Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for June 10th, 2009

Saya suka terganggu dengan kata “Internasional”

In country on Wednesday , 10 June 2009 at 6:00 PM

Sesungguhnya saya merasakan gangguan dari kata “Internasional” ini sudah cukup lama. Jauh sebelum kasus Ibu Prita dengan RS. Omni Internasional mencuat. Saya suka merenungkan makna kata “Internasional” yang menempel pada berbagai produk/jasa, program pendidikan ataupun intitusi/perusahaan yang semakain jamak berkembang di Indonesia.

Saya awalnya sering memperhatikan kata “Internasional” yang menempel di beberapa bandara kita di Indonesia. Ini lumrah karena saya sering “melewati” bandara-bandara itu. Kata “Internasional” yang sepertinya menempatkan standar tinggi dalam operasional, pemeliharaan dan pelayanan bandara agaknya nggak sepadan dengan kenyataannya. Tingkat kualitas pelayanannya begitu-begitu saja, parkirannya begitu-begitu juga. Kebersihannya? Lihat saja sendiri. Bahkan setelah melihat beberapa bandara di dunia yang masuk ranking bagus (10 besar begitu) ternyata nggak perlu susah-susah ada tempelan kata “Internasional“, tapi jadi rujukan standar bandara yang bagus.

Kalau soal kata “Internasional” yang menempel di RS. Omni Internasional saya nggak perlu menulis lagi-lah karena sudah banyak rekan-rekan blogger dan media cetak/elektronik lainnya yang “menguliti”-nya. Ya, memang begitulah faktanya …..

Ada lagi di dunia pendidikan: SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Apa sih bedanya dengan yang reguler, akselerasi atau lainnya? Apa dikarenakan dalam proses pendidikannya menggunakan bahasa internasional (Inggris), sementara hal-hal lainnya nggak berbeda secara signifikan dengan program lain, lalau pantas ditempeli kata “Internasional“? Aneh! Kualitas standar internasional atau bahasa yang dipakai sebagai legitimasi? Nggak penting itu kata “Internasional” ditempel, semestinya yang lebih penting kualitas hasil didiknya yang utama! Di luar negeri juga nggak ada sekolah tingkat SMA yang perlu dilabel “Internasional“. Ini Indonesia kok nganeh-nganehin sendiri? Memang kalau pakai SBN (Sekolah Berstandar Nasional) turut derajat begitu? Kalau produk/barang pabrikan khan sudah ada standarnya yaitu SNI. Jadi, nyata-nyata kata “Internasional” hanya tempelan belaka, kebanyakan nggak merujuk dan nggak menunjukkan pada nilai produk/jasa yang berkualitas internasional/tinggi kok!

Wis, banyak yang lainnya yang memakai kata “Internasional” ternyata hanya untuk kedok! Bahkan cenderung menipu! Berhati-hatilah …

Laporan keuangan Pemerintah “disclaimer” 5 tahun berturut-turut. Komentar anda?

In anggaran on Wednesday , 10 June 2009 at 4:00 PM

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) kembali tidak memberikan pendapat (disclaimer) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2008. Ini berarti selama 5 tahun berturut-turut sejak 2004 BPK telah memberikan opini disclaimer atas LKKP. Demikian diungkapkan Ketua BPK Anwar Nasution ketika menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) LKPP tahun 2008 kepada pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/6). “LKKP merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pemerintah pusat atas pelaksanaan APBN sebagaimana diatur dalam UU Keuangan Negara,” kata Anwar.

Berdasar laporan yang disampaikan Anwar terdapat 9 kelompok persoalan yang ditemukan BPK, berkaitan dengan pemberian opini disclaimer pada LKPP 2008, di antaranya belum adanya sikronisasi UU Keuangan Negara 2003-2004 dengan UU Perpajakan dan UU PNBP, masih adanya berbagai jenis pungutan yang tidak memiliki dasar hukum dan dikelola di luar mekanisme APBN, belum adanya keterpaduan antara Sistem Akuntansi Umum di Departemen Keuangan dengan Sistem Akuntansi Instansi di departemen lain sehingga ada selisih, dan rekening liar belum terintegrasi dan terekonsiliasi dalam suatu treasury single account. Selain itu, BPK juga menemukan kelemahan dalam tiga bidang yakni kelemahan dalam sistem pengendalian intern atas penyajian LKPP, ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan pemerintah belum menindaklanjuti hasil-hasil peneriksaan BPK tahun 2004-2007.

