Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Posts Tagged ‘aNak’

Rahasia di balik warna-warni makanan

In hIdup on Thursday , 6 August 2009 at 12:01 PM

Berbagai jenis warna dalam makanan ternyata memiliki banyak khasiat yang dapat melindungi manusia dari berbagai jenis penyakit. Warna pada makanan tidak sekedar membuat tampilannya jadi lebih hidup. Pernahkah terbesit dalam pikiran, mengapa apel berwarna merah, jeruk berwarna oranye, bayam berwarna hijau, anggur berwarna ungu, susu berwarna putih, atau cumi berwarna hitam? Warna-warna tersebut rupanya memberikan manfaat bagi tubuh.

Berbagai macam warna pada makanan itu berasal dari senyawa alamiah (pigmen) yang merupakan senyawa fitokimia. Suatu bahan pangan sebenarnya terdiri dari berbagai jenis pigmen, namun warna yang akhirnya muncul adalah warna pigmen yang paling dominan diantara yang lainnya.

Sebuah warna dihasilkan karena adanya kemampuan ikatan kimia suatu pigmen untuk menyeleksi gelombang cahaya yang diserap dan dipantulkan. Sebagai contoh, warna merah yang pada buah apel adalah warna yang dipantulkan oleh pigmen tersebut, sedangkan warna-warna lainnya hanya diserap saja, tidak dipantulkan.

Bambang Nurhadi, STP Msc, dosen dan ahli Teknologi Pangan di Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran mengatakan selain sebagai pemanis tampilan, warna dalam makanan juga memiliki efek fungsional bagi tubuh. “Warna yang berasal dari pigmen pada makanan umumnya memang membawa efek kesehatan bagi tubuh dan bersifat sebagai antioksidan. Bahkan pigmen antosianin yang tergolong pigmen tidak bernutrisi pun masih memiliki sifat antioksidan yang berguna dalam menangkal radikal bebas dalam tubuh,” ujarnya.  Bambang pun menjelaskan bahwa pigmen terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang bernutrisi dan tidak bernutrisi. Pigmen yang bernutrisi artinya ia menyumbangkan zat yang dapat menyehatkan tubuh, seperti beta-karoten yang merupakan provitamin A dan akan diubah menjadi vitamin A dalam tubuh.

Sedangkan vitamin yang tidak bernutrisi artinya ia tidak menyumbang zat (vitamin), tetapi ia memiliki gugus polifenol yang bersifat sebagai antioksidan, contohnya pigmen antosianin. Namun kedua jenis pigmen tersebut sama-sama bermanfaat. Bagaimana sebuah warna dapat memberikan khasiat bahkan menyembuhkan penyakit pada tubuh kita? Orang-orang Mediterania misalnya percaya bahwa buah tomat dapat mengobati penyakit jantung. Kepercayaan mereka ternyata memang beralasan, pasalnya buah tomat mengandung pigmen berwarna merah (likopen) yang merupakan senyawa yang dapat memberikan efek antioksidan yang dapat mencegah oksidasi kolesterol buruk ‘LDL’.

Sebuah penelitian yang dilansir dari health24 pun menyebutkan bahwa seseorang yang melakukan diet mediterania dengan mengonsumsi tomat sebanyak 1 kg (mengandung 60 mg likopen) setiap harinya selama 3 bulan, mengalami penurunan kolesterol LDL dalam darah sebanyak 14%. Selain itu, likopen juga berfungsi sebagai zat antikanker, mengendalikan kadar gula darah dan juga diketahui dapat meningkatkan aktivitas sperma. Likopen dapat ditemukan juga pada apel, pepaya, strawberry, semangka, bayam merah, paprika, daging kerang, ikan salmon, lobster, dan lainnya. Pigmen-pigmen pembentuk warna lainnya pun tak mau kalah menyumbangkan khasiatnya, diantaranya:

Warna Jingga. Pigmen pembentuknya adalah karoten. Beta-karoten merupakan pigmen yang paling umum dan penting bagi tubuh karena merupakan provitamin A yang dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A. Beta-karoten sangat baik untuk kesehatan mata, sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas (anti kanker), antinyeri/peradangan. Karoten banyak terdapat pada wortel, mangga, jeruk, labu kuning, ubi merah, kangkung, bayam, dll.

Warna Kuning. Pigmen pembentuknya adalah xanthophyll. Berfungsi mengurangi risiko kanker, tumor, mencegah kerusakan DNA, mencegah osteoporosis dan juga menjaga kesehatan mata. Xanthopyll banyak terdapat pada jeruk, nanas, melon, pir, timun suri, jagung, telur, kunyit, dll.

Warna Hijau. Pigmen pembentuknya adalah klorofil. Klorofil dan hemoglobin memiliki struktur yang sama, sehingga sering disebut ‘darah hijau’ yang berfungi mentransportasikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Berfungsi pula sebagai zat antibakteri, antikanker. Klorofil banyak terdapat pada alpukat, kiwi, anggur hijau, asparagus, bayam, brokoli, daun singkong, kacang polong, paprika hijau, sawi, dll.

Warna Ungu. Pigmen pembentuknya adalah antosianin. Berfungsi mengobati kanker (payudara, prostat, kulit, pankreas, usus besar), diabetes mellitus, anti peradangan, antibakteri, dan kesehatan mata. Antosianin banyak terdapat pada anggur ungu, plum, manggis, terong ungu, kol ungu, dll.

Warna Putih. Tidak memiliki pigmen yang memantulkan warna tertentu sehingga semua warna yang masuk ke dalam bahan tersebut dipantulkan semua sehingga terlihatlah warna putih. Berfungsi meningkatkan imunitas tubuh dan menyehatkan saluran pencernaan. Buah-buahan yang berwarna putih seperti leci, rambutan dan kengkeng kaya akan vitamin C, bahkan lebih tinggi daripada jeruk. Pangan lainnya yang berwarna putih yaitu susu, sawi putih, tauge, bawang putih, bawang bombay, dll

Warna Hitam. Makanan yang berwarna hitam memang tidak terlalu banyak dijumpai. Cumi-cumi dan cincau hitam merupakan salah satunya. Cumi-cumi mengandung protein yang tinggi, mineral dan asam-asam amino esensial. Tinta cumi pun diiketahui dapat mengaktifkan sel-sel darah putih untuk memerangi kanker. Sedangkan cincau hitam merupakan sumber serat pangan, karbohidrat dan dipercaya dapat mengobati demam, sakit perut, mual, diare dan hipertensi. Selain karena pigmen yang terkandung dalam makan itu sendiri, warna juga sebenarnya dipengaruhi oleh karakteristik permukaan dan lingkungan. “Coba saja bandingkan warna pada apel yang kusam dengan apel yang sudah digosok, pasti warnanya berbeda,” ujar dosen yang menyelesaikan studi S2-nya di Universitas of New South Wales, Australia tersebut. “Warna juga berfungsi dalam proses-proses fisiologis pada hewan dan tumbuhan, seperti untuk menarik binatang (lawan jenis), mempertahankan diri (pada bunglon), proses penyerbukan, dan yang paling penting yaitu merupakan sumber awal dari sebuah makanan itu sendiri (klorofil untuk proses fotosintesis),” ujar Bambang.

Setiap warna alami yang terdapat pada makanan memiliki fungsinya masing-masing. Oleh karena itu mengonsumsi makanan yang berwarna-warni sangat dianjurkan karena dapat mencegah bahkan mengobati kita dari berbagai penyakit. Bambang pun menyarankan agar kita memvariasikan konsumsi sayuran atau makanan yang berwarna dan menyesuaikannya dengan selera serta kemampuan ekonomi yang dimiliki. Satu pesan dari Bambang yang disampaikan yaitu, “Pilihlah buah-buahan atau sayuran sesuai dengan warna pada umumnya, maksudnya jika warna wortel itu adalah oranye, maka jangan mengonsumsi yang warnanya menyimpang“. Begitu banyak khasiat yang ditawarkan alam lewat bahan pangan, namun semuanya tergantung lagi pada pilihan hidup. Mau hidup sehat atau tidak? Ref

CINTA HARUS DIMENGERTI by The Sabian Band

In country on Monday , 27 July 2009 at 9:36 AM

Saat cinta memang harus diakhiri
Saat cinta takkan bisa dimengerti
Engkau tak lagi beri aku
Kesempatan lagi

Aku bukanlah malaikat
Juga bukan makhluk dari surga
Maafkanlah aku
Yang tak sempurna
Di hadapanmu

Hapus rasa hapus cinta hapus kisah
Kini engkau bukanlah milikku
Meski takkan mudah tuk dilupakan
Semua kenangan indah

Aku bukanlah malaikat
Juga bukan makhluk dari surga
Maafkanlah aku
Yang tak sempurna
Di hadapanmu

Saat cinta memang harus diakhiri

PESANNYA : Dengan cinta kita dipertemukan, dengan cinta kita dipisahkan. Oleh sebab itu, mengapa cinta mesti dipandang dari satu arah? Harus dua arah. Cinta bisa mengantarkan rasa bahagia, cinta juga bisa mengantarkan kesedihan mendalam. Apa maknanya? Biarkan cinta berlalu apa adanya. Dan, ingatlah bahwa cinta tidak mesti berarti hubungan satu individu dengan individu lainnya, karena cinta begitu luas. Cinta terhadap negara dan bangsa ini juga sesuatu yang indah kalau kita bisa memeliharanya, menjaganya dan mengaplikasikannya secara baik dan benar. Dengan cinta terhadap negara dan bangsa ini kita dilahirkan, dengan cinta terhadap negara dan bangsa ini kita mengarungi kehidupan, dengan cinta terhadap negara dan bangsa ini kita berbakti sampai menutup mata.

Pemimpin Indonesia: Soal berdemokrasi jangan kalah dengan anak SD dong …

In dEmokrasi on Thursday , 16 July 2009 at 11:53 AM

Siang-siang, anak pulang sekolah cerita sama orang tua soal pemilihan ketua kelas di sekolahnya. Ouw, asyik, mulai kelas 2 SD (sekarang dia kelas 3 SD), setidaknya di tempat sekolah anak saya, pemilihan ketua kelas dilaksanakan dalam bentuk Pemilu, nyontreng nama calon yang diinginkan, diantara teman-temannya sekelas.

anak_demokrasi

Alkisah anak saya, yang sebelumnya sewaktu kelas 2 sudah menjabat sebagai ketua kelas, pada Pemilu kelas 3 kali ini rupanya kalah bersaing dengan temannya, berselisih 4 suara. Sehingga yang jadi ketua kelas ya temannya, yang juga tetangga di lingkungan rumah. Nah, inilah saatnya saya menjelaskan demokrasi ke anak, dengan bahasa yang dimengerti anak saya. Lalu saya menerangkan, dahulu sewaktu kelas 2, boleh jadi teman-temannya memilih dia dan mempercayai dia sebagai ketua kelas, tetapi mungkin sekarang teman-temannya lebih memilih yang lain karena memang temannya itu yang dianggap lebih dipercaya untuk menjabat saat ini. Akhirnya anak saya mengerti, mengapa ada perubahan pemilihan. Lain daripada itu, anak saya ajarkan untuk mengucapkan selamat kepada temannya yang jadi ketua kelas, toh dia juga teman mainnya juga, di sekolah maupun di rumah …..

