Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Archive for June 29th, 2009

Asuransi dan Saya: Ikut asuransi mengapa takut?

In bLog on Monday , 29 June 2009 at 6:03 PM

SEKADAR PENDAHULUAN

Perkenalan saya dengan asuransi dapat dikatakan suatu kebetulan. Namun, bisa juga dianggap jalan takdir kehidupan yang digariskan terhadap saya beserta keluarga. Sewaktu kuliah S1-Matematika saya sudah mengenal asuransi dari mata kuliah Matematika Asuransi. Sehingga saya punya landasan cukup dalam memahami soal hitung-hitungan probabilitas dan teori-teori kemungkinan yang tidak saja “bermain-main” dengan kondisi ketidakpastian tapi juga keterhubungannya langsung dengan realitas kehidupan. Bukankah di wilayah inilah asuransi menawarkan solusi!

Ada hal yang lebih menguatkan saya dalam mengenal dan menjemput program asuransi, yaitu saat saya telah memasuki dunia kerja, yang menurut kebanyakan orang penuh resiko, sebagai Perwira TNI AU. Saat itulah saya memahami keterkaitan resiko dan jaminan masa depan, terutama untuk keluarga saya. Apalagi dalam pandangan saya perjalanan kehidupan ke depan pasti semakin penuh persaingan, semakin saya sadari bahwa manusia tidak mungkin menghindar dari takdir sebagai manusia, soal hidup dan mati, kapanpun bisa menghampiri, dengan tanda-tanda terlebih dahulu ataupun secara tiba-tiba.

Saya menulis hal ini bukanlah dalam kerangka testimoni, namun saya ingin mengajak kita semua terbuka dalam berfikir dan menjalani kehidupan ini, yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakberdayaan sebagai manusia untuk menghindar dari takdir. Kondisi demikian, tidak berarti membuat kita berdiam diri tanpa mencari jalan terbaik untuk masa depan, terutama bagi keluarga (yang sewaktu-waktu mungkin saja harus ditinggalkan). Saya tidak ingin keluarga (terutama anak-anak) yang mungkin saja saya tinggalkan – secara mendadak – akan mengalami “kesulitan-kesulitan” dalam mengarungi kehidupan nantinya. asuransi_2

SEBUAH PENGALAMAN

Saya ikut asuransi prosesnya simple saja. Meski pada kenyataannya saya sudah mengerti seluk beluk asuransi, tetapi pada awal-awal bekerjasaya sengaja menunda dulu ikut asuransi, menunggu beberapa saat mau saving dulu. Nah, kebetulan suatu saat ada Pameran Pembangunan di Yogyakarta, saya sempat mengunjunginya dan mampir ke stand AJB Bumiputera 1912. Gara-gara mampir inilah, kira-kira sebulan berikutnya ada agen asuransi berkunjung ke rumah dinas saya. Intinya ya menawarkan agar saya mau ikut asuransi. Hanya beberapa kali pertemuan, saya akhirnya ikut mengambil polis Asuransi Pendidikan mulai 1 Oktober 1993, selama 15 tahun. Nomor polisnya 93163499. Tahun 2008 asuransi anak pertama saya itu telah tuntas, tanpa masalah yang berarti. Alhamdulillah. Dan, sekarang masih ada 2 asuransi di AJB Bumiputera 1912 yang masih berjalan atas nama dua anak kembar saya, dan Insya Allah, ini akan menjadi jaminan pendidikan sampai mereka selesai kuliah nantinya. Mereka berdua sekarang baru naik ke kelas 3 SD, lho.

Pada awal ikut asuransi saya memang harus bergelut dengan pemikiran dan kekhawatiran, antara manfaat dan “kehilangan” uang, serta seberapa pastikah jaminan yang diberikan AJB Bumiputera 1912, terutama dengan cerita-cerita “bablasnya“  uang premi yang digondol oleh agen asuransi. Makanya saya pernah sempatkan diri untuk mencoba membayar langsung ke Kantor AJB Bumiputera 1912 yang diYogyakarta, meski secara rutin biasanya pembayaran premi melalui sang agen. Eh, ternyata tidak ada masalah, lancar-lancar saja. Saya juga pernah mengurus sendiri untuk  mendapatkan pembayaran pertama (masuk SD) karena memang ada rasa kekhawatiran soal nyampai nggak uang yang dibayarkan nantinya, lancar juga. Sekarang saya dapat menyatakan sesungguhnya lebih enak dan praktis diuruskan oleh agen asuransi. Toh, itu sudah pekerjaan mereka sehari-hari. Jadi, sekarang ini saya tahunya beres dari agen asuransi yang menguruskan segala hal administrasinya, dari pembayaran premi, sampai pengurusan uang pertanggungan. Bahkan hubungan kami dengan agen asuransi ya seperti teman/rekan kerja saja, kami bahkan sering komunikasi tentang hal-hal di luar masalah asuransi. Padahal dulu asalnya juga nggak kenal sama sekali.