Kelemahan bidang pertama yang menonjol ada 9 hal, di antaranya hibah yang diterima langsung oleh 15 K/L minimal Rp 3,93 triliun tidak dipertanggungjawabkan dalam mekanisme APBN, pencatatan atas penarikan pinjaman luar negeri di LKKP 2008 tidak berdasar dokumen sumber valid, dan pemerintah belum menetapkan kebijakan akuntabilitas atas penertiban promissory notes kepada lembaga internasional Rp 28,29 triliun dan belum mengakui utang kepada BI sebesar Rp 2,83 triliun atas dana talangan dalam rangka keanggotaan pada lembaga tersebut.

Selanjutnya untuk ketidakpatuhan departemen terhadap peraturan perundang-undangan ada enam hal yang terkait, di antaranya pungutan/dana pada 11 kementrian negara/lembaga tidak ada dasar hukumnya dan dikelola di luar mekanisme APBN minimal Rp 703,99 miliar, penetapan alokasi DAK tidak sesuai dengan UU No 33 Tahun 2004 sehingga terdapat penyaluran DAK Rp 1,28 triliun ke daerah tidak layak, dan pengeluaran atas pengajuan SPM sebesar Rp 9,95 miliar yang dibayarkan melalui KPPN Jakarta II diduga fiktif.

Sedangkan untuk temuan berikutnya, BPK mengatakan bahwa ada 131 temuannya atas LKPP tahun 2004-2007 belum ditindaklanjuti pemerintah. Temuan yang sedang dan belum ditindaklanjuti antara lain penyempurnaan sistem informasi penyusunan LKPP, penyempurnaan peraturan penyaluran dan pertanggungjawaban belanja sosial, penertiban pungutan yang dilakukan oleh kementerian/lembaga, dan penertiban dalam penetapan kelompok anggaran dan realisasinya.

Terhadap laporan ini, Anwar atas nama BPK mempunyai harapan kepada DPD. “Kami berharap agar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas LKPP tahun 2008 ini dapat membantu DPD memberikan pertimbangan kepada DPR dalam pengambilan keputusan atas rancangan UU Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2008,” kata Anwar kepada Ketua DPD Ginanjar Kartasamita.

Di acara ini juga ada penandatanganan kesepakatan bersama antara BPK dan DPD tentang Tata Cara Penyerahan Hasil Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia kepada DPD RI. Menurut Anwar, tujuannya adalah untuk meningkatkan efektivitas hubungan kerja antara BPK dan DPD sesuai dengan kewenangannya. Referensi

Anda punya komentar? Silakan saja di-posting. Siapa tahu anda ternyata punya ide dan pemikiran yang cemerlang untuk membuat Indonesia lebih baik …

Melihat daftar bandara terbaik dunia, bandara di Indonesia ada dimana?

In indonesia on Wednesday , 10 June 2009 at 2:00 PM

Bandara Incheon di ibu kota Korea Selatan, Seoul, terpilih sebagai bandara terbaik di dunia. Demikian hasil jajak pendapat grup konsultan Inggris, Skytrax, Selasa, 9 Juni 2009, yang mewawancarai 8,6 juta penumpang dari 190 bandara di seluruh dunia.

Hongkong berada di urutan kedua, sementara bandara Changi di Singapura urutan ketiga. Selanjutnya disusul bandara Zurich, Swiss, dan Munich, Jerman di urutan empat dan lima. Bandara Kansai, Jepang, dan Kuala Lumpur, Malaysia di urutan enam dan tujuh. Sedangkan Bandara Schiphol di Amsterdam menempati posisi kedelapan, disusul Central Nagoya, Jepang dan Auckland, Selandia Baru.

WORLD’S TOP 10 AIRPORTS

2009

2008

1

Incheon International Airport

3
2

Hong Kong International Airport

1
3

Singapore Changi

2
4

Zurich

8
5

Munich

5
6

Kansai

6
7

Kuala Lumpur

4
8

Amsterdam

11
9

Centrair Nagoya

12
10

Auckland

20

Lha, bandara yang ada di Indonesia ada di ranking berapa? Apa memang nggak ada bandara dari Indonesia yang masuk kelompok terbaik ya? Coba anda cek sendiri saja …………..

Yuk, dukung Taman Nasional Komodo sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia ….

In country on Wednesday , 10 June 2009 at 12:00 PM

Kalau kita cinta Indonesia tentu kita mesti tahu bahwa Taman Nasional Komodo,

Indonesia’s Komodo National Park includes the three larger islands Komodo, Rinca and Padar, as well as numerous smaller ones, for a total area of 1,817 square kilometers (603 square kilometers of it land). The national park was founded in 1980 to protect the Komodo dragon. Later, it was also dedicated to protecting other species, including marine animals. The islands of the national park are of volcanic origin.

lagi “bertarung” untuk memperebutkan tempat sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia (yang baru).

