Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for March 25th, 2009

Internet lagi, internet lagi, lagi-lagi internet …. bisa lebih murah nggak?

In bLog, country, daya, e-gov, eKsekutif, hAm, indonesia, informasi, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAnajemen, money, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, peace, polusi, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi on Wednesday , 25 March 2009 at 1:40 PM

Sebuah pernyataan manis disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dalam sambutannya di acara International Workshop On Women Empowerment Information Technology, Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, 24 Maret 2009. Apa?

“Ibu-ibu rumah tangga yang ingin mengembangkan usaha tanpa harus terlihat bekerja dapat menggunakan internet sebagai sarananya. Selain menambah pengetahuan, konsep e-business ini memberi kesempatan kepada mereka dalam mencari nafkah tambahan.”

“Perempuan Indonesia terhambat masalah kultural, mereka tidak disukai terlihat bekerja seperti business woman pada umumnya. Mereka tetap dituntut untuk terlihat seperi ibu rumah tangga”

“Kesempatan berbisnis tidak boleh lepas dari tangan wanita. Wanita yang berbisnis, bukan sebagai suatu usaha untuk menyaingi laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Justru hal tersebut bisa mengurangi beban laki-laki dalam mencari nafkah”

Pelatihan yang juga diikuti perwakilan 9 negara di Asia itu diharapkan dapat membuat ibu-ibu rumah tangga melek internet. Untuk kemudian mempromosikan produk-produk usahanya lewat e-commerce. Wah, ini pemahaman yang bagus khan? Masalah pemanfaatan internet masuk, masalah hubungan wanita dan pria masuk, masalah produktivitas SDM Indonesia, ok juga.

Sementara ada informasi lain yang menyatakan internet sebagai teknologi yang wajib digeluti sesuai tuntutan zaman, tak hanya diajarkan di lingkungan pendidikan saja. Melalui lingkungan tempat tinggal, internet bisa lebih cepat disosialisasikan. Hal ini sedang dicoba dilakukan Telkom dengan dibukanya Broadband Learning Center (BLC) di tiap Rukun Warga (RW) wilayah propinsi DKI Jakarta. Keberadaan BLC diharapkan memberi manfaat kepada masyarakat untuk belajar internet. Banyak yang sudah faham, melalui internet, kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan yang up to date, meningkatkan pengetahuan, mencari informasi, pekerjaan ataupun peluang bisnis. Pelatihan internet telah dilakukan di 15 RW dengan jumlah peserta hampir 1.600 orang. Jenis pelatihan internet yang diajarkan antara lain mengenai dasar-dasar internet, web design (blog sederhana), office application (word, excel, power point) dengan bentuk pelatihan teori dan praktek. Sedangkan, Telkom telah menyediakan 3.500 titik hotspot di 2.500 lokasi yang tersebar di wilayah Jabodetabek, termasuk di tiap kecamatan dan kelurahan. Ini juga pemikiran, tindakan dan program yang cemerlang untuk “mengupdate” serta “mengupgrade” masyarakat supaya makin melek dan memanfaatkan internet secara lebih maksimum.

Tapi, tahukah saudara apa tantangannya semua itu, sekarang ini? Sumber listrik byar pet dan Ongkos koneksi internet mahal di Indonesia!

Katanya Pemerintah mau mengupayakan tarif internet akan turun tahun ini. Alasannya, kebutuhan masyarakat terhadap internet terus meningkat dan tahun 2015 pemerintah menargetkan 50 persen penduduk Indonesia melek TI.  Juga difahami, terlambat mengakselerasi penggunaan internet, maka kita akan menjadi bangsa yang tertinggal.

Lho? Nggak perlu banyak omong deh. Buktikan saja, biaya internet bisa lebih murah dan lebih cepat agar kita tidak terlambat “membuka mata, telinga, hati, dan yang lebih penting OTAK”, dibanding negara dan bangsa lain. Nggak perlu menyatakan segala, bahwa “Target pemerintah tersebut tidak akan berhasil jika tidak disokong oleh pihak-pihak lain. Menurutnya pembangunan infastruktur sangat tergantung pada public private corporation seperti PT Telkom”. Kok belum-belum sudah pesimis? Lemes deh … Slogannya apa, bersama kita bisa ya?

Begitu juga soal listriknya (power) bisa lebih murah dan lebih stabil nggak, masak byar pet melulu? Lha kok malah sekarang PLN bikin upaya pembayaran online via bank, dan ongkosnya dibebankan ke pelanggan, ealah ….

Jadi, masih ingin internetan? Pasti deh, wong anak-anak SMP saja (di Yogyakarta lho, mungkin di kota anda juga khan!) menyerahkan tugas/PR ke gurunya sudah by email je …. masak menghindari internet?. Yang dihindari mestinya BIAYA INTERNET YANG SEKARANG MASIH MAHAL ITU …………………………..!

Cara 2 menguliti parpol/capres: Kualitas, integritas dan kredibilitas tokohnya?

In bLog, country, dEmokrasi, damai, e-goverment, eKsekutif, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOrupsi, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, peace, pers, sumber daya, survai on Wednesday , 25 March 2009 at 1:10 PM

Saya sudah menulis Cara 1 menguliti parpol/capres: Apakah selaras antara visi & misi parpol/capres dengan Alinea 4 Pembukaan UUD 1945?