Suatu waktu agen asuransi saya pernah bercerita tentang tanggapan salah satu teman saya yang sedang dia lobi untuk ikut asuransi, eh malah memberikan tanggapan “setengah marah” karena khawatir dirinya ditipu oleh agen saya itu. Bahkan dengan bahasa yang agak kasar.  Hal ini muncul karena teman saya tersebut pernah dapat cerita dari seseorang yang pernah ikut asuransi, nggak tahu perusahaannya apa, terus ternyata memang nggak beres dan hilang uangnya. Trauma temannya itulah yang mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa semua asuransi bobrok. Dari cerita agen saya itu, saya memberi saran ya sabar saja, memang kepala dan pikiran orang per orang itu berbeda-beda, saya menawarkan kalau mau menggunakan saya sebagi referensi boleh juga, nggak masalah. Bagi saya ini masalah pemahaman antara probabilitas, ketidakpastian, proteksi dan jaminan kehidupan masa depan keluarga, agar tidak terlantar tanpa ada yang bisa memastikannya.

Saya juga punya pengalaman soal menukar nilai polis asuransi. Saya punya teman yang pada periode reformasi 1998 sudah ikut asuransi juga, tetapi tergoda untuk menukarnya/menjualnya. Mengapa? Dikarenakan yang bersangkutan ikut asuransi dalam uang dollar, sementara saya ikut dalam rupiah (saya bangga dengan uang Indonesia). Nah, sekitar waktu itu kurs dollar memang edan-edanan karena mencapai Rp.15.000,- per satu dollar. Makanya teman saya itu antusias untuk menukar/menjual asuransinya, karena kurs yang tinggi itu. Saya pun diajak untuk menukarkannya, dengan alasan, siapa tahu kurs uang dollar makin naik saja, sehingga menurutnya uang rupiah makin kurang berarti. Wouw, tawaran menarik? Ach, nggaklah, saya nggak mau menukarkannya, saya mempertahankannya karena memang tujuan saya ikut asuransi itu untuk proteksi masa depan kehidupan keluarga saya.

MENGENAL AJB BUMIPUTERA 1912 LEBIH JAUH

Supaya nggak ragu tetntang AJB Bumiputera 1912, akhirnya saya mencoba mengenal lebih jauh tentang AJB Bumiputera 1912, dengan berbagai cara. Dulu sih belum ada internet, dengan cari brosur-brosurnya kalau ada pameran.  Sekarang mah, tinggal browsing saja. Bagaimana sih sekilas tentang AJB Bumiputera 1912?

AJB Bumiputera 1912, adalah perusahaan asuransi jiwa milik Bangsa Indonesia yang pertama dan tertua. Didirikan di Magelang, Jawa Tengah, pada 12 Februari 1912, perusahaan ini pada mulanya merupakan wadah Persatuan Guru-Guru Hindia Belanda (PGHB) untuk mengayomi nasib guru-guru bumiputera (pribumi). Perintis Bumiputera adalah Mas Ngabehi Dwidjosewojo, seorang guru sederhana yang juga Sekretaris Pengurus Besar Budi Utomo – organisasi modern pelopor gerakan kebangkitan nasional. Ia dibantu Mas K.H. Soebroto sebagai direktur, dan Mas Adimidjojo sebagai bendahara. Ketiga guru inilah yang dikenal sebagai “tiga serangkai” pendiri Bumiputera, sekaligus peletak batu pertama industri asuransi nasional Indonesia. Bumiputera semula bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB.

Salah satu kekuatannya adalah kepemilikan dan bentuk perusahaan yang unik. Berbeda dengan perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) – yang kepemilikannya hanya oleh pemodal tertentu. Sejak didirikan Bumiputera menganut sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha “mutual” atau “usaha bersama”. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan – yang mempercayakan wakil-wakil mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme, yang dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini.

Selama lebih dari sembilan dasawarsa, Bumiputera tumbuh berkembang mengarungi pasang surut zaman serta gelombang perjalanan negara dan bangsa, hingga kini sebagai pemimpin pasar industri asuransi jiwa Indonesia. Karyawannya sekitar 2500 orang, punya 23.000 agen, jaringan digerakkan oleh lebih dari 450 kantor operasional di penjuru nusantara. AJB Bumiputera 1912 dipercaya melindungi lebih dari 7 juta jiwa rakyat Indonesia.