Kalau kita sebagai WNI Nomor 1, tentu ingin mendukung hal ini secara langsung. Bagaimana caranya?  Ikuti dan isi pollingnya disini.

Terus bagaimana cara melihat ranking hasilnya secara live. Gampang, pantau saja disini. Posisi Taman Nasional Komodo yang masuk Grup E (Forest, National Parks, Nature Reserves) sekarang masih di ranking 9. Wah belum masuk 7 besar nhi … ayo dukung dong, dan kabarkan ke teman-teman lainnya sesama blogger atau rekan chating untuk ikut mendukung, biar nama Indonesia makin populer dan ada bagian Indonesia yang masuk 7 keajaiban dunia yang baru! Ini juga bagian dari pengembangan pariwisata kita ……………………..

Kalau kita cuek bebek hal-hal beginian, lihatlah hal yang sangat menyakitkan. Pulau Sipadan (yang dulu punya kita, sekarang dikuasai Malingsia, eh, Malaysia) ternyata bertengger di ranking 4 Grup B (islands). Mangkelkan dengernya?

Jadi, ayo kita dukung Taman Nasional Komodo kita yang aduhai itu …………… sekarang juga!

Bahasa Inggris punya sejuta kata hari rabu ini?

In indonesia on Wednesday , 10 June 2009 at 10:21 AM

Untuk anda yang punya perhatian terhadap perkembangan bahasa dan matematika ini ada artikel menarik yang patut kita baca, bersumber dari CNN.

Bahasa Inggris (bakal) berisi lebih banyak kata-kata dibanding bahasa lain di planet ini dan akan mendapat tambahan kata hingga sejuta pada awal Rabu ini, menurut Global Language Monitor, sebuah situs yang menggunakan rumus matematika untuk menaksir bagaimana sering kata-kata diciptakan. Situs ini menaksir sejuta kata akan tercapai pada hari Rabu jam 5:22 pagi. Proses hitung langsung telah menghitung ada 999.985 kata bahasa Inggris mulai Selasa sore. Hingga kini (rabu siang WIB) proses countdown tinggal sekitar 6 jam lagi menuju sejuta kata.

Ketepatan sejuta kata”, bagaimanapun, telah membuat orang yang melakukan projek hitungan kata suatu bahasa ini seperti suatu pariah di dalam masyarakat ilmu bahasa. Beberapa ahli bahasa mengatakan adalah mustahil untuk menghitung banyaknya kata-kata dalam suatu bahasa sebab bahasa-bahasa adalah selalu berubah, sebab mendefinisikan apa yang disebut sebagai kata adalah satu usaha tanpa berbuah. Paul J.J. Payack, presiden dan pemimpin analis kata Global Language, Monitor, mengatakan, bagaimanapun, bahwa estimasi jutaan kata tidaklah sepenting seperti gagasan di belakang projeknya, yang untuk menunjukkan bahwa Bahasa Inggris sudah menjadi suatu bahasa global dan kompleks. “Itulah sebuah bahasa manusia,” katanya.

Bahasa-bahasa lain, seperti Perancis, menurut Payack, menaruh dinding besar di sekitar kosa kata mereka. Bahasa Inggris justru membawa bahasa lain ke dalamnya. “Bahasa Inggris mempunyai tradisi menelan kata-kata baru secara utuh,” katanya. “Bahasa-bahasa lain menterjemahkan.” Internet, perdagangan global dan perjalanan global telah mempercepat kecenderungan meletakkan Bahasa Inggris dalam relasi dengan banyak  kelompok-kelompok ilmu bahasa lainnya. Ini membuat Bahasa Inggris lebih rumit dan kaya, karena senantiasa punya terminologi baru. Meski demikian, Payack mengatakan ia tidak mengikutsertakan semua kata-kata baru di dalam perhitungannya. Kata-kata harus dipertimbangkan setidaknya digunakan paling sedikit 60 persen di dunia oleh pejabat formal. Dan mereka harus bisa dipertimbangkan telah sampai pada masyarakat yang berbeda komunitasnya. Satu istilah teknologi baru yang hanya dipahami di Lembah Silikon tidak akan dihitung sebagai sebuah kata yang medunia.