Lalu, perlu saya suntikkan motivasi juga bahwa untuk bisa dipercaya dan dipilih lagi nantinya, ya harus terus berprestasi dan berteman secara baik-baik dengan semua teman, setidaknya yang sekelas. Nggak ada keributan tuh, karena gagal jadi ketua kelas. Indah khan, demokrasi dapat bersemi dengan baik di tingkat sekolah dasar.

Oleh sebab itu, para pemimpin Indonesia harusnya juga memberikan keteladanan kepada rakyatnya, soal kalah menang dalam Pemilu itu wajar dalam kasanah demokrasi, terimalah secara ksataria ….. nggak perlu ribut-ributlah …. malu sama anak SD.

Ini Dia Alasan Tingginya Perceraian di Ponorogo

In kEluarga on Wednesday , 15 July 2009 at 3:00 PM

Hari-hari ini saya gencar dapat undangan perkawinan. Memang lagi musim ya ….

Tetapi membaca berita tentang Kasus perceraian di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, yang dinilai cukup tinggi, tentu menjadi perhatian kita semua, terutama para calon pengantin, untuk dapat mempersiapkan biduk rumah tangganya secara lebih matang.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama Ponorogo, sepanjang tahun 2008, terdapat 1.331 kasus perceraian yang ditangani. Adapun, hingga Juni 2009, jumlah kasus perceraian yang telah masuk mencapai 651 kasus lebih.

Coba perhatikan rincian alasan perceraian:
* Tidak adanya tanggung jawab dari pasangan, 233 kasus.
* Ketidakharmonisan hubungan yang mencapai 237 kasus.
* Karena alasan ekonomi mencapai 85 kasus.
* Adanya gangguan pihak ketiga sebanyak 50 kasus.
* Cemburu dan kawin paksa masing-masing 14 kasus.
* Karena krisis akhlak, 13 kasus.
* Karena cacat biologis, 5 kasus.
* Kekerasan dalam rumah tangga, 4 kasus.

Nah, untuk yang mau menikah, atau yang sedang menjalani pernikahan, perhatikanlah rumah tangganya sendiri, apakah berpotensi menambah panjang daftar kasus perceraian seperti tersebut di atas? Kalau tanda-tandanya ada, wah lampu kuning tuh, waspadalah …..

Perlu disadari, di Indonesia pernikahan itu bukan sekadar perjumpaan fisik dengan fisik, pikiran dengan pikiran, hati dengan hati, namun lingkungan kehidupan yang kondusif juga menentukan ….

Apakah salah membawa bekal MAMIN dari rumah?

In kEluarga on Monday , 13 July 2009 at 2:44 PM

Apakah salah membawa bekal dari rumah? Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada anda yang sedang mengantar anak-anak  ke sekolah, saya tahu pasti jawabannya: Tidak Salah.

Namun, kalau pertanyaan ini ditujukan kepada anda sendiri yang sedang menuju ke kantor, apakah jawaban anda soal bekal MAMIN (Makanan dan minuman) yang dibawa dari rumah? Pasti tidak tunggal jawabannya.

Sebuah suratkabar nasional, minggu kemarin menulis artikel terkait cara memperoleh makan siang di kantor bagi para pekerja. Kalau pekerja yang telah disediakan MAMIN di kantor oleh perusahaannya/institusinya tidak ada problem berarti, kecuali mungkin “ketidaksesuaian” rasa. Tetapi bagi pekerja yang harus menyediakan sendiri MAMIN di kantor, biasanya ada problem.

Problem yang umum adalah soal dukungan anggaran, waktu untuk memperoleh santap siang dikaitkan lama waktu yang tersedia untuk jam istirahat, dan tentu saja tingkat hygenis-nya makanan yang disantap.

Saya tidak ingin menulis hal-hal itu secara detil. Langsung saja, pendapat saya, paling baik BAWA BEKAL MAMIN dari rumah. Toh, keluarga tentu sudah sangat siap mempersiapkan hal-hal demikian. Rasanya semua problem itu akan tereliminasi kalau mau membawa bekal dari rumah. Apakah mengganggu sosialisasi dengan teman-teman kerja? Menurut saya tidak ada hubungannya. Kalau ingin moderat, ya, secara rutinnya membawa dari rumah, namun kadang-kadang makan di luar kantor atau di dalam kantor (kalau ada kantin/cafe) bersama rekan-rekan kerja.

Menurut saya untuk melakukan hal ini nggak perlu pemikiran yang panjang. Meski saya tahu, ada problem turunannya, yaitu CARA MEMBAWA BEKALNYA. Kalau ke kantor membawa mobil, memang sih nggak terlalu masalah untuk “mencangking” bekal itu, tapi kalau naik motor atau angkutan umum, sepertinya ada kendala teknis ya ….

Sekali lagi, dalam pandangan saya, nggak perlu diribetkanlah, yang penting bisa mengemasnya secara rapi, aman (tidak tumpah), dan membawanya normal-normal saja. Saya mengerti, sesungguhnya bukan masalah teknis membawanya, orang kita tidak ingin melakukan hal ini (membawa bekal MAMIN) dari rumah, sesungguhnya karena : GENGSI.

KB wujudkan keluarga berkualitas

In sumber daya on Wednesday , 1 July 2009 at 8:51 AM

Di Indonesia, tingkat pemahaman tentang penggunaan alat kontrasepsi masih begitu rendah. Hal ini mengakibatkan tingginya laju dan jumlah pertumbuhan penduduk. Pada tahun 2008, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 227 juta jiwa. Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk adalah sebesar 1,27% per tahun untuk periode 2005-2010. Kondisi ini mendudukkan Indonesia pada peringkat ke-4 dari 11 negara berpenduduk lebih dari 100 juta jiwa di tahun 2009. Dengan laju pertumbuhan penduduk yang kurang lebih mencapai 3-4 juta/tahun, diproyeksikan pada 2010 mendatang penduduk Indonesia akan mencapai 233,5 juta dan pada 2014 akan mencapai 244,8 juta jiwa.

Begitu pesatnya pertumbuhan penduduk menjadi persoalan yang mendesak dituntaskan oleh pemerintah, terkait dengan langkah-langkah yang harus ditempuh guna mengendalikan laju pertumbuhan. Demikian dikemukakan Ir. Ambar Rahayu, Direktur Pemandu Kebijakan Program Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Senin (29/6), di Gedung Masri Singarimbun, Magister Studi Kebijakan (MSK) UGM.

Untuk mengendalikan kuantitas penduduk yang demikian besar, BKKBN menargetkan untuk menurunkan laju pertunbuhan penduduk nasional menjadi sekitar 1,1% per tahun. Selain hal itu, juga menurunkan Total Fertility Rate (TFR) menjadi 2,1 per perempuan usia reproduksi dan Net Reproduction Rate (NRR) sama dengan 1. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, imbuh Ambar, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan pemakaian kontrasepsi. Di samping itu, juga dengan meningkatkan pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan reproduksi yang terjangkau, bermutu, serta efektif menuju terbentuknya keluarga kecil berkualitas dan memantapkan kembali pelembagaan paradigma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Keluarga yang sejahtera dan tertata merupakan investasi bagi masa depan bangsa dan negara. Program Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu komponen yang berperan secara signifikan untuk mewujudkan hal ini,” jelasnya dalam seminar “Menatap Masa Depan Keluarga Indonesia”.

Sementara itu, Tri Kirana Muslidatun, S.Psi., istri Wakil Walikota Yogyakarta, yang juga penggiat program KB menyampaikan keikutsertaan laki-laki dalam program KB di kota Yogyakarta masih rendah. Padahal, program KB tidak hanya menjadi tanggung jawab wanita, tetapi juga laki-laki. Untuk itu, masih dibutuhkan upaya-upaya guna meningkatkan partisipasi laki-laki untuk menjadi akseptor KB. “Keberhasilan program KB merupakan tanggung jawab bersama untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga serta mewujudkan keluarga yang berkualitas,” katanya. Referensi

Asuransi dan Saya: Ikut asuransi mengapa takut?

In bLog on Monday , 29 June 2009 at 6:03 PM

SEKADAR PENDAHULUAN

Perkenalan saya dengan asuransi dapat dikatakan suatu kebetulan. Namun, bisa juga dianggap jalan takdir kehidupan yang digariskan terhadap saya beserta keluarga. Sewaktu kuliah S1-Matematika saya sudah mengenal asuransi dari mata kuliah Matematika Asuransi. Sehingga saya punya landasan cukup dalam memahami soal hitung-hitungan probabilitas dan teori-teori kemungkinan yang tidak saja “bermain-main” dengan kondisi ketidakpastian tapi juga keterhubungannya langsung dengan realitas kehidupan. Bukankah di wilayah inilah asuransi menawarkan solusi!

Ada hal yang lebih menguatkan saya dalam mengenal dan menjemput program asuransi, yaitu saat saya telah memasuki dunia kerja, yang menurut kebanyakan orang penuh resiko, sebagai Perwira TNI AU. Saat itulah saya memahami keterkaitan resiko dan jaminan masa depan, terutama untuk keluarga saya. Apalagi dalam pandangan saya perjalanan kehidupan ke depan pasti semakin penuh persaingan, semakin saya sadari bahwa manusia tidak mungkin menghindar dari takdir sebagai manusia, soal hidup dan mati, kapanpun bisa menghampiri, dengan tanda-tanda terlebih dahulu ataupun secara tiba-tiba.

Saya menulis hal ini bukanlah dalam kerangka testimoni, namun saya ingin mengajak kita semua terbuka dalam berfikir dan menjalani kehidupan ini, yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakberdayaan sebagai manusia untuk menghindar dari takdir. Kondisi demikian, tidak berarti membuat kita berdiam diri tanpa mencari jalan terbaik untuk masa depan, terutama bagi keluarga (yang sewaktu-waktu mungkin saja harus ditinggalkan). Saya tidak ingin keluarga (terutama anak-anak) yang mungkin saja saya tinggalkan – secara mendadak – akan mengalami “kesulitan-kesulitan” dalam mengarungi kehidupan nantinya. asuransi_2

SEBUAH PENGALAMAN

Saya ikut asuransi prosesnya simple saja. Meski pada kenyataannya saya sudah mengerti seluk beluk asuransi, tetapi pada awal-awal bekerjasaya sengaja menunda dulu ikut asuransi, menunggu beberapa saat mau saving dulu. Nah, kebetulan suatu saat ada Pameran Pembangunan di Yogyakarta, saya sempat mengunjunginya dan mampir ke stand AJB Bumiputera 1912. Gara-gara mampir inilah, kira-kira sebulan berikutnya ada agen asuransi berkunjung ke rumah dinas saya. Intinya ya menawarkan agar saya mau ikut asuransi. Hanya beberapa kali pertemuan, saya akhirnya ikut mengambil polis Asuransi Pendidikan mulai 1 Oktober 1993, selama 15 tahun. Nomor polisnya 93163499. Tahun 2008 asuransi anak pertama saya itu telah tuntas, tanpa masalah yang berarti. Alhamdulillah. Dan, sekarang masih ada 2 asuransi di AJB Bumiputera 1912 yang masih berjalan atas nama dua anak kembar saya, dan Insya Allah, ini akan menjadi jaminan pendidikan sampai mereka selesai kuliah nantinya. Mereka berdua sekarang baru naik ke kelas 3 SD, lho.