SAYA YAKIN PASAR ASURANSI SEMAKIN MENINGKAT

Di tengah iklim kompetisi yang semakin ketat karena serbuan perusahaan asing menggarap pasar asuransi jiwa nasional, saya yakin AJB Bumiputera 1912 makin berkomitmen untuk bekerja keras, dan profesional menghadapi tantangan masa depan. Berbekal pengalaman panjang melayani rakyat Indonesia berasuransi hampir seabad, AJB Bumiputera 1912 tentu bertekad untuk tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menjadi perusahaan asuransi jiwa terkemuka di Indonesia. Saya yakin AJB Bumiputera 1912 ingin senantiasa berada di benak dan di hati rakyat Indonesia.

Secara umum industri asuransi jiwa sepertinya tetap optimis tumbuh positif, setidaknya terlihat dari data pada kuartal pertama 2009, yang ditandai dengan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat membeli produk jasa keuangan itu di tengah terpaan krisis keuangan global. Menurut Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, untuk kuartal pertama tahun ini untuk asuransi jiwa, optimistis bisa kembali tumbuh setelah pada akhir 2008 pertumbuhannya begitu rendah. Menurut dia, faktor utama tumbuhnya industri jasa keuangan itu tidak terlepas dari semakin tingginya kesadaran masyarakat di tengah kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu akhir-akhir ini. Kondisi yang sama juga pernah terjadi ketika krisis moneter menimpa negara-negara di Asia termasuk Indonesia dan justru membawa dampak positif bagi industri asuransi di Tanah Air.

Prediksi bahwa pertumbuhan rendah yang terjadi selama 2008 hanya bersifat sementara dan ternyata betul walau data pertumbuhan itu sedang dikumpulkan. Optimisme tumbuh positif industri jasa keuangan itu juga didukung oleh faktor semakin membaiknya perekonomian pasar modal dalam negeri seperti yang ditunjukkan dengan naiknya harga saham lokal. Tapi yang jelas pada saat kondisi krisis seperti ini kesadaran masyarakat meningkat dalam membeli produk asuransi untuk memproteksi diri. asuransi_1

IKUT ASURANSI, NGGAK PERLU TAKUT LAGI!

Informasi tentang asuransi yang sudah cukup banyak, juga tentang kualitas perusahaan asuransi yang sangat mudah diakses sekarang ini mestinya mengantarkan kita untuk tidak takut lagi untuk mendaftar asuransi, alias punya polis asuransi. Apalagi sekarang ini banyak masyarakat yang sudah faham bahwa proteksi diri untuk jaminan masa depan (dalam situasi ketidakpastian apa yang akan terjadi nantinya) perlu dipersiapkan sejak dini, agar tidak terjadi kesulitan bagi generasi berikutnya untuk menjalani kehidupan nantinya.

Memang, kalau belum menjalani masih penuh keraguan, namun kalau sudah melaksanakan dan merasakan manfaatnya, tentu berasuransi ini memberikan ketenangan jiwa untuk diri sendiri maupun keluarga. Justru dengan ikut asuransi saya merasakan nggak was-was lagi dengan biaya pendidikan anak-anak dan jaminan masa depannya dari sisi pembiayaaan.

SEKADAR PENUTUP

Sebelum mengakhiri tulisan tentang Asuransi dan Saya ini tentu ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan ke pihak AJB Bumiputera 1912, yaitu:

a. Masalah pengecekan kebenaran agen dan keaslian kondisi/status asuransi yang diikuti, saya harap perusahaan ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara maksimum, sehingga memungkinkan (calon) pemegang polis melakukan pengecekan secara online. Layanan semacam ini sudah jamak, seperti kita mau mengecek kepemilikan nomor kendaraan juga bisa online saat ini. Dan setiap ada perkembangan layanan baru dapat diinfokan ke pemegang polis secara langsung, melalui email ataupun per surat.

b. Masalah pemilihan Badan Perwakilan Anggota yang sebelumnya dengan pengiriman surat, sekarang mestinya dapat dilakukan dengan semacam polling lewat internet/TI. Sehingga semua pemegang polis memungkinkan memberi andil suara dalam pemilihan/polling itu. Tidak seperti sekarang ini, kami saja yang masih aktif sebagai pemegang polis AJB Bumiputera 1912 tidak pernah lagi dapat kesempatan mengusulkan siapa yang mau jadi Badan perwakilan Anggota. Barangkali juga perlu dipertimbangkan tokoh-tokoh daerah yang diusulkan itu tidaklah harus ditentukan berdasarkan jabatan/level pejabat tertentu, karena gaungnya untuk mendukung gebyar asuransi ataupun AJB Bumiputera 1912 nyatanya tidakterlihat nyata, percuma saja. Apalagi kalau dipertanyakan sejauhmana mereka itu benar-benar dapat mewakili kepentingan anggota (pemegang Polis), wong ketemu saja dengan para pemegang polis dalam forum resmi nggak pernah dilakukan.