Model komputernya mengecek total dari 5.000 situs, kamus-kamus, penerbitan-penerbitan ilmiah dan artikel-artikel berita untuk melihat bagaimana sering kata-kata digunakan. Satu kata harus membuat 25.000 penampilan untuk dianggap sah. Payack menyatakan suatu kejadian berita juga mempunyai dorongan perluasan secara cepat terhadap Bahasa Inggris, yang ia katakan mempunyai lebih banyak kata-kata dibandingkan dengan bahasa lain. Bahasa Cina mandarin saja hanya memasukkan sekitar 450.000 kata. Terminologi bahasa Inggris seperti “Obamamania”, “defriend”, “wardrobe malfunction”, “zombie banks”, “shovel ready” dan “recessionista” semuanya tumbuh bersamaan kecenderungan berita terbaru yang beredar sekitar pemilihan presiden, penurunan drastis ekonomi dunia, online networking atau suatu peristiwa olahraga, kata Prayack. Sedangkan bahasa-bahasa lain tidak mengembangkan terminologi baru dalam berhubungan dengan fenomena semacam itu.

Ahli-ahli bahasa yang berbicara dengan CNN berkata mereka tidak sepakat dengan hasil hitungan Payack, tetapi mereka setuju bahwa Bahasa Inggris secara umum mempunyai kata-kata lebih banyak dibanding bahasa-bahasa lainnya. “Ini adalah kenyataan bahwa anda  tidak bisa menghitung,” kata Jesse Sheidlower, editor Kamus bahasa Inggris Oxford. “Tak seorangpun dapat menghitung itu, dan untuk menganggap diri bahwa anda dapat menghitung secara total pasti nggak beres. Itu menyederhanakan hal-hal yang tidak bisa dilakukan.” Kamus bahasa Inggris Oxford saja mempunyai sekitar 600.000 kata, menurut Sheidlower. Itupun belum meliputi semua kata-kata. Sebagai contoh, Sheidlower mengatakan “great-great-great-great-great grandfather” bisakah dipertimbangkan sebagai satu kata, tetapi nyatanya tidak akan ada di dalam kamus. Hal yang sama dengan angka-angka, yang bisa dihitung berdasarkan satuannya “twenty” dan “three” – tetapi tidak selalu sebagai kelompok, seperti “two-hundred twenty-three.”

Bagian apa yang membuat determinasi banyaknya kata-kata dalam suatu bahasa sangatlah sulit adalah dikarenakan sangat banyaknya akar kata dan varian-variannya, kata Sarah Thomason, presiden Masyarakat Bahasa Amerika yang seorang profesor linguistik di University Michigan. Di dalam bahasa orang asli Alaska, dia berkata, ada lusinan kata untuk salju, tetapi diantara kata-kata itu terhubung bersama-sama dan tidak akan dihitung secara individu. Apakah itu berarti, bahwa “slush”, “powder” dan kata-kata salju lainnya di dalam Bahasa Inggris harus dihitung sebagai satu entri? Thomason menyebut penghitungan jutaan kata sebagai sebuah “gagasan yang menggairahkan” namun itu “semua hanyalah hiburan bukanlah suatu substansi.

Ahli kamus dan ahli bahasa menghadapi kesulitan-kesulitan bila berusaha untuk menghitung kata-kata yang satu pengejaan tetapi dapat mempunyai beberapa arti, menurut Allan Metcalf Allan, seorang Profesor bahasa Inggris pada Perguruan Tinggi MacMurray di Illinois, dan seorang pengurus Masyarakat dialek Amerika. Kata bear dan b-e-a-r – apakah dua kata atau satu kata, sebagai contoh. Anda mempunyai satu kata benda yang satu makhluk liar dan kemudian juga b-e-a-r, yang berarti lain. “Jadi kenyataannya sangat tidak eksak apabila anda bisa menghitung kata yang jutaan itu“.

Payack berkata ia tidak mempertimbangkannya sebagai kepastian dalam perhitungan, hanya saja sebagai suatu penilaian yang menarik berdasar pada ukuran-ukuran kriteria yang sudah ia kembangkan. “Itu selalu satu estimasi,” katanya. “Itu seperti tingginya Puncak Everest adalah satu estimasi juga. Tingginya Puncak Everest sudah berubah 5 kali di dalam seumur hidupku sebab ketika kita mendapatkan alat lebih baik, estimasi juga mendapatkan hasil lebih baik.” Ia berkata, penghitungannya mempunya arti merayakan Bahasa Inggris sebagai bahasa global. Dan, ketika ia berkata dalam bahasa-bahasa lain diingatkan adanya perluasan bahasa Inggris. Ini merupakan suatu hal sangat besar pengaruhnya bahwa sangat banyak orang-orang hari ini bisa berkomunikasi dengan daftar kata-kata seperti itu.

Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Sepertinya punya enri kata yang lebih banyak lagi ya …. lebih dari sejuta mungkin, apalagi kalau diperkaya dengan bahasa-bahasa daerah. Ini salah satu Identitas Bangsa Indonesia lho. Sudah ada yang meneliti?