Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Posts Tagged ‘Google’

Akhirnya ketahuan juga, Microsoft takut pada Linux!

In tEknologi iNformasi on Friday , 7 August 2009 at 10:50 AM

Akhirnya ketahuan juga, Microsoft takut pada Linux! Bacalah PCWorld, 5 Agustus 2009.

Hingga saat ini Microsoft masih berjaya dengan sistem operasi andalannya, Windows. Namun, kehadiran sistem operasi open source Linux tak urung membuat Microsoft ketar-ketir juga. Ketakutan Microsoft akan Linux terungkap dalam laporan tahunannya kepada Security and Exchange Commission. Untuk pertama kalinya Microsoft memasukkan Canonical pembesut Ubuntu dan Red Hat yang merupakan distributor Linux sebagai kompetitor untuk divisi Client, pembuat Windows. Sebelumnya memang Microsoft juga pernah menunjuk Red Hat sebagai kompetitor tapi untuk divisi Business and Server & Tools.

Selain menyebut Linux sebagai ancaman bagi Windows, Microsoft juga menunjuk Apple sebagai salah satu ancaman baginya. Berikut pernyataan Microsoft tentang pesaing-pesaing yang dianggap sebagai ancaman: Client menghadapi persaingan sengit dari perusahaan yang memiliki pendekatan yang berbeda di pasar PC. Software pesaing tersebut misalnya varian Unix yang diusung kompetitor seperti Apple, Canonical, dan Red Hat. Apple melakukan gebrakan di dunia PC dan meraih pasar, khususnya di AS dan segmen consumer. Sementara Linux yang merupakan turunan dari Unix juga berhasil menyedot perhatian, sehingga memaksa OEM untuk menurunkan harga. Rekanan seperti HP dan Intel juga mengembangkan kerjasama dengan OS berbasis Linux. Selain itu Microsoft juga menunjuk rival beratnya dalam persaingan browser. Nama-nama yang ditunjuk Microsoft sebagai pesaing, yakni Google, Apple, Opera, dan tentu saja Mozilla.

Ayo terus, kita lanjutkan pakai Open Source. Indonesia Bisa.

Akhirnya tercapai juga 100.000 pengunjung, thanks ya ….

In bLog on Tuesday , 28 July 2009 at 1:10 PM

Terima kasih perlu saya ucapkan kepada para pengunjung blog saya, yang dengan setia “menyempatkan diri” untuk membaca tulisan-tulisan dan informasi ringan yang dipajang di blog ini. Sehingga hari ini, berdasarkan counter WordPress tercatat sudah 100.000 pengunjung (kalau counter dari pihak ketiga belum mencapai 100 ribu pengunjung, karena daftarnya belakangan) yang telah mengakses blog ini. Alhamdulillah, blog yang mulai diluncurkan 11 Maret 2008 dapat berjalan dengan lancar, meski terkadang tertatih-tatih juga saat harus mengisi materinya yang diharapkan sesuai dengan misi KEWARGANEGARAAN blog ini.

Semoga blog ini dapat terus eksis, sebagai wahana penyampaian pendapat dan penyebaran ide pribadi mengenai hal-hal kewarganegaraan, sehingga diharapkan dapat turut menyemaikan kemunculan puluhan bahkan ribuan WNI NOMOR 1 di kalangan bangsa dan negara Republik Indonesia yang tercinta. Jangka panjang diharapkan negeri ini akan semakin baik secara sosial, politik dan ekonomi, mendekati tujuan nasional yang telah telah ditetapkan konstitusi. Artinya, harapan terjauh adalah para penghuni rumah besar negeri Indonesia adalah pribadi-pribadi yang memiliki kecintaan tertinggi terhadap negara dan bangsanya. Semoga.

Thanks ya semuanya ….. jangan lupa kunjung-kunjung terus ……………

Postel mencabut 11 ‘nyawa’ Internet Service Provider

In tEknologi iNformasi on Thursday , 23 July 2009 at 10:52 AM

Ditjen Pos dan Telekomunikasi melakukan langkah tegas kepada belasan penyelenggara jasa internet (internet service provider/ISP) yang dianggap tak serius menjalankan bisnisnya. Tak tanggung-tanggung, regulator langsung mencabut ‘nyawa’ mereka. ‘Nyawa’ yang dimaksud adalah izin untuk menjalankan layanan yang selama ini mereka pegang. Ada 11 ISP yang menjadi korban pencabutan izin dengan berbagai latar belakang yang merundungnya. Dikutip detikINET dari keterangan resmi Ditjen Postel, Kamis (23/7/2009):

1. Dua penyelenggara ISP yang dicabut izinnya karena tidak memenuhi kewajiban penyesuaian izin : PT Arus Nawala dan PT Quantum Aksesindo Nusantara.

2. Tiga penyelenggara ISP yang dicabut izinnya karena kelalaian memenuhi kewajiban menyampaikan laporan kinerja operasi tahun 2007 : PT Enciety Binakarya Cemerlang, PT Sae Plus, dan PT Gapura Global Komunikasi.

3. Lima penyelenggara ISP yang dicabut izinnya karena permohonan sendiri : PT Telesindo Media Utama, PT Subur Sakti Putra, PT Metrodata Global Akses, PT Dayamitra Telekomunikasi, serta PT Uninet Bhaktinusa.