Demikian sekadar sharing tentang perasuransian bagi pengunjung blog saya, dengan harapan tulisan ini dapat dijadikan referensi awal anda semua untuk mengenal asuransi dan mungkin saja tak menutup kemungkinan anda juga mengikuti saya, mendaftar asuransi demi proteksi masa depan. Toh, resiko kehidupan (kemungkinan kematian) kita juga tidak tahu kapan akan menjemput. Selamat berasuransi. [Drs. H. Mardoto, M.T]

Ada apa dengan WordPress saya?

In bLog on Monday , 29 June 2009 at 2:44 PM

Sewaktu mau Add New Post alias mau posting tulisan baru, muncul beginian, lihat image di bawah yang warna pink. Ada apa dengan WordPress saya ya?

ada_apa_dengan_wordpress

Viruskah, atau ada penyusupan, ada yang tahu?

Bali wae (saja) ning (di) Jawa Tengah

In bLog on Monday , 29 June 2009 at 2:34 PM

Di Yogyakarta, kita sudah terbiasa mendengar kalimat Bali wae ning Yogyakarta, bahkan sudah banyak dipajang di T-Shirt ataupun kaos oblong Made in Yogyakarta ……………….

Namun, sesaat mengamati layanan Live Traffic Feed dari FEEDJIT, saya jadi dapat tambahan lagi pelajaran Geografi, lihat saja, yang saya tandai hijau itu,  Bali, Jawa Tengah ….. jadi sekarang ini Bali wae (saja) ning (di) Jawa Tengah …..

bali_wae_ning_jawa_tengah

FEEDJIT memang unik terkadang menunjukkan suatu tempat yang kita sendiri bingung dimana itu ya, bahkan nyari di Peta Indonesia saja nggak ketemu dengan mudah …

Uniklah ….

Ayo isi Polling Pilpres disini, untuk mengimbangi hasil survai banyak lembaga survai yang sulit dipercaya!

In survai on Monday , 29 June 2009 at 1:36 AM

Pilpres hampir tiba.

Hasil survai bertebaran dimana-mana.

Ada yang suka ada yang benci

Suka karena hasil survai memenangkan Capres-Cawapresnya. Benci karena hasil survai merendahkan Capres-Cawapresnya.

Sudahlah daripada meributkan hasil survai, yang nggak ada habis-habisnya.

Anda sendiri bisa “mempengaruhi” ataupun “menyaingi” ataupun “merubah” hasil survai semuanya.

Caranya? Isilah polling Pilpres di blog ini, sesuka anda, sesuai pilihan anda. Terserah Capres-Cawapres mana yang anda cintai ……….

Mau ngeklik berulang-ulang silakan kalau bisa …… sepertinya nggak bisa, soalnya polling ini berbasis IP-Address.

Mau nyoba silakan …………………. kecuali pakai komputer dan IP-Address berlainan ……………

Ayo, anda bisa mempengaruhi polling Pilpres dengan satu klik di blog ini.

Saya tunggu ……….. sampai 5 Juli 2009.

Perlu ada revolusi persepakbolaan di Indonesia?

In country on Monday , 29 June 2009 at 1:24 AM

Sepak bola Indonesia kembali menunjukkan ke-nyinyir-an. Final Copa Dji Sam Soe Indonesia (CDSSI) berakhir dengan pemogokan pemain Persipura Jayapura. Persipura pun dinyatakan kalah walk out dalam kedudukan kalah 0-1 dari Sriwijaya FC, Minggu, 28 Juni 2009.