Saya melihat perlu ada lagi KEIDEALAN lanjutannya, yaitu Cara 2. Apakah itu? Lihat tokohnya, Caleg/Capres/Pengurus parpolnya.  Yang dilihat dan dicermati apanya ya? Oh, mudah sekali, kalau ingin Indonesia maju dengan pemimpin yang kuat dan bermartabat lihatlah kualitas tokoh-tokoh yang maju dan ingin memimpin dari 3 hal, Pemahaman Identitas Nasionalnya, Integritas Nasionalnya dan Kredibilitas Nasional dan Internasionalnya.

Apalagi ini?

Identitas Nasional yang diusung dan dijalankan harus berkarakter Indonesia. Begitupun dalam mengelola seni berdemokrasi di Indonesia, nggak boleh mengekor apa adanya dari Barat ataupun Timur Tengah. Ini Indonesia. Identitas Nasional dari mulai Pancasila, UUD 1945, NKRI dan pluralisme nggak boleh diabaikan begitu saja, dalam kampanye ataupun kebijakan nyata. Tokoh-tokoh itu (Caleg/Capres/Pengurus parpol) memahami 100%  hal ini? Telusurilah ….

Integritas Nasional, bisa dilihat khan? “Demi Indonesia” dan “Demi Rakyat” yang diusung dan didengung-dengungkan dalam kampanye serta diurai dalam agenda parpol/pribadinya, betulkah sudah sejak lama, konsisten dilakukan atau hanya “kecap saja” sekadar pemanis untuk melariskan jualannya? Bagaimana dulu-dulu sebelum tampil di panggung Pemilu, ketahuan kok … apa yang sudah dilakukan. Nggak mungkinlah tiba-tiba dalam waktu singkat bisa berubah dan merubah setting berfikirnya, dan kelakuannya, pasti KAMUFLASE. Belum lagi kalau melihat integritas diri pribadi dan keluarganya, ach mana bisa dipercaya tokoh-tokoh itu? Mana ada negara, dan bangsa bisa maju kalau dipimpin tokoh yang hanya punya karismatik belaka, tapi inner pribadinya bobrok (terus dikemas seperti berlian yang kemilau…biar banyak orang tertipu, seolah-olah punya inner beauty). Apalagi yang keluarganya sama sekali nggak bisa dijadikan teladan bagi keluarga-keluarga Indonesia …. Apakah anda mau termasuk ORANG YANG KETIPU? Inner Beauty apa ya? 3B katanya: Brain, Behaviour & Body. Betul ya? Apa perlu jadi 4b, ditambah: Belonging …. Indonesia.

Kredibilitas Nasional dan Internasional itu penting saudara. Kalau tokoh-tokoh yang mejeng nggak punya standar kredibilitas tinggi secara nasional dan internasional, apa yang dapat diharapkan? Negara dan bangsa kita ntar banyak “diketawain” dan “diremehkan” bangsa lain ….  Mengangkat derajat dan rasa bangga rakyat Indonesia? Omong kosong. Kredibilitas diri pribadinya saja rendah, bagaimana mungkin bisa mengentaskan bangsa Indonesia dengan kredibilitas yang baik? Diajak mikir saja susah, diajak debat saja susah, diajak cari solusi apalagi, sudah nggak jamannya lagi model kepemimpinan karismatik tanpa kredibilitas.  Nggak jamannya lagi kepempinan paternalistik, rakyat/akar rumput ngikut saja apapun yang dikatakan pemimpin, apapaun yang dilakukan pemimpin, entah salah entah bener, wah kalau sudah begini diteruskan, hancur negara bangsa ini … Kita ini hidup di negara besar saudara, plural dan multikultural, jangan main-main memilih tokoh yang mau dijadikan pemimpin bangsa dan negara ini, apakah itu caleg maupun capres.  Sekali saja dalam Pemilu salah pilih, kita menderita awalnya cuma 5 tahun, tapi eksesnya bisa bertahun-tahun …. WASPADALAH!

Sekadar pembanding, lihatlah kriteria versi lain, yang dimunculkan dari Lemhanas …………….

Kalau menurut Versi Lemhanas kriteria Presiden Ideal, sebagaimana disampaikan Gubernur Lemhanas dalam konferensi pers “Prediksi Kerawanan Sosial Menjelang, Selama, dan Pascapemilu 2009″ di Ruang Nusantara, Gedung Lemhanas, 24 Maret 2009:

a. Memiliki integritas yang tinggi dan berasal dari keluarga yang baik-baik.

b. Memiliki kriteria moralitas sosial; mereka harus profesional dan mempunyai tanggung jawab sosial yang tinggi.

c. Memiliki moralitas institusional; tidak pernah mencederai negara kesatuan, UUD 1945, Pancasila, dan menghargai pluralisme.

d. Memiliki moralitas global, artinya harus punya wacana global; karena Indonesia menjadi bagian dari dunia internasional.

Dikatakan kriteria untuk Presiden, tetapi dalam penjelasannya, Gubernur Lemhanas menyatakan kriteria ini juga dapat digunakan untuk “menguliti” Caleg-Caleg yang sekarang lagi bergentayangan … di sekitar anda!

Waspadalah!