Pada awal ikut asuransi saya memang harus bergelut dengan pemikiran dan kekhawatiran, antara manfaat dan “kehilangan” uang, serta seberapa pastikah jaminan yang diberikan AJB Bumiputera 1912, terutama dengan cerita-cerita “bablasnya“  uang premi yang digondol oleh agen asuransi. Makanya saya pernah sempatkan diri untuk mencoba membayar langsung ke Kantor AJB Bumiputera 1912 yang diYogyakarta, meski secara rutin biasanya pembayaran premi melalui sang agen. Eh, ternyata tidak ada masalah, lancar-lancar saja. Saya juga pernah mengurus sendiri untuk  mendapatkan pembayaran pertama (masuk SD) karena memang ada rasa kekhawatiran soal nyampai nggak uang yang dibayarkan nantinya, lancar juga. Sekarang saya dapat menyatakan sesungguhnya lebih enak dan praktis diuruskan oleh agen asuransi. Toh, itu sudah pekerjaan mereka sehari-hari. Jadi, sekarang ini saya tahunya beres dari agen asuransi yang menguruskan segala hal administrasinya, dari pembayaran premi, sampai pengurusan uang pertanggungan. Bahkan hubungan kami dengan agen asuransi ya seperti teman/rekan kerja saja, kami bahkan sering komunikasi tentang hal-hal di luar masalah asuransi. Padahal dulu asalnya juga nggak kenal sama sekali.

Suatu waktu agen asuransi saya pernah bercerita tentang tanggapan salah satu teman saya yang sedang dia lobi untuk ikut asuransi, eh malah memberikan tanggapan “setengah marah” karena khawatir dirinya ditipu oleh agen saya itu. Bahkan dengan bahasa yang agak kasar.  Hal ini muncul karena teman saya tersebut pernah dapat cerita dari seseorang yang pernah ikut asuransi, nggak tahu perusahaannya apa, terus ternyata memang nggak beres dan hilang uangnya. Trauma temannya itulah yang mengantarkan pada suatu kesimpulan bahwa semua asuransi bobrok. Dari cerita agen saya itu, saya memberi saran ya sabar saja, memang kepala dan pikiran orang per orang itu berbeda-beda, saya menawarkan kalau mau menggunakan saya sebagi referensi boleh juga, nggak masalah. Bagi saya ini masalah pemahaman antara probabilitas, ketidakpastian, proteksi dan jaminan kehidupan masa depan keluarga, agar tidak terlantar tanpa ada yang bisa memastikannya.

Saya juga punya pengalaman soal menukar nilai polis asuransi. Saya punya teman yang pada periode reformasi 1998 sudah ikut asuransi juga, tetapi tergoda untuk menukarnya/menjualnya. Mengapa? Dikarenakan yang bersangkutan ikut asuransi dalam uang dollar, sementara saya ikut dalam rupiah (saya bangga dengan uang Indonesia). Nah, sekitar waktu itu kurs dollar memang edan-edanan karena mencapai Rp.15.000,- per satu dollar. Makanya teman saya itu antusias untuk menukar/menjual asuransinya, karena kurs yang tinggi itu. Saya pun diajak untuk menukarkannya, dengan alasan, siapa tahu kurs uang dollar makin naik saja, sehingga menurutnya uang rupiah makin kurang berarti. Wouw, tawaran menarik? Ach, nggaklah, saya nggak mau menukarkannya, saya mempertahankannya karena memang tujuan saya ikut asuransi itu untuk proteksi masa depan kehidupan keluarga saya.

MENGENAL AJB BUMIPUTERA 1912 LEBIH JAUH

Supaya nggak ragu tetntang AJB Bumiputera 1912, akhirnya saya mencoba mengenal lebih jauh tentang AJB Bumiputera 1912, dengan berbagai cara. Dulu sih belum ada internet, dengan cari brosur-brosurnya kalau ada pameran.  Sekarang mah, tinggal browsing saja. Bagaimana sih sekilas tentang AJB Bumiputera 1912?

AJB Bumiputera 1912, adalah perusahaan asuransi jiwa milik Bangsa Indonesia yang pertama dan tertua. Didirikan di Magelang, Jawa Tengah, pada 12 Februari 1912, perusahaan ini pada mulanya merupakan wadah Persatuan Guru-Guru Hindia Belanda (PGHB) untuk mengayomi nasib guru-guru bumiputera (pribumi). Perintis Bumiputera adalah Mas Ngabehi Dwidjosewojo, seorang guru sederhana yang juga Sekretaris Pengurus Besar Budi Utomo – organisasi modern pelopor gerakan kebangkitan nasional. Ia dibantu Mas K.H. Soebroto sebagai direktur, dan Mas Adimidjojo sebagai bendahara. Ketiga guru inilah yang dikenal sebagai “tiga serangkai” pendiri Bumiputera, sekaligus peletak batu pertama industri asuransi nasional Indonesia. Bumiputera semula bernama Onderlinge Levensverzekering Maatschappij PGHB.

Salah satu kekuatannya adalah kepemilikan dan bentuk perusahaan yang unik. Berbeda dengan perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) – yang kepemilikannya hanya oleh pemodal tertentu. Sejak didirikan Bumiputera menganut sistem kepemilikan dan kepenguasaan yang unik, yakni bentuk badan usaha “mutual” atau “usaha bersama”. Semua pemegang polis adalah pemilik perusahaan – yang mempercayakan wakil-wakil mereka di Badan Perwakilan Anggota (BPA) untuk mengawasi jalannya perusahaan. Asas mutualisme, yang dipadukan dengan idealisme dan profesionalisme pengelolanya, merupakan kekuatan utama Bumiputera hingga hari ini.

Selama lebih dari sembilan dasawarsa, Bumiputera tumbuh berkembang mengarungi pasang surut zaman serta gelombang perjalanan negara dan bangsa, hingga kini sebagai pemimpin pasar industri asuransi jiwa Indonesia. Karyawannya sekitar 2500 orang, punya 23.000 agen, jaringan digerakkan oleh lebih dari 450 kantor operasional di penjuru nusantara. AJB Bumiputera 1912 dipercaya melindungi lebih dari 7 juta jiwa rakyat Indonesia.

SAYA YAKIN PASAR ASURANSI SEMAKIN MENINGKAT

Di tengah iklim kompetisi yang semakin ketat karena serbuan perusahaan asing menggarap pasar asuransi jiwa nasional, saya yakin AJB Bumiputera 1912 makin berkomitmen untuk bekerja keras, dan profesional menghadapi tantangan masa depan. Berbekal pengalaman panjang melayani rakyat Indonesia berasuransi hampir seabad, AJB Bumiputera 1912 tentu bertekad untuk tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menjadi perusahaan asuransi jiwa terkemuka di Indonesia. Saya yakin AJB Bumiputera 1912 ingin senantiasa berada di benak dan di hati rakyat Indonesia.

Secara umum industri asuransi jiwa sepertinya tetap optimis tumbuh positif, setidaknya terlihat dari data pada kuartal pertama 2009, yang ditandai dengan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat membeli produk jasa keuangan itu di tengah terpaan krisis keuangan global. Menurut Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, untuk kuartal pertama tahun ini untuk asuransi jiwa, optimistis bisa kembali tumbuh setelah pada akhir 2008 pertumbuhannya begitu rendah. Menurut dia, faktor utama tumbuhnya industri jasa keuangan itu tidak terlepas dari semakin tingginya kesadaran masyarakat di tengah kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu akhir-akhir ini. Kondisi yang sama juga pernah terjadi ketika krisis moneter menimpa negara-negara di Asia termasuk Indonesia dan justru membawa dampak positif bagi industri asuransi di Tanah Air.

Prediksi bahwa pertumbuhan rendah yang terjadi selama 2008 hanya bersifat sementara dan ternyata betul walau data pertumbuhan itu sedang dikumpulkan. Optimisme tumbuh positif industri jasa keuangan itu juga didukung oleh faktor semakin membaiknya perekonomian pasar modal dalam negeri seperti yang ditunjukkan dengan naiknya harga saham lokal. Tapi yang jelas pada saat kondisi krisis seperti ini kesadaran masyarakat meningkat dalam membeli produk asuransi untuk memproteksi diri. asuransi_1

IKUT ASURANSI, NGGAK PERLU TAKUT LAGI!

Informasi tentang asuransi yang sudah cukup banyak, juga tentang kualitas perusahaan asuransi yang sangat mudah diakses sekarang ini mestinya mengantarkan kita untuk tidak takut lagi untuk mendaftar asuransi, alias punya polis asuransi. Apalagi sekarang ini banyak masyarakat yang sudah faham bahwa proteksi diri untuk jaminan masa depan (dalam situasi ketidakpastian apa yang akan terjadi nantinya) perlu dipersiapkan sejak dini, agar tidak terjadi kesulitan bagi generasi berikutnya untuk menjalani kehidupan nantinya.

Memang, kalau belum menjalani masih penuh keraguan, namun kalau sudah melaksanakan dan merasakan manfaatnya, tentu berasuransi ini memberikan ketenangan jiwa untuk diri sendiri maupun keluarga. Justru dengan ikut asuransi saya merasakan nggak was-was lagi dengan biaya pendidikan anak-anak dan jaminan masa depannya dari sisi pembiayaaan.