Duel bergengsi yang mempertemukan Sriwijaya FC sebagai juara bertahan dan Persipura sebagai juara Liga Super Indonesia itu memang menuai ketidakpuasan. Badan Liga Indonesia baru menetapkan Stadion Stadion Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, sebagai tempat penyelenggaraan pada awal bulan ini. Sriwijaya FC yang akhirnya lolos ke final mendapat keuntungan karena bisa bermain di hadapan pendukungnya sendiri. Akhir buruk pada laga kali ini sangat berseberangan dengan awal pertandingan yang dibuka dengan seremoni meriah. Ratusan penari dan sorotan sinar laser meramaikan dibukanya perebutan gelar juara musim ini. Vokalis musik cadas Godbless Ahmad Albar pun tampil untuk memimpin kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Setelah peluit kick-off dibunyikan, pertandingan pun berjalan menarik. Kedua tim tidak ragu bertukar adegan keras untuk menghalau serangan lawan. Para pemain Papua bermain cepat dan berulang kali melakukan tikaman melalui Boaz Solossa. Namun, kiper Sriwijaya FC Ferry Rotinsulu bermain baik dan berkali-kali menggagalkan upaya Boaz, David Da Rocha, maupun Ernest Jeremiah. Dua menit sebelum istirahat, gawang Ferry kembali mendapat dua ancaman maut. Ancaman pertama datang ketika Ferry berupaya menangkap tendangan lambung dari sayap kiri. Tangkapannya tidak sempurna, tapi bola membentur tiang dan kembali ke tangan sang kiper. Semenit kemudian, tendangan bebas David Da Rocha menuju pojok kiri gawang. Kali ini Ferry berhasil menepisnya.

Di babak kedua, Persipura kembali menunjukkan serangan-serangan cepat. Namun, justru tuan rumah berhasil mencetak gol pada menit ke-51. Mohammad Nasuha mengirim umpan silang dari sayap kiri dan Anoure Richard Obiora berhasil menanduknya di antara kepungan lawan. Gol itu membuat serangan “Laskar Wong Kito” kian deras. Tak lama kemudian, sebuah kemelut terjadi di gawang Jendry Pitoy, namun anak-anak asuh Rahmad Darmawan gagal memanfaatkannya menjadi gol. Persipura membalas kemelut tersebut. Pada menit ke-60, Ian Kabes berhasil mendapat bola di kotak penalti. Tiba-tiba Ferry datang dan berusaha menghalau bola, tapi gerakannya justru menjatuhkan Jeremiah. Bola muntah disambar oleh Boaz, tapi tendangannya (sepertinya) mengenai tangan lawan dan keluar lapangan. Wasit Purwanto tak meniup peluit tanda pelanggaran dan ini membuat kubu Persipura marah. Sejumlah pemain Persipura mendorong wasit dan mengakibatkan kericuhan di lapangan. Tim “Mutiara Hitam” kemudian mogok bermain sehingga laga dihentikan beberapa menit. Puluhan suporter Persipura turun ke lapangan dan membujuk timnya untuk kembali bermain. Hingga 45 menit penghentian waktu, “Mutiara Hitam” tetap menolak melanjutkan pertandingan.

Setelah lebih dari satu jam penghentian, wasit memutuskan Sriwijaya FC sebagai pemenang. Sang juara berhak mendapat hadiah uang senilai dua miliar rupiah, sementara runner-up memperoleh Rp 750 juta. Deltras Sidoarjo menyabet posisi ketiga dengan hadiah Rp 350 juta setelah menang 3-1 atas Persijap Jepara pada duel di tempat yang sama.

Inilah wajah “puncak” sepakbola Indonesia sesungguhnya! Di dalam dan di luar lapangan penuh kekisruhan. Alih-alih mau ikut (jadi tuan rumah) Piala Dunia …………. ampun, mana mampu kalau masih seperti ini? Ini merusak wajah profesional persepakbolaan Indonesia. Saya yakin, para pemain bola yang baik dan benar masih banyak, pelatih dan ofisial juga begitu, wasit dan para pengadil juga masih buaaaaaaaaaanyak yang adil beneran. Pengurus? ya, juga saya yakin masih banyak yang konsisten dan kompeten ……….. cuma, sebenarnya saya melihat hanya segelintir saja personal-personal sekitar persepakbolaan Indonesia yang nggak beres …… sayangnya justru yang segelintir itulah yang sekarang “menguasai”  …… memang perlu ada revolusi dalam persepakbolaan Indonesia! Itu kunci ke depan, kalau sepakbola Indonesia mau maju. Selain itu, sudahlah nggak usah neko-neko dengan kebijakan-kebijakan aneh-aneh dalam percaturan sepakbola Indonesia, ikuti dan patuhi saja aturan sepakbola yang standar … FIFA kek, atauinternasional mana tuh yang “normal” dan “umum”. Tegakkan aturan dengan adil, selesailah sebagian permasalahan …….. jangan campur aduk dengan politik, atau lainnya ……… sepakbola ya sepakbola ….. real sport!

P.S. Saya masih tetap belum setuju kalau sepakbola Indonesia “memangsa” APBD/APBN. Profesional ya harus tetap profesional dengan sistem keuangan profesional ………… nggak boleh nyedot duit rakyat!