4. Satu penyelenggara ISP yang dicabut izinnya karena tidak beroperasi : PT. Corbec Communication.

Kabag Humas dan Pusat Informasi Depkominfo mengatakan, data perizinan jasa multimedia yang terdapat di Ditjen Postel menunjukkan bahwa sampai dengan saat ini jumlah izin penyelenggaraan yang masih berlaku untuk ISP dimiliki oleh 172 perusahaan. “Sedangkan untuk jasa interkoneksi internet (NAP/Network Access Point) izinnya dimiliki oleh 40 perusahaan, untuk jasa internet teleponi untuk keperluan publik (ITKP) oleh 25 perusahaan, dan untuk sistem komunikasi data (Siskomdat) oleh 7 perusahaan,” pungkasnya.

Akhirnya perang itu datang juga: Google vs Microsoft

In tEknologi iNformasi on Thursday , 16 July 2009 at 10:55 AM

In less than a week, Google announced an operating system to compete with Windows, while Microsoft announced that Office 10 will include free, online versions of its four most popular software programs — a shot at Google’s suite of web-based office applications.

micro_gogle

And not more than a month and a half ago, Microsoft unveiled its new search engine Bing, which it hopes will steal market share from Google and finally make it real money online.

From the news of it, it’s a full-blown tech battle, complete with behind-the-scenes machinations to sic government regulators on each other.

It is, however, not a death match — it’s more of an fight to see who will be the King of Technology, since both companies pull in their billions through completely different siphons and are unlikely to severely wound one another any time soon.

Google pulled in $22 billion in revenue in 2008, 97 percent of which came tiny text ads bought by the keyword and placed next to search results or on pages around the web. Google makes a negligible amount of money bundling its online apps for businesses, charging $50 a head annually — but mostly it just gives its online text editor, email and spreadsheet programs away.

By contrast, Microsoft sold $14.3 billion worth of Microsoft Word and PowerPoint and other business applications over the last nine months, making a profit of $9.3 billion. It made a further $16 billion in revenue in 2008 through sales of its operating systems, which range from XP installations on netbooks, to Vista, to Windows Mobile to its server software.

Google now plans its own range of operating systems, starting with Android, an open-source OS for small devices like smartphones, and Chrome OS, a browser-focused, open-source OS that will run on notebooks and desktops.

Clearly top executives at each company look over at the others’ pots of gold and dream of ways to steal them, or at least make it harder for the other guy to make money.

In fact, they even dislike each other enough to spend money to make the other one lose revenue — take for example, Microsoft’s behind-the-scenes campaign to scuttle last year’s proposed Google-Yahoo advertising deal or its ongoing attempts to derail the Google Book Search settlement.

But in reality, the competition is really about creating universes or ecosystems that it hopes consumers will want to live their technology lives inside. And it’s about ego — a fight to be recognized as the world’s most important technology company.

Microsoft would love for everyone in the world to be using its Internet Explorer browser to search through Bing to find a story from its MSN portal to email via Hotmail or Outlook to a friend. Add in a smartphone running Windows Mobile and an Xbox in the living room for the kids, and you have a Microsoft family. And though it is much joked about, Microsoft is the dominant platform for software developers of all types, whether they are making small business software, massive online role-playing games or photo-editing utilities.

Google’s ecosystem looks different. It starts with a Google Chrome browser (oddly running only on Windows) with a default homepage set to Google News or a customized Google homepage. From there you might go to Gmail and then click on a Word document sent to you as an attachment which Google will quickly — and safely — open for you in its online word processor.

But most importantly, Google wants you to search and travel around the web, hitting web pages that run Google-served ads and Google tracking cookies. You might think that Google is a really cool company to give away all this free technology, while never thinking about the persistent and silent data collection Google is undertaking to profile you in order to deliver you to advertisers for a premium.

So how do the two stack up in four key areas of competition?

Browsers: Internet Explorer in all its variations still retains close to 70 percent of the market (depending on who is counting and how). That dominance remains, even though Microsoft’s latest offering IE8 lags behind all the other major browsers in features and advanced web capabilities.

Firefox, Opera, and Apple’s Safari have all driven browser innovation over the last five years, but most people have not been convinced to leave IE behind, despite other alternatives being safer and more advanced. Why does it matter? Well, IE installations come with a default home page, don’t they?

Google’s Chrome browser, on the other hand, is a handsome, whiz-kid of a browser. It’s sleek and nimble, and it revolutionizes how tabs are handled. The address bar is the search box (Google as default, naturally). Each website opened runs as its own browser instance and has very low permissions to read and write to files. The sandboxing of tabs means that if a single website hangs or crashes, the rest are unaffected. Meanwhile, lower permissions make it harder for a hacker to bust into your computer through your browser.

Chrome also has less than 2 percent of the browser market share.

Online Search: Google’s name now means search to most users. Google’s search engine means money to Google. In June, it delivered 78.5 percent of search results pages delivered to U.S. web users. In the first three months of 2009, Google pulled in $5.2 billion in revenue, a majority of which came from AdWords, an auction-based service that triggers ads based on the keywords in a search query.