SEKADAR PENUTUP

Sebelum mengakhiri tulisan tentang Asuransi dan Saya ini tentu ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan ke pihak AJB Bumiputera 1912, yaitu:

a. Masalah pengecekan kebenaran agen dan keaslian kondisi/status asuransi yang diikuti, saya harap perusahaan ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi secara maksimum, sehingga memungkinkan (calon) pemegang polis melakukan pengecekan secara online. Layanan semacam ini sudah jamak, seperti kita mau mengecek kepemilikan nomor kendaraan juga bisa online saat ini. Dan setiap ada perkembangan layanan baru dapat diinfokan ke pemegang polis secara langsung, melalui email ataupun per surat.

b. Masalah pemilihan Badan Perwakilan Anggota yang sebelumnya dengan pengiriman surat, sekarang mestinya dapat dilakukan dengan semacam polling lewat internet/TI. Sehingga semua pemegang polis memungkinkan memberi andil suara dalam pemilihan/polling itu. Tidak seperti sekarang ini, kami saja yang masih aktif sebagai pemegang polis AJB Bumiputera 1912 tidak pernah lagi dapat kesempatan mengusulkan siapa yang mau jadi Badan perwakilan Anggota. Barangkali juga perlu dipertimbangkan tokoh-tokoh daerah yang diusulkan itu tidaklah harus ditentukan berdasarkan jabatan/level pejabat tertentu, karena gaungnya untuk mendukung gebyar asuransi ataupun AJB Bumiputera 1912 nyatanya tidakterlihat nyata, percuma saja. Apalagi kalau dipertanyakan sejauhmana mereka itu benar-benar dapat mewakili kepentingan anggota (pemegang Polis), wong ketemu saja dengan para pemegang polis dalam forum resmi nggak pernah dilakukan.

Demikian sekadar sharing tentang perasuransian bagi pengunjung blog saya, dengan harapan tulisan ini dapat dijadikan referensi awal anda semua untuk mengenal asuransi dan mungkin saja tak menutup kemungkinan anda juga mengikuti saya, mendaftar asuransi demi proteksi masa depan. Toh, resiko kehidupan (kemungkinan kematian) kita juga tidak tahu kapan akan menjemput. Selamat berasuransi. [Drs. H. Mardoto, M.T]

Bahasa Inggris 600 Guru RSBI “memble”, lalu apa keunggulan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional?

In sumber daya on Thursday , 25 June 2009 at 11:03 AM

Saya sudah pernah menulis Saya suka terganggu dengan kata “Internasional” 10 Juni 2009 yang lalu. Sebagian cukilannya adalah sebagai berikut:

Ada lagi di dunia pendidikan: SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Apa sih bedanya dengan yang reguler, akselerasi atau lainnya? Apa dikarenakan dalam proses pendidikannya menggunakan bahasa internasional (Inggris), sementara hal-hal lainnya nggak berbeda secara signifikan dengan program lain, lalau pantas ditempeli kata “Internasional“? Aneh! Kualitas standar internasional atau bahasa yang dipakai sebagai legitimasi? Nggak penting itu kata “Internasional” ditempel, semestinya yang lebih penting kualitas hasil didiknya yang utama! Di luar negeri juga nggak ada sekolah tingkat SMA yang perlu dilabel “Internasional“. Ini Indonesia kok nganeh-nganehin sendiri? Memang kalau pakai SBN (Sekolah Berstandar Nasional) turut derajat begitu? Kalau produk/barang pabrikan khan sudah ada standarnya yaitu SNI. Jadi, nyata-nyata kata “Internasional” hanya tempelan belaka, kebanyakan nggak merujuk dan nggak menunjukkan pada nilai produk/jasa yang berkualitas internasional/tinggi kok!

Lalu kita denger ada berita terbaru:

Berdasarkan Test of English for International Communication (ToEIC), dari sekitar 600 guru sekolah rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) SMP, SMA, dan SMK di seluruh Indonesia, terungkap bahwa penguasaan bahasa Inggris guru dan kepala sekolahnya rendah. Data tersebut diungkapkan oleh Direktur Tenaga Kependidikan Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Surya Dharma, MPA, Ph D, di Jakarta, Selasa (23/6). Surya mengatakan, penetapan sebagai sekolah berstandar internasional (SBI) ternyata sering mengabaikan tuntutan berbahasa Inggris aktif. Akibatnya, Surya melanjutkan, kemampuan bahasa Inggris guru dan kepala sekolah di sekolah rintisan SBI rendah. “Hasil tes itu menunjukkan standar bahasa Inggris guru dan kepala sekolah RSBI pada umumnya rendah, sebanyak 60 persennya berada pada level paling rendah kemampuan berbahasa,” tutur Surya. Referensi

Sementara, data yang lain menunjukkan penduduk dunia diperkirakan bakal mencapai lima kali lipat pada 2050, menurut mencapai British Council. Artinya, jumlah pengguna Bahasa Inggris juga meningkat lima kali lipat. Konsekuensinya, anak yang tidak menguasai Bahasa Inggris tidak bisa menikmati peluang tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Depdiknas, Mudjito AK, saat Simposium Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar di Jakarta, 26 mei 2009. Karena itu, lanjut Mudjito, kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris tidak terlelakkan. Mutlak untuk setiap orang karena menjadi alat komunikasi penting bagi setiap orang. “Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD telah menjadi kebutuhan dasar, baik diajarkan secara mandiri maupun sebagai bahasa pengantar untuk mata pelajaran lain atau yang dikenal dengan billingual,” kata Mudjito.

Bahkan di beberapa daerah Bahasa Inggris telah menjadi satu muatan lokal. Sayangnya, menurut Penasihat Pendidikan British Council, Itje Chodidjah, sampai saat ini guru belum berhasil menjadi contoh yang baik sebagai pengguna Bahasa Inggris. Akibatnya, pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD masih harus dikembangkan lebih lanjut dan konsisten. Itje mengakui, masih banyak kendala ditemui. Utamanya justru terletak pada guru karena mereka adalah fasilitator dan katalisator yang bisa memantik potensi berbahasa pada siswa. “Permasalahan mendasar mereka adalah pada cara menerapkan bahasanya kepada siswa dan itu banyak penyebabnya,” kata Itje.

Itje menyontohkan, beberapa penyebabnya seperti pemilihan kata yang tidak tepat, pemakaian kata benda yang tidak akrab di kuping si anak, nada bicara yang tidak pas dengan kalimat, serta ekspresi wajah dan sikap tubuh yang kaku dan kadang berbeda dengan kalimat yang keluar dari sang guru. “Karena pemahaman dan praktik Bahasa Inggris para guru saat ini rata-rata Bahasa Inggris kering atau text book, bukan komunikatif,” tandas Itja. Itja menambahkan, hal itu terjadi lantaran proses aktivasi Bahasa Inggris mereka rendah. “Padahal, sebaliknya, mereka harus luwes dan komunikatif. Kunci keberhasillan mereka ada di masalah komunikasi, yaitu penyampaian yang interaktif antara mereka dan siswa, bukan satu arah,” ujar Itja. Referensi

Lalu, kalau sudah begini, apa yang bisa diharapkan? Artinya kata “internasional” di berbagai hal, termasuk dalam Rintisan Sekolah Berstandar Internasional, hanya tempelan belaka? Substansinya nggak sesuai yang diharapkan?

Hasul riset: Internet-an ternyata banyak mengorbankan waktu keluarga lho …

In bLog on Tuesday , 23 June 2009 at 12:00 PM

Kemudahan dan perkembangan internet dianggap mengorbankan keharmonisan keluarga. Waktu kebersamaan dinilai semakin sedikit lantaran banyak anggota keluarga yang lebih memilih untuk berinternet ria.

Michael Gilbert, peneliti senior Center for the Digital Future dari University of Annenberg School for Communication mengatakan, hal itu membuat waktu bagi anggota keluarga bercengkerama secara face to face semakin terkikis. Sebab, setelah seharian dijejali oleh kesibukan kantor dan berbagai aktivitas lainnya setelah pulang ke rumah pun hal yang mereka lakukan adalah eksis di dunia maya. Yakni dengan lebih sering menghabiskan waktu di depan layar komputer.

Dilansir freep, Senin, 22 Juni 2009, studi yang mengetengahkan sisi negatif dari internet bukanlah kali ini saja diungkapkan. Bahkan, sudah ada beberapa riset yang menyatakan bahwa internet menjadi biang keladi yang mengubah gaya hidup jutaan orang Amerika. “Internet berbeda dengan televisi. Internet lebih menonjolkan layanan perorangan dan membuat ketergantungan. Faktor utama ‘keberhasilan’ internet adalah interaktif. Anda hanya tinggal duduk dan memberikan respon,” jelas Gilbert.

Center Digital Future Project sendiri telah melakukan survei kepada sekitar 2.000 keluarga di AS. Ketika tahun 2005, hasil survei menyimpulkan bahwa rata-rata setiap keluarga menghabiskan waktu kebersamaan mereka adalah sekitar 26 jam sebulan. Namun, waktu kebersamaan keluarga tersebut pada 2008 langsung turun drastis menjadi hanya 18 jam per bulan. “Situs jaringan sosial seperti Twitter dan Facebook meledak pada 2007. Pada saat itu, lebih dari setengah orang yang online mengatakan bahwa komunitas online seperti ini sangat penting bagi kehidupan offline mereka,” pungkasnya.

Bagaimana menurut anda? Kalau menururt saya, betul juga. Soalnya mau internetan di kantor takut “ketahuan” pimpinan, kalau di rumah “mencuri waktu” untuk keluarga. Apa mungkin ya internetan di jalanan saja?

Karakter anak anda 25 tahun y.a.d. tergantung bacaan apa yang dibaca hari ini?

In bLog, country on Monday , 22 June 2009 at 7:00 PM

Cerita atau bacaan yang dibaca oleh anak kita saat ini akan memengaruhi karakternya 25 tahun kemudian, apakah si anak itu cerdik, jujur, licik, serta berbagai karakter lain yang baik atau buruk dalam dirinya. Untuk itulah, orang tua perlu pandai-pandai dan bijaksana memilihkan bacaan untuk anaknya. Demikian teori David McClelland tersebut dilontarkan oleh Renny Yaniar, Pemimpin Redaksi Majalah Anak Mombi, dalam diskusi ‘Cerita Rakyat Memperkaya Dunia Dongeng Anak’, Sabtu (21/6), di Jakarta.

Renny menambahkan, untuk teorinya itu McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke-16. Dalam perkembangan selanjutnya, ujar Renny, Inggris terus menjadi negara maju, sebaliknya Spanyol malah mengalami kemunduran. “Mengapa bisa begitu ternyata McClelland, psikolog asal Universitas Harvard, itu mendasari penyebabnya bahwa persoalan karakter anak-anak sebagai generasi penerus bangsanya adalah berlatar dari apa yang mereka baca,” ujar Renny. Menurut McClelland, lanjut Renny, cerita dan dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa-masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi (need for achievement), keberanian untuk mengubah nasib, serta sikap tidak gampang menyerah.

