Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Harapan

Posts Tagged ‘Obama’

Gaya Obama menyelesaikan masalah “berbau rasis”

In kEwarganegaraan on Friday , 31 July 2009 at 10:58 AM

Anda sudah baca tulisan yang saya posting soal masalah “berbau rasis” yang menimpa seorang profesor Amerika Serikat yang ditangkap secara ngawur oleh polisi:
“Seorang Profesor kulit hitam ditangkap, Obama sebut polisi bodoh!” ?

Rupanya masalah itu diselesaikan oleh Presiden Barack Obama dengan gayanya yang khas dan disebut sebagai “teachable moment” (momen pembelajaran). Mereka yang terkait berkumpul di suatu taman, ada sang profesor yang ditangkap, ada sersan polisi yang menangkapnya, dan sang presiden. Seraya minum-minum, dan berkomunikasi penuh persahabatan. Lihatlah fotonya:

Momen Pembelajaran

Momen Pembelajaran

Pelajaran apa yang bisa dipetik? Masalah berat yang “berbau ras” pun kalau mau diselesaikan, dipertemukan, diisi dengan niat baik, bisa dituntaskan secara terhormat. Hal ini akan berbuah manis, sepanjang semua manusia mau memahami bahwa di dunia adanya pluralisme dan multikulturisme tidak bisa dinafikan, harus diterima apa adanya. Semoga WNI Nomor 1 mau mempelopori bahwa kita hidup di Indonesia, yang sesungguhnya memang penuh warna, penuh suara dan penuh harapan.

Mau membaca selengkapnya kisah penyelesaian masalah ini? Klik saja disini Obama, Gates, policeman pledge to try and move on. Salam Indonesia.

Seorang Profesor kulit hitam ditangkap, Obama sebut polisi bodoh!

In kEwarganegaraan on Friday , 24 July 2009 at 2:56 PM

Presiden AS Barack Obama menyebut polisi di Cambridge, Massachusetts bertindak bodoh dalam penangkapan seorang profesor kulit hitam di Harvard University pekan lalu. Profesor Henry Louis Gates Jr ditangkap di rumahnya di Massachusetts dengan tuduhan tidak mematuhi perintah polisi. “Saya tidak tahu, tidak berada di sana dan tidak melihat semua fakta apa yang terjadi. Tetapi saya kira adil mengatakan, pertama kita semua akan sangat marah, kedua polisi Cambridge bertindak bodoh menangkap seseorang yang telah membuktikan bahwa ia berada di rumahnya sendiri, dan ketiga ada sejarah panjang di negara ini tentang orang Afrika-Amerika dan Latin yang diperlakukan di depan hukum secara tidak proporsional,” kata Obama, Kamis (23/7).

Menurut Obama –presiden AS kulit hitam pertama– insiden itu menunjukkan perlakukan tidak proporsional tersebut masih terjadi di Amerika. Obama membenarkan sang profesor adalah temannya. Gedung Putih buru-buru membantah bahwa Obama menyebut polisi berkulit putih yang menangkap Gates bertindak bodoh.  “Biar saya jelaskan, dia tidak menyebut polisi bodoh,” kata juru bicara Gedung Putih Robert Gibbs.

Masalah itu bermula ketika seorang warga melaporkan kemungkinan terjadinya pencurian saat Gates dan seorang temannya terlihat memaksa masuk pintu rumahnya yang macet. Saat polisi datang, Gates di dalam rumah dan menunjukkan bukti bahwa dia pemilik rumah. Namun, dia tidak menuruti perintah ketika diminta keluar. Dan setelah saling berdebat, Gates akhirnya ditangkap. Tuduhan terhadap Gates akhirnya dibatalkan, Selasa (21/7). Namun, Gates menegaskan akan tetap melanjutkan kasus ini. “Ini bukan tentang saya, ini tentang mudahnya orang kulit hitam diserang di Amerika,” kata Gates kepada CNN.

Pesannya: JANGAN ASAL TANGKAP, BIAR NGGAK DISEBUT BODOH!

Sotomayor Says Identity Won’t Distort Her Decisions. Ini baru jempolan!