Microsoft recently debuted Bing, a new search engine it hoped would fare well in comparison to Google. It’s got some fine innovations, and shows the company is thinking very hard about better ways to present information to users by finding ways to synthesize data, rather than just retrieving links. Still, despite these improvements, a $100 million ad campaign, and generous press coverage that treats Bing like an underdog, Bing gained only a point in June to get Microsoft 8.2 percent of all searches.

Operating Systems: Microsoft has been making operating systems since 1979 and has spent 28 years perfecting MS-DOS and Windows NT, the frameworks that Windows have been built around. Microsoft is estimated to run on about 90 percent of all laptops and desktops in the world. By copying its competitors’ best features, leveraging questionable licensing arrangements and using its base of accustomed users to buy it time against innovators, Microsoft has held on to its lead in the OS market for almost 30 years. That’s despite challenges from Digital Research, Apple and IBM.

Microsoft’s newest version, Windows 7, will be available in the fall. Early reviews say the OS boots quickly and sleeps fast, and avoids much of the confusing interface decisions that have made many dislike Vista, the successor to Windows XP. Microsoft also dominates in the business world, where nearly every medium to large company standardizes around Microsoft Office. Microsoft is also at work on version 6 of its operating system for handheld devices, which it first launched in 2000.

Its OS advantages are immense. It has millions of users who know nothing else and who like Windows. There are millions who are attached to games or the thousands of desktop apps that are only available on Windows. Thousands of devices just plug in and work on its hardware. And familiarity with Microsoft software is a requirement for a huge number of office jobs.

By contrast, Google first stepped into the OS game in 2007 when it announced its Android operating system for small devices. Google estimates that some 18 phone models will be running its system by the end of the year. Last week, Google announced, but did not show off, a new OS to compete with Windows, dubbing it Chrome OS.

That name signifies that Google’s OS will be for the web and browser-based. It hopes to convince developers to write software that runs inside a browser, instead of on top of the OS as developers for Windows and Apples’ OS X do. It will also let web developers extend the power of their websites by expanding the capabilities of the browser, allowing websites to lean on the browser for storage and processing help.

Advertising: Google is largely powered by its innovative auction-based text ads on its own site, but then expanded into serving ads on other people’s sites with the Adsense program. It bought the ad-serving and behavioral-profiling giant Doubleclick in 2007 for more than $3 billion, and has ventured into mobile, print, radio and television ads.

Microsoft has struggled to replicate Google’s online advertising success. Despite owning MSN.com — a portal that is second only to Yahoo as a destination — Microsoft has not made money on the internet. To turbocharge its ad-delivery technology, it paid more than $6 billion in cash in 2007 for aQuantive, a full-service online advertising concern.

Instead, Microsoft’s online ad business lost $1.2 billion in 2008, double what it lost in 2007. The company expects 2009 revenues to be higher than the $3.2 billion it took in last year, but has not said it would make a profit.

Contrary to what some might have you believe, the benefits of the Google-Microsoft competition are immense.

Microsoft had largely grown complacent until Google came along to shake up categories. Gmail’s massive online storage capability and fancy programming made Microsoft hustle to upgrade its popular, though not user-friendly, web e-mail service. Google Maps led to Microsoft’s Live Maps, which now bests Google’s efforts in some ways.

Google has been winning the fight for the last few years, showing that it is still nimbler than the software giant from the Northwest. But the pendulum may be slowing, or even poised to swing the other way. With the innovations in Bing and the promise that Microsoft’s online Office offerings will be free and more fully featured than the Google equivalent, Microsoft is taking on Google where it matters for users: on the field of innovation.

And that will make for an interesting race, no matter which horse you prefer to ride. Referensi

Inilah daftar 100 malware terganas di Indonesia menurut Kaspersky Lab

In tEknologi iNformasi on Saturday , 27 June 2009 at 12:06 AM

Inilah daftar nama-nama malware terganas yang beredar di Indonesia periode 18 Juni 2009-25 Juni 2009, menurut laporan Kaspersky Lab:

  • Net-Worm.Win32.Kido.ih  ( 41.9714%)
  • Exploit.Win32.SqlShell.a   (9.7527%)
  • HEUR:Trojan.Win32.Generic  (7.6628%)
  • Heur.Win32.Trojan.Generic  (3.309%)
  • Trojan.Win32.FraudPack.owo (3.1%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.cgns  (2.5427%)
  • Trojan.Win32.Agent.cltm  (1.846%)
  • Trojan.Win32.FraudPack.oxv  (1.7416%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Small.axv (1.5674%)
  • Trojan.Win32.FraudPack.ovx  (1.5674%)
  • Trojan-PSW.Win32.Agent.nfo (1.3236%)
  • Trojan.Win32.Buzus.bhqc (1.2539%)
  • Trojan.Win32.Agent2.kov (1.1494%)
  • Net-Worm.Win32.Kido.dam.y (1.1146%)
  • Heur.Win32.Invader (0.8708%)
  • Net-Worm.Win32.Kido.eo (0.8011%)
  • Trojan.Win32.Monder.cmwt  (0.8011%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bfru  (0.7315%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.ansh (0.6618%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Agent.zje (0.5921%
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.cgew (0.5921%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.wxq (0.5573%)
  • not-a-virus:Porn-Dialer.Win32.InstantAccess.f(0.5573%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bfrp  (0.5225%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Small.jvl  (0.5225%)
  • Net-Worm.Win32.Koobface.d   (0.4528%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Injecter.cqd  (0.418%)
  • HEUR:Trojan-Downloader.Win32.Generic  (0.3831%)
  • Virus.Win32.Sality.aa (0.3135%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Relevant.n  (0.3135%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bfdq  ( 0.2786%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Agent.lmz  (0.2786%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Shopper.l  (0.209%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bful  (0.209%)
  • Trojan-GameThief.Win32.WOW.bie  (0.209%)
  • not-a-virus:WebToolbar.Win32.FenomenGame.pxu (0.1742%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Small.dhn (0.1742%)
  • Exploit.Win32.DCom.ad
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bffe (0.1742%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bfws (0.1742%)
  • Trojan-Banker.Win32.Banker.aifb  (0.1742%)
  • Packed.Win32.Black.d   (0.1742%)
  • Trojan.Win32.Agent.cgof   (0.1393%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Small.ayg  (0.1393%)
  • Trojan-Downloader.Win32.FraudLoad.wcby  (0.1393%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Small.jwq  ( 0.1393%)
  • Trojan-GameThief.Win32.OnLineGames.bktw  ( 0.1393%)
  • MultiPacked.Multi.Generic  (0.1393%)
  • HEUR:Backdoor.Win32.Generic  (0.1045%
  • Suspicious.Win32.Packer (0.1045%)
  • Virus.Win32.Virut.ce (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.IEbooot.dfe (0.1045%)
  • Trojan-Downloader.Win32.FraudLoad.erj ( 0.1045%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Agent.atvx  (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.Agent.ahwn  (0.1045%)
  • Multi.Win32.Packed   (0.1045%)
  • HEUR:Trojan.Win32.Invader (0.1045%)
  • Trojan.Win32.Agent.abud  (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.Poison.ahgc   (0.1045%)
  • Trojan-GameThief.Win32.Magania.bfsy (0.1045%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.cdid ( 0.1045%)
  • Trojan.Win32.Stuh.pdm  (0.1045%)
  • Trojan.Win32.Buzus.bigq (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.Small.icr  (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.Agent.ahgv  (0.1045%)
  • Trojan.Win32.Agent.cngn  (0.1045%)
  • Backdoor.Win32.Hupigon.aovn  (0.1045%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Agent.atmg  ( 0.1045%)
  • Packed.Win32.Black.a  (0.1045%)
  • HackTool.MSIL.KKFinder.q  (0.0697%)
  • Trojan-Downloader.Win32.Small.aliy  (0.0697%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Webdir.e  (0.0697%)
  • Email-Worm.Win32.Joleee.bwu  (0.0697%)
  • HEUR:Virus.Win32.Generic (0.0697%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Small.cdw  (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Agent.cccr (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Midgare.mqa (0.0697%)
  • Backdoor.Win32.Bifrose.aknz  (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Agent.cmud  (0.0697%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Shopper.v  (0.0697%)
  • Backdoor.Win32.Bifrose.fpb (0.0697%)
  • Trojan-Mailfinder.Win32.Mailbot.ec
  • Trojan.Win32.Agent.cjxh   (0.0697%)
  • Trojan-Spy.Win32.Zbot.xdj (0.0697%)
  • P2P-Worm.Win32.Archivarius.b   (0.0697%)
  • Virus.Win32.Sality.z     (0.0697%)
  • HEUR:Worm.Win32.Generic (0.0697%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Mudrop.ask  (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Agent2.hxw  (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Agent.cmnr (0.0697%)
  • Trojan.Win32.Agent.rzw (0.0697%)
  • Trojan-Downloader.Win32.FraudLoad.eki (0.0697%)
  • Trojan-Downloader.JS.Agent.gj  (0.0697%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.AlexaBar.n (0.0697%)
  • Trojan.Win32.KillWin.pi   (0.0697%)
  • not-a-virus:AdWare.Win32.Chiem.c  (0.0697%)
  • Net-Worm.Win32.Kido.cy
  • Trojan-Downloader.Win32.Agent.cgaw(0.0348%)
  • Trojan-Dropper.Win32.Mudrop.aso (0.0348%)
  • Packed.Win32.Krap.c  (0.0348%)
  • Serangan malware kian menggila. Waspadalah!

    Google Wave, Ambisi Google ‘Kuasai’ Dunia

    In bLog, country, hAm, ict, indonesia, informasi, kOmputer, mAnajemen, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, sumber daya, tEknologi iNformasi, teknologi on Tuesday , 2 June 2009 at 1:00 AM

    Mesin pencari di internet boleh dikatakan sudah sinonim dengan Google, namun sang raksasa seperti belum puas. Ambisi terbaru Google untuk ‘menguasai dunia’ nampak dari Google Wave. Google Wave merupakan platform komunikasi via internet terbaru yang sedang dikembangkan oleh Google. Di balik Wave adalah Rasmussen bersaudara, dua orang yang bertanggungjawab atas Google Maps. Wave pertama kali diperkenalkan pada konferensi Google I/O di San Francisco pada 27 Mei 2009. Seperti dikabarkan TechCrunch, Senin (1/6/2009), Wave disebut-sebut sebagai ‘wujud e-mail jika diciptakan pada masa kini’. Secara sekilas, Google Wave dapat disebut sebagai ‘pernikahan’ antara e-mail dan instant messaging. Namun lebih dari itu, Wave juga memungkinkan kolaborasi secara langsung terhadap dokumen online seperti wikipedia.

