, tentu berhasil tanpa “menuduh” ataupun “menyudutkan” yang lainnya sebagai pengancam kerawanan/kekerasan! Optimislah.
Terakhir, selamat ya, hari ini khan Hari Perempuan Internasional , Wanita Indonesia oke juga kok!