Dongeng-dongeng itu ternyata telah menjadi virus yang mampu membuat anak-anak sebagai penikmatnya dipengaruhi sindroma ingin terus maju dan terus berprestasi tanpa kenal menyerah,” ujar Renny. “Sebaliknya, umumnya dongeng di Spanyol kebanyakan mengandung nilai-nilai komedi berunsur kecerdikan yang licik dan penuh tipu daya, seperti kisah si Kancil,” tambahnya. Untuk itulah, Renny mengisyarakatkan perlunya orang tua zaman sekarang memilih bacaan yang baik untuk putra-putrinya, khususnya yang masih berusia dini. Cerita Rakyat, lanjut Renny, merupakan satu dari sekian banyak bacaan yang perlu menjadi pilihan bagi orang tua. “Cerita rakyat itu imajinatif sehingga sangat baik untuk mengembangkan daya berpikir si anak, apalagi di dalamnya penuh mengandung pesan yang baik soal kejujuran, pantang menyerah, hormat kepada orang dan lain-lain yang selalu bersifat positif,” ujar Renny. Referensi

Bagaimana menurut anda? Tentang anda sendiri?

Kalau anda bacaannya (berkunjungnya ke) blog-blog dan website-website yang begituan ya …. berarti 25 tahun lagi karakter anda jadi begituan juga ya …. eh, malah mungkin nggak sampai 25 tahun, karakter itu sudah terbentuk kali …... atau malah sudah rusak?

Maksudnya bacaan, blog-blog, dan website-website begituan apa hayo? Tahu sendirilah, kita semua pasti sudah tahu …. tapi seringkali pura-pura tidak tahu ….. bagaimana ya “nasib” bangsa-negara ini 25 tahun yang akan datang (Tahun 2034)? Survive?

Awas, jangan keliru melihat bakat anak!

In aNak on Saturday , 20 June 2009 at 11:00 PM

Dua sampai sepuluh persen anak-anak berbakat saat ini cenderung mengalami kesulitan belajar sehingga memerlukan perhatian dan penanganan khusus”.

Satu dari beberapa pakar yang menyatakan hal itu adalah Prof.Dr. Conny Semiawan, yang mengatakan hal tersebut dalam peluncuran bukunya bertajuk ‘Kreativitas Keberbakatan’. Buku tersebut dibedah bersama-sama pakar lainnya seperti pakar pilsafat Prof.Dr. Toeti Herati Roosseno, pakar pendidikan Prof Dr HAR Tilaar, serta sosiolog Imam B Prasodjo, di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurut Conny, kelompok anak-anak berbakat tersebut terdiri dari tiga sub kelompok. Kelompok pertama adalah anak berbakat yang mengalami kesulitan belajar di bidang tertentu. Mereka tidak dikenal sebagai anak berbakat lantaran tertutup oleh rendahnya motivasi belajarnya sendiri. Kelompok kedua adalah anak berbakat yang tidak pernah diketahui sebagai anak berbakat. Hal itu terjadi karena kemampuan dan ketidakmampuannya saling menutupi. Alhasil, potensi sesungguhnya dari si anak tidak pernah terwujud. Si anak akhirnya dianggap hanya sebagai anak berprestasi biasa. Kelompok ketiga merupakan kelompok anak berbakat yang kemampuannya tidak teridentifikasi. Akibatnya, si anak tidak mengerti kinerja intelektualnya. Si anak pun merasa tidak pernah terpenuhi kebutuhannya sebagai anak berbakat.

Biasanya, anak berbakat yang tanpa punya prestasi sesuai potensinya kerap berperilaku rendah diri, mereka seringkali bersikap negatif terhadap sekolah atau gurunya, bersikap selalu defensif, suka menyalahkan orang lain, kedewasaan yang tidak matang, serta punya kebiasaan belajar kurang baik. Sampai akhirnya kondisi si anak akan mencapai tahap under achievement atau menyimpang dari standar prestasi. Hal tersebut tak lain suatu kondisi yang menunjukkan adanya keadaan terpisah antara kognisi dan emosi yang menunjukkan sebuah gangguan sinergi antara rasio dan emosi. Conny menandaskan, kondisi tersebut harus segera ditangani. “Sehingga sangat diperlukan komunikasi antara orangtua dan sekolah atau gurunya, sehingga memungkinkan munculnya harapan untuk memperbaiki penyimpangan tersebut, si anak berbakat pun bisa menjadi anak yang sukses di sekolah sesuai potensinya di kemudian hari,” tambahnya.

Hanya, di sisi lain, beberapa anak berbakat ada pula yang, karena sangat dikagumi dan terlalu sering dipuji, justru cepat mengalami tekanan atau depresi. Pasalnya, kondisi tersebut membuat si anak menjadi sulit untuk bisa mengalami kemajuan jika tiap segala yang dilakukannya tidak mendapatkan pujian.

Sudah memahami? Kalau sudah faham, berarti anda termasuk orang yang NoAch? Apa itu? NoAch = Need of Achievment.Nggak faham juga tentang ini? Ya, berarti anda nggak termasuk hal ini dong. Nggak kelihatan bakatnya ya …

Ternyata Tahun 1918, Indonesia pernah terkena dampak pandemi influenza

In kEwarganegaraan on Saturday , 20 June 2009 at 5:00 PM

Pandemi influenza tahun 1918 merupakan bencana terbesar dalam sejarah penyakit di dunia. Wabah raya dengan cepat meluas, tidak hanya di Amerika Utara dan Eropa, tetapi juga ke Alaska dan pulau-pulau terpencil di Pasifik, dan Asia Tenggara. Bahkan, sejumlah bukti-bukti sejarah menunjukkan, Indonesia pun tidak luput dari dampak pandemi influenza itu. Selama pandemi influenza terjadi saat itu, diperkirakan 28 persen dari populasi penduduk saat itu yang berjumlah 500 juta jiwa terinfeksi. Total kematian yang tercatat akibat pandemi influenza tahun 1918 berkisar 20-40 juta jiwa. Wabah menyebar dengan cepat dari Amerika dan Eropa ke India pada Juni, kemudian ke Asia Tenggara.

Temuan awal penelitian yang dilakukan tim sejarawan dari Universitas Indonesia menunjukkan, sebagian wilayah Indonesia terkena dampak pandemi influenza yang melanda dunia tahun 1918. Wabah yang pertama terdeteksi di Indonesia adalah di wilayah pantai timur Sumatera. Pada akhir Juli, wabah dilaporkan meluas ke Jawa dan Kalimantan, kemudian Bali dan Sulawesi. Wabah meluas sa mpai wilayah Timur kepulauan Nusantara, Maluku dan Timor. Gelombang kedua dari wabah ini terjadi pada bulan Oktober, mencakup wilayah yang lebih luas dan sporadis.

Sejarawan dari UI, Kresno Brahmantyo dan Harto Juwono, menyatakan bukti-bukti sejarah mengenai hal itu antara lain tertuang dalam arsip tentang tentang peringatan Konsulat Jenderal Belanda di Singapura ke Batavia pada Mei 1918 untuk melarang masuknya kapal-kapal dari Hong Kong karena dikhawatirkan membawa wabah Influenza. Bukti lain adalah, telegram Zending van Gouverment atau telegram pemerintah kolonial Belanda yang memperlihatkan betapa gawat situasi saat itu. Data dari arsip temuan awal menyebutkan, minggu ke-27 sampai ke-43 pada 1917 tercatat 230.098 penduduk di Jawa Barat, Jawa Tengah dan J awa Timur (Madura, Bali, Lombok) terserang influenza dan tahun 1918 jumlahnya meningkat jadi 229.566 orang. Periode selanjutnya, pekan ke-44 sampai ke-47 pada 1917 dilaporkan 51.688 kasus dan pada 1918 sebanyak 359.241 kasus. Gelombang kedua wabah ini terjadi Oktober, mencakup wilayah lebih luas dan sporadis. Kepulauan Indonesia Timur paling parah terjangkit wabah ini. Jumlah kematian pun makin tinggi. Di Sulawesi Selatan, laporan misionaris menyatakan kematian ada dimana-mana. Di Tana Toraja, 10 persen dari populasi penduduk meninggal karena flu, di Lombok ada 36.000 orang meninggal.

Atas dasar itu, Pemerintah Hindia Belanda, pada 1920 mengeluarkan undang-undang penanggulangan wabah influenza. Isinya, seruan untuk mengibarkan bendara influenza , dibuat khusus warna merah dikibarkan dari matahari terbenam hingga terbit di daerah-daerah yang terjangkit influenza. Bendera kuning juga harus dikibarkan dari matahari terbit hingga terbenam. Seruan itu ditujukan kepada para Inspektur Dinas Kesehatan, kepala daerah, sekolah, kapal laut, pelabuhan kelas 1-4, kepala pelabuhan dan nahkoda.

Tujuan penelitian

Kresno menyatakan, penelitian itu bertujuan memberi informasi dan sumbangan bagi kalangan medis dan non media dalam penanganan flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza mematikan tentang langkah-langkah yang diambil oleh para dokter dan pemerintah kolonial di masa lalu dalam merespon, menanggulangi dan memitigasi dampak pandemi influenza 1918. Penelitian itu juga untuk memberi sumbangan bagi khasanah penulisan sejarah kesehatan yang belum banyak mendapatkan perhatian dalam historiografi Indonesia. Hasil riset itu jadi titik tolak bagi pengkajian lebih lanjut tentang penyakit influenza bagi penanganan kasus flu burung yang melanda Indonesia dewasa ini serta penanganan penyakit yang berpotensi jadi pandemi lain. Penelitian ini juga memberi bukti-bukti tertulis, gambar, dokumenter serta wawancara kesaksian tentang Pandemi Influenza 1918 agar dapat digunakan sebagai bahan sosialisasi, komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pandemi influenza dan pentingnya kesiapsiagaan pandemi di segala sektor.

Menurut Ketua Pelaksana Harian Komite Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi, temuan awal penelitian itu menunjukkan Indonesia kemungkinan juga bisa terkena dampak dari pan demi influenza A-H1N1 yang saat ini tengah terjadi di dunia. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kasus penularan virus itu perlu terus dilakukan. Referensi

Apa artinya semua ini?

1. Mestinya sudah pernah punya pengalaman soal mengatasi pandemi ya ……. jadi tinggal cari dokumen lagi, soal penanggulangannya masa lalu itu bagaimana, terus disesuaikan dengan kondisi maka kini ya …… cuma, selisih tahunnya sudah jauh banget, tentu kriteria dan variable yang berpengaruh juga sudah banyak yang berubah/berkembang ya ….. jadi tantangan kita semualah soal ini ….

2. Mari biasakan membuat dokumen kejadian day to day soal ini (tentu soal lainnya juga), saya yakin dokumentasi seperti ini akan bermanfaat bagi generasi berikutnya untuk mempelajari masa lalunya … untuk menjalani masa depannya lagi ….. ngeblog juga salah satu cara membuat dokumen lho …

3. Peradaban dan sejarah kehidupan melalui ataupun menggunakan ilmu dan teknologi apapun saya pikir harus ada proses kontinuitas dalam pembelajaran dan pendidikannya biar tidak ada missing link ataupun gap pengetahuan yang telah terjangkau pada suatu masa ……

Hasil riset Symantec : Satu dari lima anak yang internetan ternyata rajin mengunjungi situs porno. Kita harus bagaimana?

