Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Posts Tagged ‘bBm’

Mobil anda juga termasuk yang laris di bulan Mei 2009?

In anggaran on Friday , 12 June 2009 at 2:00 PM

Pasar mobil di bulan Mei 2009 lalu mulai kembali bergairah menyusul stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar dan penahanan harga mobil oleh beberapa produsen mobil di Indonesia. Dalam daftar 10 mobil terlaris bulan Mei 2009, beberapa ‘muka lama’ kembali masuk ke daftar.

Lihat Daftar 10 mobil terlaris di bulan Mei 2009:

Mobil Jumlah
Toyota Avanza 8.538
Daihatsu Xenia 2.673
Toyota Kijang Innova 2.488
Honda Jazz 1.422
Honda CR-V 959
Toyota Rush 913
Nissan Livina 878
Suzuki APV 832
Toyota Yaris 657
Daihatsu Gran Max 634
Sumber Data Gaikindo

Ach, sayang mobil pribadi saya nggak termasuk yang laris di bulan Mei 2009. Nggak apa-apalah, tetap bersyukur kepada Allah SWT, yang penting mobil saya bisa berfungsi dengan baik, lancar nggak mogokan, dan aman digunakan.

Ternyata “rakyat” Indonesia masih banyak yang kaya raya ya, nyatanya belanja mobil teruuuusssssssssssssssss ………

16 negara yang punya cadangan minyak dunia terbesar, Indonesia nggak masuk daftar!

In anggaran, bBm, bLog, country, global, hIdup, iKlim, ict, indeks, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAhasiswa, mAnajemen, mAteri kUliah, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, rank, risiko, risk, saing, sumber daya, survai on Wednesday , 11 February 2009 at 2:11 PM

Apa mau dikata, Indonesia nggak punya cadangan minyak yang besar-besar amat sekarang. Lihatlah dengan cermat data di atas. Makanya sebagai konsumen, kita jangan boros menggunakan energi apapun, termasuk minyak. Hemat, juga demi keturunan kita nantinya.

Apa perlu Pertamina pasang iklan?

In anggaran, bBm, bLog, country, dEmokrasi, daya, e-gov, eKsekutif, eValuasi, global, hIdup, index, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, kOrupsi, lEgislatif, mAnajemen, mAteri kUliah, money, nUrani, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pOlitik, ranking, readiness, risk, sUbsidi, saing, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Friday , 29 August 2008 at 2:17 AM

logoku

Setiap kali saya (menyempatkan diri) nonton tivi dan menemui iklan Pertamina Pasti Pas nongol di layar kaca, saya kok merasa nggak sreg. Timbul pertanyaan dalam diri saya, apa perlu Pertamina pasang iklan? Apa sih yang ditawarkan? Mau meyakinkan konsumen BBM bahwa jasa pelayanan dan penjualan Pertamina di berbagai SPBU pasti pas, nggak curang, begitu? Nggak perlu itu. Mengapa? Karena produk atau barang sejenis BBM apapun kondisinya, dimanapun tempatnya, kapanpun waktunya pasti dicari oleh rakyat untuk berbagai keperluan, terutama sebagai bahan bakar alat transportasi. Bahkan (mungkin sekali) untuk harga mahal dan  pelayan SPBU curang sekalipun pasti masih dikunjungi konsumen, disamperin, dan dibeli bensin/solarnya meskipun dengan perasaan dongkol, ngedumel, menyumpah-nyumpahi penjualnya! Mengapa, karena memang itu barang seperti kebutuhan “primer” sekarang, jadi butuh, butuh dan butuh. Lalu, iklan itu apa fungsinya? Meyakinkan konsumen? Nggak bisa merubah persepsi/bahkan fakta hal kecurangan itu dengan iklan. Apakah untuk mengimbangi pemasaran dengan SPBU dari perusahaan lain (selain Pertamina) yang mulai masuk Indonesia? Juga nggak signifikan!

Saya menghitung-hitung berapa milyar uang yang digerojokkan untuk iklan di tivi yang “sia-sia” itu …. sayang sekali. Bukankah semestinya yang dilakukan Pertamina lebih baik meningkatkan efisiensi di segala tingkatan dan jalur manajemennnya, meningkatkan kinerjanya, sehingga dengan cara itu siapa tahu bisa “menurunkan” cost produksi dan ujung-ujungnya menurunkan harga jual BBM. Jadi nggak perlu koar-koar, seolah-olah “eh, aku jual minyaknya pas lho, nggak curang, ayo beli, ayo beli” tapi kenyataannya …………… ? Saya tahu Pertamina sedang ada mengadakan pelatihan pelayan SPBU untuk mencapai target sekian SPBU pasti pas, itu bagus-bagus saja tapi realitasnya cek dan lihat lapanganlah …. Buang-buang uang untuk iklan yang mubazir khan sayang, mending untuk “menurunkan” harga BBM atau untuk peningkatan CSR langsung ke rakyat.

Setuju?