    Berikut beberapa hal yang didemonstrasikan Lars dan Jens Rasmussen serta tim Google Wave lainnya:

    1. Mengirimkan pesan secara bergantian layaknya e-mail.

    2. Melakukan chat langsung layaknya instant messaging dalam antarmuka yang sama.

    3. Berbagi dokumen dengan drag-drop dari desktop ke browser.

    4. Mengalihkan sebuah Wave menjadi konten untuk dipublikasikan layaknya blog.

    Namun hal paling ‘besar’ dari Wave adalah kenyataan bahwa teknologi ini tidak dikunci oleh Google. Siapapun bisa menggunakan Wave dan memanfaatkannya untuk memperkuat situs mereka. Seperti e-mail, Google Wave pun bisa diadopsi oleh sebuah perusahaan menjadi sebuah platform komunikasi di perusahaan tersebut. Dan sama seperti e-mail, Google Wave bisa dijalankan dari server perusahaan tersebut tanpa tergantung ke pihak lain — termasuk Google. Platform yang terbuka itu memungkinkan penyedia layanan berbasis Google Wave bisa saling berkomunikasi. Ini berbeda dengan layanan komunikasi ‘baru’ seperti Twitter atau layanan pesan di dalam Facebook yang ‘terkunci’ pada masing-masing penyedia layanan.

    Dibalik Google Wave adalah dukungan penuh Google pada standar HTML5. Standar yang akan datang dari situs web ini menyediakan basis teknologi yang memungkinkan pengembangan aplikasi seperti Google Wave dan aplikasi tingkat lanjut lainnya. Mampukah Google menaklukkan dunia lewat Google Wave?

    Ingin melihat video demonya? Klik disini. Ingin gambaran lengkap Google Wave? Klik disini. Selamat berkenalan dengan Google Wave.

    Kita “takut” pada FB? Google juga mulai grogi menghadapi ancaman Facebook!

    In bLog, country, e-goverment, global, indonesia, informasi, kOmputer, mAnajemen, money, pEringkat iNdonesia, ranking, readiness, tEknologi iNformasi, teknologi on Wednesday , 27 May 2009 at 9:52 AM

    Kalau akhir-akhir ini kita meributkan FB lantaran terkait “tata nilai dan perilaku” pengguna FB yang cenderung berlebihan dan disalahgunakan. Sehingga mengundang banyak keprihatinan. Itulah dua sisi kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia, termasuk teknologi informasi, termasuk adanya situs jejaring sosial yang kesohor macam Facebook itu. Jadi kita “takut” ke efek perilaku kehidupan masyarakat dan bangsa yang kemungkinan “terdegradasi” oleh FB akan nilai-nilai kebaikan yang ada selama ini. Jadi sepertinya ada ancaman ke arah brainware dan perilaku! Sehingga banyak penanggap yang sampai masuk content berfikirnya ke wilayah haram dan halal untuk menilai penggunaan FB. Ya, suka-suka bolehlah berfikir sampai kesana, namun proporsional berfikir dalam wilayah manfaat dan mudharat adalah yang terbaik! Larangan, pembatasan dan pengklaiman dengan pendekatan hukum (positif ataupun agama) semata-mata, percayalah tidak akan menyelesaikan masalah.

    Tetapi tahukah anda, ketakutan kita (eh, kita? Nggak ding, saya nggak ikut-ikutan takut kok) terhadap FB, rupanya juga telah menghinggapi kubu Google, mereka mulai khawatir dengan popularitas Facebook. Pasalnya, raksasa internet ini menganggap Facebook telah tumbuh menjadi pesaing potensial bagi mereka di bidang pencarian internet. Adalah Ken Tokusei selaku Google Group Product Manager yang mengungkap hal itu. Ia mengamati pemakai internet mulai mencari jawaban terpercaya terhadap pertanyaan pencarian mereka, tidak hanya dalam bentuk daftar situs seperti yang biasa disediakan di Google. Selain itu, user juga mengharapkan jawaban personal atas pertanyaan pribadi seperti di mana restoran atau salon yang bagus. Nah, Tokusei menilai situs jejaring seperti Facebook punya kelebihan dalam hal ini di mana informasi yang dibutuhkan bisa datang dari teman, kenalan dan para individu di situs tersebut.

    User pun lebih condong mempercayai informasi yang datang dari sesama pengguna situs jejaring. “Kami memang tidak punya poin di mana hasil pencarian tampaknya datang dari seseorang yang Anda kenal,” kata Tokusei seperti dilansir RedOrbit , 25 Mei 2009. Google pun mulai mengantisipasi tren ini. Mereka mulai mengembangkan tool yang memungkinkan user merating hasil pencarian dan bahkan menghapus link yang tak diinginkan. Namun Tokusei mengaku masih banyak hal yang harus dilakukan. Tokusei juga menandaskan penting untuk menentukan informasi seperti apa yang dikehendaki user. Google memang tak boleh lengah mengingat pesaing seakan tiada henti berusaha merongrong dominasinya. Misalnya Microsoft yang dikabarkan akan segera meluncurkan mesin cari baru dengan berbagai kelebihan.