In informasi on Thursday , 18 June 2009 at 7:00 PM

Hasil riset Symantec, perusahaan keamanan jaringan dan antivirus Norton :

Satu dari lima anak yang berselancar di Internet, ternyata gemar mengunjungi situs porno dan situs-situs terlarang lainnya. Anak-anak tersebut berusia di bawah 15 tahun. “Dan beragam aktivitas itu tidak diketahui orang tua,” seloroh Effendy Ibrahim, Internet Safety Advocat and Norton Business Lead Asia South Region Symantec, di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (18/6/2009).

Riset tersebut digelar di 12 negara maju di seluruh dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Swedia, sampai China. Meski tak menyertakan Indonesia, namun Symantec yakin ada kemiripan tingkah laku anak jika sudah memasuki dunia maya. “hasil riset ini bisa serupa di tiap negara,” kata Ibrahim.

Untuk mencegah terulangnya kebiasan itu, Symantec pun meluncurkan aplikasi parental tools berbasis web guna melindungi anak-anak. Aplikasi ini katanya berguna bagi orang tua untuk memantau aktivitas anak beserta situs yang dikunjunginya saat ber-internet. “Penggunaannya juga cukup mudah, bahkan orang tua yang gaptek pun bisa menggunakannya,” demikian Ibrahim.

Aplikasi yang bisa diunduh gratis di www.onlinefamily.norton.com itu menyajikan beragam filter yang dapat dikustomisasi pengguna. “Sejauh ini produk family tools masih gratis karena baru diluncurkan satu setengah bulan lalu. Kami mau lihat respon pasar dulu sebelum memutuskan harus berbayar atau tidak,” tandas Ibrahim.

Apa pesannya:

1. Jangan pernah menjustifikasi bahwa anak yang mau ngenet harus dicurigai pasti akan mengunjungi situs porno. Sehingga dilarang ngenet. Wah, ini salah besar. Larang melarang nggak jamannya lagi.

2. Jangan pernah menyalahkan internetnya sebagai perusak mental kepribadian anak-anak. Internet sejatinya sebagai alat, media atau sarana, bisa untuk hal-hal positif maupun hal-hal negatif.

3. Internet sudah menjadi satu kebutuhan manusia (belajar/bekerja) masa kini dan masa depan. Jadi jangan pernah jauhkan anak-anak dari internet, apalagi di rumah, hal ini malah riskan, karena mereka akan mencari dan mengejarnya di luar rumah. Oleh sebab itu, temani, dampingi dan bimbinglah mereka untuk menggunakan internet secara sehat. Bila perlu orang tua (terutama yang belum familiair dengan internet) mau belajar mengerti dan memahami internet, cari informasi dan buku bacaan tentang hal ini, biar bisa “ngimbangi” anak-anaknya.

4. Pasang secara halus aplikasi sebagai filter akses ke situs porno, sekarang sudah banyak yang bisa diperoleh gratis.

5. Imbangi aktivitas anak yang online di internet, dengan aktivitas offline yang mengarah pada penguatan moral kepribadian dan kehidupan beragama. Anak selalu diajak dan terajak untuk mau dan mampu memulai mengambil keputusan soal baik atau buruk, serta salah atau benar, sebagai pilihan yang terbaik dan benar adalah akses ke situs yang non porno.

6. Berikan “pekerjaan” ataupun “tantangan” cara maupun hal-hal yang dapat diakses melalui internet, yang lebih menarik dan bermanfaat dibandingkan dengan mengakses situs porno.

7. Keteladanan orang tua adalah nomer satu!

Budaya baca Indonesia terendah di Asia Timur, waduh bagaimana nhi …

In sumber daya on Thursday , 18 June 2009 at 5:55 PM

Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur. Ini berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD). OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. Karena itu, pengembangan minat baca merupakan solusi yang tepat. Apalagi anak SD yang dibiasakan dengan budaya baca dan tulis memiliki prestasi tinggi dibanding anak SD yang selama enam tahun tidak dibiasakan dengan budaya baca dan tulis. Pembiasaan membaca dan menulis itu harus dilakukan dengan program pemaksaan pinjam buku di perpustakaan, lalu diberi tugas membuat simpulan dari buku yang dipinjam. SD swasta yang melaksanakan hal itu umumnya memiliki prestasi sangat memuaskan dibandingkan sekolah negeri yang belum memiliki kebiasaan itu.

Nah, mau nggak manusia Indonesia lebih maju? Sudah jelas kok, baca, baca, baca …………….. baca dengan hati dan otak! Jangan cuma nonton, nonton, nonton, ….. nonton sinetron yang monoton! Apalagi acara reality show yang “nggegirisi” hi hi hi ….

Inilah tempat melapor jika terjadi pelanggaran pada proses Penerimaan Siswa Baru 2009

In pEndidikan on Friday , 12 June 2009 at 1:00 PM

Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membuka posko pengaduan menjelang Penerimaan Siswa Baru (PSB) tahun ajaran 2009/2010 ini agar masyarakat diminta ikut mengawasi dan berani melaporkan pelanggaran yang terjadi. Persoalan seputar PSB muncul karena lemahnya posisi orangtua. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat membuka posko pengaduan PSB.

JAKARTA:

1. Aliansi Orang Tua Peduli Pendidikan/(ICW) di nomor (021) 70791221

2. Suara Ibu Peduli Pusat (021) 79192358

3. Indonesia Budget Centre (021) 7949637

TANGERANG:

E-Care Tangerang (021) 70623749

GARUT:

Garut Governance Watch (0262) 237323

Sahdar (Sentra Advokasi Hak Untuk Pendidikan Rakyat) 061-77444610/081370909898

PADANG:

Bako di Sumatera Barat (0751) 7848040

YOGYAKARTA: mana?

Mereka membolos atau “pengagguran” ya?

In aNak on Thursday , 11 June 2009 at 2:00 PM

Saya sering sekilas melintas di ruang kantor Tata Usaha (TU) di kompleks kantor saya pada jam kerja pagi, ternyata TV sedang/sudah menyala. Memang sih sepertinya siaran TV nggak terlalu diperhatikan, wong para pegawai pada punya kesibukan masing-masing. Sekadar ada suara-suara-an dan tonton-tonton-an, seperti lazimnya di kantor-kantor lain. Sekadar tahu saja, kalau di ruangan saya sendiri tidak disediakan TV, karena (sepertinya) memang nggak terlalu diharapkan. Hampir semua penghuni ruang ini banyak berkutat dengan kesibukannya sendiri, dan pada umumnya sebuah laptop nggak pernah lepas dari jangkauan penghuni ruang ini. Kalau mau nonton TV (sekilas) atau pas ishoma ya tinggal melangkah ke kantor TU, numpang nonton!

Nah, beberapa kali, meski dalam ke-sesaat-an, siaran acara TV pagi yang kepergok oleh saya adalah acara musik yang siaran langsung. Terlihat banyak sekali anak-muda-belia berkumpul terpusat dan ikut mengerubuti panggung acara musik yang live itu dengan suka cita. Mengelu-elukan artis yang lagi tampil. Ikut bernyanyi-nyanyi juga. Saya senang melihatnya? Nggak juga. Mengapa? Karena saya punya anggapan dan pertanyaan usil tapi logis, pada jam segitu (08.00-10.00) apakah pantas generasi muda kita ada di acara semacam itu? Padahal itu acara (yang cenderung) harian, jadi bukan hari libur. Apakah mereka nggak sekolah? Atau banyak yang membolos!. Apakah mereka tidak kuliah atau ke kantor? Kalau anak kuliahan semua yang punya jam kuliah siang/sore, masak sampai segitu banyak, impossible. Sepertinya tidak orang kantoran juga! Oh, terus mereka itu siapa? Kalau memang hari-hari libur, okelah. Kalau nggak hari libur, jam-jam segitu mereka ada di acara musik semacam itu, pasti nggak sekolah, pasti nggak kerja, APAKAH BETUL MEREKA YANG BERKUMPUL DI SITU PARA PENGANGGURAN? Ach, sedih hati saya kalau memang ini kenyataannya, generasi muda pengangguran kita begitu buaaaanyaknya, padahal mestinya mereka masih dalam usia produktif ……………. Oh, TV-TV, ideologi materialistis kapitalis ……. hiburan semu, penghilang stress sesaat, habis itu kambuh stress lagi!

Ingin sehat? Waspadai ada formalin di piring melamin!

In aNak, bLog, country, global, hAm, hIdup, indonesia, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, pEndidikan, readiness, risiko, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Tuesday , 2 June 2009 at 1:00 PM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat berhati-hati dalam menggunakan perangkat makan berbahan dasar melamin. Pasalnya, dalam kondisi tertentu perangkat tersebut dapat melepaskan formalin yang berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. “BPOM melakukan pengujian terhadap 62 peralatan makan dari melamin dan menemukan 30 diantaranya melepaskan formalin bila digunakan untuk mewadahi makanan yang berair atau berasa asam, terlebih dalam keadaan panas,” kata Kepala BPOM Husniah Rubiana Thamrin Akib di Jakarta, Senin (1/6). Ia mengatakan, menurut hasil pengujian, kadar formalin yang lepas dari perangkat makan melamin kadarnya sangat bervariasi, dari satu bagian per juta (part per million/ppm) hingga 161 bagian per juta. “Penggunaannya dalam jangka panjang berisiko menimbulkan gangguan ginjal dan kandung kemih, gagal ginjal, kerusakan organ tubuh, kanker, hingga kematian,” jelasnya.

Menurut data BPOM, alat makan melamin yang bila digunakan untuk mewadahi makanan berair, asam atau panas melepaskan formalin antara lain gelas dengan tulisan “VGS 4-05A Melamine Ware” dan “Sayota Melamine Ware” pada bagian bawah, sendok makan dengan tulisan “Made in China No.2117, sendok makan “Melamin Ware ADS 7007″, sendok makan bertulisan “8057″, sendok makan “Made in China”, dan sendok makan “Zak Design China 04287.” Selain itu ada pula sendok nasi dengan cap “Melamine Ware”, sendok sayur bercap “IM 508″, garpu bercap “Huafeng No.204″ serta mangkuk bertulisan “VGS 1-83″, “Mei Shing Melamine 110581″, “H.K Melamine No.889″, “ADS-W07-2″, “ADS W06-8B”, “ADS T001″, “Melamine Ware China”, dan “Melamine Ware Estella Disney Made in China not for Microwave Use“. Ada juga piring dengan tulisan “Huamei No.2210P”, “ADS P09-1″, “Melamine Ware T109″ dan “Mei Shing Melamine 109″ serta sodet tanpa penanda.

Menurut Husniah, alat makan melamin berbahaya yang sebagian besar impor dari Cina dan sebagian kecil produk lokal tersebut sulit dikenali secara kasat mata. “Secara fisik kita tidak bisa membedakan perangkat melamin yang melepaskan melamin dan tidak, harus melalui pengujian laboratorium,” katanya. BPOM sendiri, kata Husniah, juga akan berkoordinasi dengan pejabat Departemen Perdagangan dan Departemen Perindustrian untuk memastikan tidak ada lagi impor dan produksi perangkat makan melamin yang berisiko membahayakan kesehatan. “Ini bukan kewenangan kita karena izin bukan kita yang keluarkan. Kita akan berkoordinasi dengan Departemen Perdagangan untuk menghentikan impor barang-barang ini dan dengan Departemen Perindustrian terkait alat yang diproduksi lokal,” katanya.

Direktur Pengawasan Produk dan Bahan Berbahaya BPOM Roland Hutapea menjelaskan, perangkat melamin tersebut dalam kondisi tertentu bisa melepaskan formalin karena tidak dibuat dengan proses dan teknologi yang baik. “Itu sudah ada standarnya, ada standar produksi perangkat berbahan melamin yang aman digunakan untuk tempat makanan, ‘food grade’ istilahnya,” katanya. Roland menambahkan, pihaknya berencana membahas penandaan keamanan perangkat makanan berbahan dasar melamin dengan pihak terkait untuk menjamin keamanan perangkat melamin yang beredar di pasaran. Husniah mengatakan, demi keamanan masyarakat bisa meminta informasi lebih lanjut mengenai produk melamin ke Unit Layanan Pengaduan Konsumen BPOM melalui telepon ke nomor 021-426333/32199000 atau surat elektronik ke ulpk@pom.go.id dan ulpkbadanpom@yahoo.com. Referensi

Kompetisi video game yang membuat matematika tak lagi menakutkan

In aNak, bLog, country, e-gov, eKsekutif, global, hIdup, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, mAtematika, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Tuesday , 26 May 2009 at 3:38 PM

Takut sama matematika? Memang, siapa takut? Wong matematika bukan memedi (pocong) kok ya …

megabowl

Siapa bilang matematika adalah pelajaran yang menyeramkan? Dengan bantuan video game, belajar matematika akan menjadi jauh lebih menyenangkan. Bahkan sebuah kompetisi video game matematika yang bernama MegaBowl digelar di New York. Para pelajar mengikuti kompetisi ini dengan antusias. Mereka larut dalam dunia game multiplayer yang disebut Dimension M. Di sini mereka berkompetisi dalam tim untuk mengerjakan soal matematika dan adu strategi untuk mengalahkan tim lawan. Matematika di Dimension M mencakup matematika dasar hingga Aljabar II. “Mainkan game ini, kemudian kamu akan melihat bahwa jawabanmu benar dan mendapatkan poin. Ketika kamu berhasil menang berkat usaha kerasmu, rasanya sungguh luar biasa,” ujar seorang peserta kompetisi, dikutip dari News8austin, 26 Mei 2009.

Game ini telah diujicobakan di beberapa wilayah New York City, Dallas dan Fort Lauderdale. Selain mendapat respon positif dari pelajar, guru matematika pun menyambut baik kehadiran game tersebut karena membantu memudahkan siswa dalam memahami pelajaran. “Kami melihat Florida sukses menerapkan hal ini, nilai matematika para pelajar meningkat pesat. Kami akan menggunakan video game dalam pelajaran matematika, ilmu alam, dan sosial. Kami ingin menciptakan situasi di mana pelajar mampu menguasai apa yang sedang mereka pelajari,” tandas Troy Fischer, dari Departemen Pendidikan New York City.

Nah, begini lho seharusnya cara mengemas proses pembelajaran/pendidikan. Matematika pun bisa dikemas dalam context entertainment kok. Seru khan … Nggak selalu yang njlimet-njlimet itu sulit ditampilkan, sulit didekati, sulit disosialisasikan, cuma caranya bagaimana gitu yang jitu. Juga janganlah yang gebyar-gebyaran itu cuma idol-idolan penyanyi, penari, reality show , atau komedi nggak mutu itu ….. model game berbau matematika beginian ini khan mendorong prestasi siswa, harus digebyarkan, digencarkan ……… artinya bikin hiburan yang sekaligus meningkatkan kepintaran bermatematika atau ilmu lainnya, syukur-syukur juga meningkatkan kualitas kepribadian siswa!

Eh, omong-omong mau nyoba game-nya ya? Klik saja disini ….

Belajar dari kejadian David di NTU Singapura

In aNak, bLog, country, eValuasi, global, indonesia, informasi, kEluarga, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, ranking, readiness, saing, sumber daya, uang on Wednesday , 4 March 2009 at 8:51 AM

Kejadian David di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.

Diberitakan, Mahasiswa asal Indonesia,  David Hartanto Widjaja usai menikam pembimbingnya Profesor Chan Kap Luk di Nanyang Technological University (NTU), terus bunuh diri dengan melompat dari lantai lima gedung kuliahnya. Di kalangan teman-teman dekatnya, David Hartanto Widjaja dipanggil dengan “Ming Ming”. Mahasiswa Indonesia itu dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Menurut teman-teman David alias Ming Ming, pria berusia 21 tahun itu belakangan ini menarik diri dari teman-temannya. Mereka menduga hal itu disebabkan tekanan akibat studinya.

Kita terkejut.

Kita terkejut karena mahasiswa tersebut dikenal cerdas dan pernah mengikuti Olimpiade Matematika mewakili Indonesia serta mendapatkan medali perunggu. Bahkan kuliahnya di NTU Singapura juga karena mendapat beaiswa dari Asean Scholarship. Apalagi perangai dan aktivitas mahasiswa tersebut selama ini dikenal tidak ada masalah.

Praduga.

Ada yang menduga hal ini terjadi karena David Hartanto Widjaja telah kehilangan beasiswa Asean Scholarship-nya. Juru Bicara Nanyang Technological University (NTU) mengemukakan hal itu kepada The Straits Times melalui email. Namun banyak pula yang menduga sikap profesor Chan telah memicu perbuatan David. Di lingkungan kampus beredar rumor bahwa penusukan yang dilakukan David terhadap Profesor Chan Kap Luk (45) dilatarbelangi ketidakpuasan David atas nilai proyek akhir yang diberikan dosen pembimbingnya itu. Ada dugaan Prof Chan telah memberikan nilai B sedangkan David mengharapkan Chan memberikan nilai A. “Pasti ada yang salah dalam sistem atau sikap dan tindakan prof sehingga membuat dia memutuskan untuk menyerang dan bunuh diri jika dia tak punya masalah mental,” tulis anggota forum dengan nickname MonkeyBusters. Hal senada disampaikan anggota forum dengan nickname Sunnyplaces. “Mungkin mahasiswa itu tidak senang dengan tindakan prof. Mungkin dia merasa apa yang dilakukan atau dikatakan prof padanya membuat dia merasa harus melakukan perbuatan itu. Kadang-kadang ketika terpojok, siapapun bisa menjadi sangat berbahaya,” tulis sunnyplaces.

Belajar dari Kejadian itu …

Apapun, kejadian itu sudah real nggak bisa diputar balik. Tentu dibalik kejadian itu ada hikmah yang dapat diambil untuk pembelajaran siapapun yang mau bersekolah di luar negeri ataupun di luar kota, termasuk bagi orang tua yang mau mengirimkan anaknya ke luar daerah/negaranya.

a. Kualitas komunikasi. Dari informasi kampusnya diketahui David telah kehilangan beasiswa dan menyembunyikan kenyataan itu dari orang tuanya meski mereka telah sering berkomunikasi, sehingga pihak keluarga tidak tahu kalau beasiswa David bermasalah. Menurut ibu David, David selalu mengatakan tidak ada masalah dengan beasiswanya. Teman-teman David juga tidak mengetahui hal tersebut, dan tidak mengira beasiswa David bermasalah. Dari sini, ada hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan anak, jelas masalah komunikasi tampak ada “ketidakterbukaan” secara total. Apalagi komunikasi by phone (karena terpisah) tentu tidak terlihat raut muka yang bisa menyiratkan isi komunikasi sebenarnya. Untuk itu sebelum melepas anak ke luar kota/luar negeri orang tua tentu perlu mengkondisikan kualitas komunikasi yang maksimum, juga selama berpisahan. Diusahakan ada keterbukaan (apalagi jika muncul masalah dengan studinya) karena dengan komunikasi yang baik dan intens akan mengurangi pengambilan negative decision yang akan dipilih oleh si anak. Hal ini dapat dilakukan tanpa perlu memandang anak itu introvert atau extrovert, cari bentuk dan cara komunikasi yang terbaik.

b. Persiapan jangka panjang untuk semua kemungkinan yang akan terjadi.  Perjalanan waktu kuliah yang cukup panjang, 2 tahun, bahkan 4 tahun, pasti menghadirkan ragam masalah dengan banyak kemungkinan bebannya. Untuk itu anak harus diajari menghadapi kondisi emergency (sesuatu kemungkinan yang paling menyakitkan/membebani) dengan contingency plan yang paling realistis. Dalam kondisi darurat atau menghadapi kasus/masalah yang seberat apapun bagaimana anak diingatkan atau dijarkan untuk tetap masih berfikir dalam kotak logika normal! Ini yang harus dikuatkan, jangan sampai anak mengambil jalan pintas yang salah dan melawan hukum sosial ataupun melawan hukum positif.

c. Upaya pembinaan. Ada baiknya orang tua mengantarkan dan memperkenalkan anak pada keluarga/kolega yang dikenal  dan dapat dipercaya ataupun institusi resmi (semacam KBRI kalau di luar negeri) yang ada di kota tempat anak kuliah untuk dijadikan wakil sementara komunikasi antara orang tua dan anak selama anak kuliah di luar kota/luar negeri. Peran ini pasti cukup signifikan dalam meningkatkan pembinaan terhadap para mahasiswa. Artinya agar tidak muncul kejadian serupa terulang di kemudian hari, anak setidaknya pada kesempatan pertama mengalami permasalahan ada yang diajak bicara. Meskipun selama ini hubungan mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan KBRI umumnya sangat bagus, tetapi siapa tahu ada yang loss contact. Setidaknya KBRI (kalau di luar negeri) dibuat seperti rumah sendiri bagi mereka, sedangkan kolega orang tua bisa jadi seperti keluarga sendiri.

d. Persoalan dukungan. Mendapat beasiswa adalah kebanggaan, apalagi untuk pendidikan di luar negeri. Tetapi tetap harus diingat semua beasiswa ada batas dan ketentuannya. Sementara kampus tempat kuliah juga ada aturannya. Jadi harus difahami dukungan finansial juga harus disiapkan untuk kondisi terjelek yang mungkin terjadi. Orang tua harus memahami itu. Karena kehebatan anak dalam studi yang bagaimananpun itu, kalau dihadapkan dengan permasalahan dukungan finansial yang dianggap “tidak terselesaikan” dengan baik dapat mengantarkan kegoncangan yang sangat besar pada diri si anak.

e. Tipe anak yang memiliki kecerdasan luar biasa. Kasus David bisa juga dipandang dari sisi yang agak lain yaitu masalah ukuran intelektual dan logika berfikir. Selama ini dapat kita mengerti anak yang memiliki kecerdasan luar biasa umumnya punya super ego intelektual yang kuat. Semua hal sering diukur dengan logika berfikir. Dengan adanya informasi hubungan antara David dan sang Profesor yang seperti itu, bisa jadi tugas yang dibebankan oleh sang Profesor  ke David mungkin sudah dianggap oleh yang bersangkutan “di luar ambang batas” logika berfikir, artinya kalau dipadankan dengan pemahaman fisika berikutnya ada meta fisika, kalau diterapkan ke kasus David ini logika mungkin sudah di meta logika. Jadi, sang Profesor barangkali menganggap David mampu menembus persoalan/tugas yang diberikan kepadanya, tetapi David sendiri bisa jadi sudah merasa itu “melampaui logika berfikirnya”. Nggak ketemulah. Mungkin, yang satu (pembimbing) over estimate, yang satu (mahasiswa) proportional estimate. Bisa juga cara pandang logika antar mereka berdua terhadap suatu hal tidak “ketemuan”, jadi ada misperception berbasis sains.