    Ach, Google takut pasar pencariannya digerogoti FB nhi. Apalagi sehari sebelumnya RedOrbit juga telah mengabarkan bahwa Google’s Friend Connect telah diblok oleh FB. Jadinya makin takut kalahlah itu Google …. wah, perusahaan besar pun memang harus hati-hati dengan pesaing, jangan pernah lengah. Musuh selalu mencari celah dan jalan yang paling mungkin untuk mengalahkan leader yang sukses duluan ….

    Nah, lengkaplah sudah, sana-sini takut pada FB. Anda takut juga khan?

    Wah, wah, wah, Google, brand pertama di dunia bernilai US$ 100 Miliar!

    In bLog, country, daya, global, hIdup, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, kOmputer, lEgislatif, mAhasiswa, mAnajemen, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, polling, saing, sumber daya, survai, tEknologi iNformasi, teknologi, uang on Thursday , 7 May 2009 at 12:22 AM

    Wah, wah, wah, kalau namanya sudah sukses kok enak saja dan gampang banget ya dapat rezeki. Macam Google itu.

    Google agaknya terus mengibarkan panji kejayaannya. Di tengah keadaan krisis ekonomi sekarang ini, brand Google justru mencetak sejarah karena jadi brand pertama yang punya nilai sebesar US$ 100 miliar! Itulah laporan terbaru dari firma riset dan marketing Millward Brown Optimor. Dalam studi bertajuk Top 100 Most Valuable Global Brands’ tersebut, Google pun nangkring di posisi paling wahid.

    Rangking ini disusun melalui analisis berapa nilai sebuah brand yang dipadukan dengan praktek konsumen terhadap brand tersebut. Google dikuntit oleh Microsoft dengan nilai US$ 76 miliar dan Coca Cola dengan nilai US$ 67 miliar. “Dalam kondisi saat ini, di mana bisnis jatuh, brand menjadi lebih penting lagi karena bisa menolong perusahaan dalam kondisi yang sulit,” kata Joanna Seddon, Chief Executive Millward Brown Optimor yang dilansir Vnunet. Perusahaan teknologi lain yang sukses menembus peringkat 10 besar adalah IBM di peringkat 4, Apple di posisi 6 dan General Electric pada tempat ke 8.

    Waduh, lha kita, orang-orang Indonesia kapan punya brand seharga itu ya? Yuuk kreatif yuuk, demi diri sendiri, demi keluarga, demi masyarakat, demi bangsa dan negara kita ….. tapi jangan kreatif ndableg-nya lho, seperti apa? Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Sok koalisi, …..

    Asyik, ada perang darat, laut dan udara, di dunia maya …

    In bLog, e-gov, global, indonesia, informasi, kEwarganegaraan, kOmputer, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, readiness, tEknologi iNformasi on Sunday , 29 March 2009 at 12:37 PM

    Yahoo dan Google telah berperang soal daratan dan lautan pada bidang maps dan earth.

    Yang terbaru, setelah bulan lalu Google menghadirkan fitur untuk mengeksplorasi planet Mars secara online via Google Earth, kini Microsoft tampaknya nggak mau ketinggalan sehingga mereka berusaha menyaingi Google dengan meningkatkan jumlah konten di layanan onlinenya yang juga bisa dipakai menjelajah angkasa via web, Worldwide Telescope. Sepertinya mereka tidak mau kalah dengan Google, Microsoft menghadirkan data-data terbaru dari planet Mars. VentureBeat, tanggal 24 Maret 2009 mengabarkan Microsoft menggandeng lembaga antariksa NASA untuk menyediakan data-data dan gambar angkasa tersebut. Perang angkasa antara Google dan Microsoft tampaknya memang bakal terus sengit. Tidak hanya sebatas Mars saja, mereka juga berlomba-lomba mengeksplorasi area-aea lainnya di antariksa. Microsoft sudah berencana untuk menggelontorkan lebih banyak data dan gambar resolusi planet-planet lainnya, termasuk juga bulan. Google lebih dulu punya banyak data serupa yang tersedia di Google Moon dan Google Sky. Dengan demikian, siapa yang bakal jadi pemenang barangkali ditentukan siapa yang mampu menghadirkan content paling bagus, paling lengkap dan full updating. Microsoft tampaknya amat serius soal ini. Sebab dalam kesepakatan terbaru dengan NASA tersebut, mereka berhak memperoleh akses data sebesar 100 terabytes.

    Asyik juga ada “perang” beginian, kita jadi bisa mengakses data visual yang mungkin sebelumnya sulit kita peroleh. Hal ini tentu menyenangkan dan membuka mata kita untuk bisa melihat data astronomi NASA yang dapat diakses publik. Kita juga dimungkinkan dengan “teleskop maya” itu (siapa tahu) mampu mengintai tanda-tanda alam, kapan jatuhnya awal bulan puasa dan jatuhnya 1 Syawal, lebih presisi berbasis teknologi online (asal real time ya …), soalnya yang di Google Maps/Earth itu hasil olahan data satelit yang sekian waktu sebelumnya, nggak real time ya …

    Ayo buka terus dunia maya, peranglah terus di daratan, lautan dan angkasa, dikau, Google, Yahoo, dan Microsoft, biar kita makin dapat mengakses banyak data dunia …

    Seri 2: Menaikkan ranking website

    In anggaran, bLog, e-goverment, eKsekutif, global, index, indonesia, informasi, kOmputer, mAhasiswa, mAnajemen, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, ranking, readiness, sUbsidi, saing, tEknologi iNformasi, uang on Monday , 9 February 2009 at 11:59 AM

    Menamai pages anda

    Memberikan nama pages/halaman dengan tag yang populer. Hal ini sangat penting. Google menampilkan hasil pencarian sebagai sebuah link dengan menggunakan halaman web, seperti judul. Sebuah link bernama tertentu, pasti menarik. Bila tepat, menggunakan halaman seperti frase kata kunci dalam judul. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang tag HTML dari Panduan Web Desain. Pelajari lebih lanjut tentang bagaimana penentuan judul.

    Link dini, Link Seringkali, apa itu?

    Salah satu faktor terbesar Google melihat pada adanya hyperlink. Google melihat kedua link dari dan ke situs Web Anda. Google melihat pada kata-kata yang anda gunakan dalam link untuk membantu menentukan konten halaman. Gunakan link di halaman web sebagai cara untuk menegaskan kata kunci. Daripada dengan kata-kata, klik saja di sini, untuk mempelajari lebih lanjut tentang SEO? Anda harus berkata: Baca lebih lanjut tentang SEO (Opttimasi Search Engine). Pelajari lebih lanjut tentang mengapa bagaimana penamaan link ke Google. Link dari situs-situs lain ke situs web Anda yang digunakan untuk menentukan PageRank anda dapat menggunakan Google Toolbar untuk memeriksa PageRank Anda saat ini. Anda dapat meningkatkan PageRank dengan bertukar link dengan teks lain situs-situs yang relevan. Banner pertukaran seperti ini memang cukup efektif, namun jangan terlalu berharap. Anda juga dapat meningkatkan PageRank dengan memastikan website anda terdaftar pada direktori. Dengan kata lain, periksa PageRank dari rumah halaman direktori.

    Berlanggananlah ke suatu direktori untuk website anda

    Melanggankan website anda ke direktori yang terbuka, jika mungkin. Google mempertimbangkan direktori ini menjadi link yang penting. Seperti pasien, seorang dokter realistisnya harus rutin memeriksa situs anda, sebelum itu tercantum dalam direktori. Kirimkan situs anda ke suatu direktori khusus. Misalnya, bisnis ibu yang bekerja di rumah, harus menyerahkan ke situs direktori WAHM. Sebuah situs tentang kupu-kupu harus dikirim ke direktori biologi atau
    ilmu serangga.
    Jangan terlalu bangga berlebihan, meskipun anda telah melakukan hal ini. Google, dalam rangka memerangi penipuan klik, sering menyaring situs-situs yang terhubung dari situs pembenihan link, atau website dengan hanya link ke situs-situs lain. Ini adalah salah satu alasan mengapa layanan gratis untuk mendaftarkan situs web anda cukup merepotkan.

    Lihat, Serie : 1 , 2, 3

    Seri 1: Menaikkan ranking website

    In anggaran, bLog, country, e-goverment, eKsekutif, eValuasi, global, index, indonesia, informasi, kOmputer, mAnajemen, money, pEringkat iNdonesia, rank, readiness, survai, tEknologi iNformasi, uang on Monday , 9 February 2009 at 11:29 AM

    Belajar dari orang lain itu perlu. Berikut ini adalah tulisan dari Marziah Karch yang kalau judul aslinya berjudul Move Your Website up a Little on the Last. Saya terjemahkan secara bebas, ya jadinya seperti yang anda baca judul di atas itu. Selamat membaca, sorry kalau ada khilaf bahasa, namanya juga punya tenggat waktu nggak banyak-banyak banget ….

    Mesin pencari Google, menggunakan berbagai metode untuk menentukan halaman mana yang akan ditampilkan pertama dalam hasilnya. Rumus mereka adalah rahasia, tetapi ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk memperbaiki posisi. Istilah ini adalah “Cari Optimisasi Mesin” (SEO).

    Tips ini mungkin tidak membuat situs Web yang pertama muncul di daftar, tapi setidaknya dapat membantu anda menaikkkan website/blogsedikit.Yang harus difahami pertama kali adalah abaikan spam dan situs-situs yang menawarkan untuk mengirimkan situs Anda ke ratusan mesin pencari. Hal ini merupakan pemborosan waktu atau uang dan yang terburuk adalah dapat membuat anda benar-benar terluka gara-gara mengejar peringkat.

    Frase kata kunci

    Daripada memfokuskan pada satu kata, coba tambahkan beberapa kata untuk membuat frase kata kunci. Anda mungkin ingin membaca tentang efektifitas pencarian Google dengan melihat bagaimana kata kunci frase membantu pencarian. Jika Anda mencari situs web sendiri, apa kata kunci frase yang akan anda ketik di Google untuk setiap halaman? Apakah anda mencari, widget super cepat? Apakah anda mencari, cara membuat widget? Ini mungkin membantu untuk mendapatkan perspektif yang berbeda. Meminta orang lain untuk membaca halaman dan menyarankan apa yang mereka pikir tentang kata kunci frase yang paling mungkin. Tempelkan satu subjek per halaman, dan menempel satu frase kata kunci per halaman.