Begitu ya? Yang penting mari kita ambil hikmahnya, terutama untuk yang mau kuliah di luar negeri/luar kota, juga orang tuanya, persiapkan secara total, jangan hanya kognitifnya (kemampuan berfikir saja) saja, tapi afektif juga penting …. termasuk juga psikomotoriknya, dan terakhir kemampuan dukungan finansial!, untuk memperlancar studi.

Hati-hati penyalahgunaan kamera tersembunyi alias hidden camera

In aNak, bLog, country, daya, global, hAm, hIdup, kEluarga, kOmputer, pEndidikan, risiko, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Saturday , 14 February 2009 at 12:53 AM

Penemuan ataupun kemajuan suatu produk teknologi selalu saja melahirkan efek samping. Seperti kamera. Kalau dimanfaatkan untuk kebaikan memang banyak ragamnya: membuka tabir kejahatan, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kewenangan maupun kebohongan. Bahkan acara reality show di TV (entah serius reality atau yang bohong-bohongan) jamak menggunakan kamera secara tersembunyi. Bahkan untuk menguak praktek-praktek produksi suatu barang yang ilegal ataupun yang nggak sehat, seringkali jurnalisme investigasi memanfaatkan secara maksimum kamera tersembunyi agar dapat diperoleh data dan fakta yang akurat sehingga bisa diyakini pemirsanya.

mmmm

bikin panas

Produk teknologi kamera sekarang ini sungguh-sungguh mengalami kemajuan sangat pesat. Yang dulu ukurannya besar-besar sekarang sudah nggak populer lagi, kamera kecil sangat banyak bertebaran, bahkan saking kecilnya (bisa lebih kecil dari kancing baju) wujud kamera ini sulit dikenali oleh orang lain, nyaris sempurna dalam penyamarannya. Selain fisiknya yang makin mengecil, ketajamannya juga makin mengagumkan, sehingga dalam kondisi agak gelap pun masih dapat berfungsi dengan baik. Harganya? Juga makin murah saja.

Perkembangan kamera yang demikian pesat tentu mempengaruhi pola pengguna dan penggunaannya, yang dulu selektif dan terbatas, sekarang meluas. Soal aturan penggunaannya? Ya relatif saja. Tetapi produk penggunaan dari kamera ini (hasil shooting-an) pelan tapi pasti sudah mulai bisa diterima sebagai bukti material dalam proses kasus hukum.

Semua perkembangan produk kamera postif? Ya, sebagian. Terus masalahnya? Memang bukan pada penggunaannya. Namun, pada PENYALAHGUNAANNYA! Produk teknologi ini makin sering disalahgunakan, atau juga digunakan secara salah. Untuk apa? Umumnya untuk keuntungan/kesenangan orang yang menyalahgunakan. Bisa juga untuk memuaskan si pelaku yang punya kelainan. Bahkan bisa untuk memperlakukan korban sebagai sapi perahan. Mempermalukan. Mengkomersialkan. Nah, yang rawan kalau pelaku memanfaatkan kamera ini pada wilayah privat. Sangat keterlaluan.

mmm

be carefully

Jadi bagaimana menyikapinya? Berhati-hatilah dimana saja. Cermatlah dengan lingkungan dan situasi sekitar. Di wilayah publik ataupun wilayah privat. Siapa tahu kamar mandi anda sudah dipasangi hidden camera oleh manusia jahat ini? Tapi janganlah muncul ketakutan berlebihan, intinya waspada lebih baik, tapi nggak perlu paranoid.

Sekarang lihatlah kamera di komputer anda (desktop/laptop) kalau ada, siapa tahu kamera anda on dan saya bisa memantau anda? he he he … marilah kita semua berhati-hati ya dengan kamera-kamera usil, yang makin ganas mencari sasaran, apalagi diperparah dengan fakta hampir semua HP sekarang berkamera, sehingga makin banyak saja yang menyalahgunakan ….

Guru berpotensi “mengajak” murid jadi perokok?

In aNak, bLog, country, daya, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, hAm, hIdup, indonesia, informasi, kEluarga, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, risiko, sumber daya on Thursday , 12 February 2009 at 9:11 AM

Kemarin, Rabu sore, 11 Februari 2009, anak saya yang baru kelas 2 SD merengek-rengek untuk segera meminta disiapkan perlengkapan bahan-bahan untuk pelajaran seni & budaya (ketrampilan kerajinan) esok harinya (hari ini). Katanya,  oleh gurunya akan diajari belajar membuat kendaraan/mobil-mobilan. Dari daftar bahan-bahan yang dibutuhkan, saya jadi nggak sreg terhadap sang guru, karena apa? Ternyata, selain bekas kotak odol, kotak korek api, lem , gunting, dan kertas, siswa juga dituntut membawa BUNGKUS ROKOK! Katanya itu juga bahan untuk bikin mobil-mobilan … Ach, aneh pikir saya. Mengapa harus bungkus rokok? Tidak adakah kotak/bungkus lainnya yang lebih sehat dan lebih mendidik sebagai bahan mobil-mobilan? Saya pikir seorang guru juga harus punya sense kependidikan yang luas, nggak sempitlah … memang siswa nggak diajak merokok sih, tapi membawa bungkus rokok (sementara itu, umumnya siswa maunya patuh terhadap sang guru, kalau ditawarkan atau diganti dengan bungkus/kotak lain oleh orang tuanya pasti menolak) adalah pengenalan awal siswa dengan rokok, dan itu guru sekolahnya yang mengajaknya/memperkenalkan! Astaga. Selain itu, untuk mendapatkan bungkusnya tentu harus ada yang membeli rokok, berarti sang guru “seakan-akan” mengajak siapapunlah untuk membeli rokok, bahkan dapat diartikan mengajak muridnya juga …. gawat!

Kebetulan memang saya tidak merokok, tetapi saya tidak anti perokok. Itu hak masing-masing, tetapi kalau guru mestinya dalam konteks pendidikan yang baik dan benar, setiap kegiatan belajar, entah teori maupun praktek, setiap prosesnya harus selalu terjaga, antara tujuan dan cara, termasuk alat dan bahan yang digunakan, yang bersifat mendidik … kalau hal-hal begini diteruskan, berbahaya sekali, nanti ada guru yang meminta muridnya untuk bahan ketrampilan bikin apa gitu, harus bawa botol minuman keras, bawa kaleng bir, wah wah wah jadi apa sekolah kita … mohon para guru yang sudah faham, ikut mengoreksi hal-hal beginian …. termasuk kalau di buku pelajarannya ada yang harus membawa ini itu yang tidak mendidik, nggak usah dipakailah buku semacam ini …. pasti penyusunnya bukan pendidik yang sejati!

Bungkus dalam snack dilumuri “cat” juga, boleh?

In aNak, bLog, hAm, hIdup, informasi, kEluarga, kEwarganegaraan, mAnajemen, nUrani, pEndidikan on Wednesday , 28 January 2009 at 12:45 PM

Saya sempat tertarik dengan snack yang sempat dibeli seorang anak. Mengapa? Bukan karena saya berminat makan isi snack tersebut. Tetapi saya tertarik soal bungkus snack tersebut. Adalah lazim kalau bagian luar bungkus sebuah snack yang umumnya terbuat dari alumunium foil dibuat semenarik mungkin dengan aneka hiasan dan tampilan ngejreng, biar calon konsumen tertarik untuk membelinya. Lumrah itu. Tampilan dalam bungkus snack biasanya terbalik dengan tampilan luar bungkus snack yang meriah itu, karena sepengetahuan saya bungkus dalam snack umumnya putih/bersih tanpa ada cat-cat apapun, jadi warna alumunium foil-nya terlihat jelas. Tentu ini normal, terkait dengan bahan-bahan pewarnaan/cat yang nggak boleh bersentuhan langsung dengan makanan dalam snack tersebut. Jadi ada alasan hygenis/kesehatan. Nah, saya melihat snack berikut ini agak janggal. Lihatlah:

Tampak luar seperti ini: luar

Tampak dalam seperti ini: ddd

Lho, bagian dalam bungkus snack itu pun dipakai untuk woro-woro soal bonus/hadiah. Apa pentingnya? Apa di bagian luar bungkus snack itu nggak cukup lagi? Sebenarnya boleh nggak sih, bagian dalam bungkus snack digunakan/dipoles dengan aneka cat warna seperti itu, yang mungkin dikatakan aman oleh produsen, yang resikonya bersentuhan langsung dengan makanannya? Ada yang bisa menjelaskan? Apakah tidak berbahaya bagi kesehatan si konsumen? Berpotensi menghadirkan penyakit?

Saya bukan orang yang berkecimpung di bidang medis dan makanan, tapi saya akhirnya bilang ke sang anak, daripada nggak yakin soal ini, ya, cari saja snack yang lain.

Apakah ini bukti lalu lintas jogja makin “membahayakan”?

In aNak, bLog, kEluarga, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, nUrani on Wednesday , 7 January 2009 at 1:54 PM

Ketika pagi hari saya berjalan-jalan menelusuri perkampungan di Yogyakarta, lihatlah yang saya lihat ini:

Di perkampungan yogyakarta, terpampanglah papan peringatan untuk pemakai jalan, takut anaknya ketabrak?  ... sudah sedemikian parahkah lalu lintas di yogyakarta?

Pampangan papan peringatan untuk pemakai jalan ini mengekspresikan kondisi lalu lintas di yogyakarta yang kian parah dan membahayakan?

Anda juga merasakan? Mari kita tetap berhati-hati di jalanan Yogyakarta, kapanpun!