    Kepadatan/Densitas

    Salah satu hal yang digunakan Google untuk mencari dari katalog halaman adalah kepadatan/densitas dari penggunaan kata kunci. Dengan kata lain, seberapa sering kata kunci terjadi/muncul. Gunakan kata-kata alam. Jangan mencoba untuk mengelabui mesin pencari oleh pengulangan kata yang sama berulang-ulang atau membuat teks “tidak kelihatan.” Ini
    tidak berfungsi. Pada kenyataannya, mungkin bahkan mendapatkan situs web Anda dilarang dari Google. Berikan paragraf pembuka yang kuat. Google sangat mungkin mencari diantara 200 kata pertama atau lebih dari situs web Anda, tetapi pasti melihat paragraf pertama untuk kepadatan/densitas kata kunci. Anda dapat memeriksa kepadatan kata kunci dengan Google Toolbar .

    Lihat, Serie : 1 , 2, 3

    Ada apa dengan Google Maps dan Google Earth?

    In bLog, dEmokrasi, daya, e-goverment, global, ict, indeks, indonesia, kOmputer, mAnajemen, militer, operasi, pEndidikan, pEringkat iNdonesia, pErtahanan, readiness, risiko, sumber daya, tEknologi iNformasi on Tuesday , 3 February 2009 at 10:59 AM

    Sejak kasus terorisme meledak di Mumbai India beberapa waktu lalu, layanan peta online Google Earth dan Google Maps sering dituding kontroversial dan dapat cercaan dari berbagai pihak, termasuk dari beberapa profesor dari Jepang. Aplikasi tersebut dinilai membantu teroris menentukan target serangan. Bahkan ada wacana Google Earth dan Google Maps dilarang.

    Tuduhan yang bertubi-tubi ini, sungguh-sungguh menyesakkan pihak Google, perusahaan top dunia yang biasanya jarang merespons tudingan miring terhadap bisnis searching online kini mulai angkat bicara. Dengan tegas, Google membantah klaim banyak pihak bahwa Google Earth ataupun Google Maps menolong para teroris melakukan aksi kejinya. Meskipun para teroris memanfaatkannya, Google Earth maupun Google Maps tidak patut disalahkan. Ada cukup argumentasi, bahwa kemajuan teknologi selalu punya kemungkinan disalahgunakan. Jika Google Earth dan Google Maps dihilangkan, siapa yang bisa memberikan jaminan pasti serangan teroris mampu dicegah. Ataupun kejahatan lain yang berbasis teknologi informasi, semacam internet, bisa hilang, ah nggak mungkinlah.

    Kejahatan, cara tradisional ataupun lewat jalur internet, pakai Google Earth maupun Google Maps misalnya,  bermula dari dua faktor yang harus tersedia terlebih dahulu, yaitu NIAT dan KESEMPATAN. Kalau para pelaku kejahatan sudah punya niat, mereka bisa memakai sarana apa saja, termasuk perangkat teknologi seperti Google Earth/Google Maps. Karena memang dengan adanya sarana ini mereka punya kesempatan yang lebih terbuka. Tetapi keberadaan layanan ini bukan berarti secara otomatis meningkatkan kejahatan. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya dan memberi aturan yang standar, sehingga tidak disalahgunakan.

    Harus diakui, Google Earth maupun Google Maps terbukti mempunyai banyak manfaat. Bahkan baru-baru ini, Kepolisian Swiss dapat memanfaatkannya untuk membekuk pengedar ganja yang disembunyikan di tengah ladang jagung. Hebatnya, keberadaan barang terlarang tersebut terkuak berkat pengamatan dari Google Earth. Tak tanggung-tanggung, dari temuan ini polisi menyita 1,2 ton ganja, uang tunai dan barang-barang berharga senilai 900 ribu franch swiss serta menyeret 16 orang yang terlibat di dalamnya. Kepala bidang narkoba di Kepolisian Zurich mengatakan, ini merupakan penemuan yang menarik. Dimana penyelidikan tidak dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan melainkan hanya dengan bantuan teknologi satelit yang dimiliki Google Earth.  Perkebunan terlarang tersebut memiliki luas sekitar 7.500 meter persegi dan disembunyikan di antara ladang jagung. Dengan dibongkarnya ladang ganja ini polisi berhasil menghentikan terulangnya kesuksesan penjualan 7 ton hashish dan ganja antara tahun 2004-2008 dengan perputaran uang senilai 3-10 juta francs tiap tahunnya.

    Nah, kembali ke masalah Google Earth maupun Google Maps, kita harusnya berfikir, apakah satu atau dua kasus penyalahgunaan layanan ini sudah bisa dijadikan ukuran untuk menutup layanan ini? Apakah kita tidak menyadari bahwa suatu produk teknologi pasti akan diikuti efek samping munculnya pemanfaatan teknologi tersebut yang tidak sesuai tujuan mulia (awalnya) penemuan teknologi itu. Ingat penemuan Einstein ataupun Newton. Itu semua dikarenakan selalu saja ada manusia jahat dan baik di dunia ini. Jadi jangan teknologinyalah yang diberangus.