In kEwarganegaraan on Wednesday , 15 July 2009 at 7:00 AM
Perjuangan seorang wanita

Perjuangan seorang wanita

Judge Sonia Sotomayor insisted on Tuesday, in the face of sometimes skeptical questioning from Republicans, that she would never allow her background or life experiences to determine the outcome of a case if she were elevated to the Supreme Court.

“It’s not a question of choosing to see some facts or another, senator,” Judge Sotomayor told Jeff Sessions of Alabama, the ranking minority member on the Senate Judiciary Committee, who made it clear he was not persuaded that the nominee would adhere to the law as strictly as she has pledged.

We’re not robots,” the judge said at one point, as she described judges’ personal backgrounds as sources to enrich the law rather than warp it — walking a semantic tightrope that Mr. Sessions repeatedly, despite his courtly courtesy, said he did not find persuasive.

The judge was led into her question-answer session by friendly queries from the committee chairman, Senator Patrick J. Leahy, Democrat of Vermont, who tried to deflate Republican arguments in advance by giving the nominee a chance to explain some of her controversial rulings and comments, including the now-famous remark that “a wise Latina woman” might see a case in a different light from a jurist of a different gender or ethnic background.

“No words I’ve ever written or spoken have received so much attention,” the judge said, with a slightly nervous laugh. At another point, she observed that she might have been guilty of “a rhetorical flourish” that “fell flat.”

Repeatedly, Judge Sotomayor sought to persuade the panel that her past, rather than determining how she rules on cases, makes her more perceptive in sorting out the issues. “The process of judging is the process of keeping an open mind,” she said, explaining that her philosophy is to examine issues “case by case, applying the law as it exists.”

I think the system is strengthened when judges don’t assume they’re impartial,” she said.

But Senator Sessions said he feared that Judge Sotomayor would let her background determine how she rules, and that she has displayed “a body of thought over the years that causes us difficulty.”

No, the judge said. She pledged that “at no point nor time” would she let her background affect how she rules. Life experiences are important in perceiving facts, she said, “but the law commands a result.”

The judge sought to dispel any notion that she dealt too perfunctorily, in her role as a member of the United States Court of Appeals for the Second Circuit, with the New Haven firefighters’ case, in which the city threw out the results of a promotional exam because black candidates did not fare well.

The case was “not a quota case, not an affirmative action case,” she said, but rather focused on possible defects in the test. The Second Circuit decided the case, although in a very short ruling, based on “a very thorough” 78-page decision by a district court, the judge said, adding that now that the Supreme Court has ruled in favor of white and Hispanic firefighters who challenged the city’s decision she, of course, would be bound by that decision.

But Senator Orrin G. Hatch, Republican of Utah, was not satisfied with that explanation and wondered, without asking a direct question, why the judge had relied on the district court’s decision “rather than doing your own analysis of the issues.”

Trying to counter suggestions from some Republicans that she is an “activist judge,” Judge Sotomayor said she does not see appeals courts as policy makers, despite once observing that “the court of appeals is where policy is made.” What she meant, she explained, is that appellate judges establish legal precedent, and “precedent has policy ramifications,” binding litigants in similar cases.

Senator Dianne Feinstein, Democrat of California, came to the nominee’s defense, asserting that an objective study of her record should convince people that “she is anything but” an activist judge.

Judge Sotomayor, who often took notes as she was being questioned, responded in legalese when she was asked by Senator Herb Kohl, Democrat of Wisconsin, if she believed that Roe v. Wade, the 1973 Supreme Court decision establishing a woman’s right to choose abortion, was “settled law.”

“The court’s decision in Planned Parenthood v. Casey reaffirmed the court holding of Roe,” she replied, referring to the 1992 ruling in a Pennsylvania case. “That is the precedent of the court and settled, in terms of the holding of the court.”

There was a moment of near-comedy when Judge Sotomayor sought to alleviate any fears that she might not be sympathetic enough to the rights of gun owners. “I have friends who hunt,” she said.

There was a moment of friction between Mr. Leahy and Mr. Sessions, both former prosecutors. When Mr. Sessions went on at some length before letting the nominee respond, Mr. Leahy said sharply, “Was that a question?”

Mr. Sessions said he had to go on at some length because Mr. Leahy had “misrepresented the facts” of a certain case — an assertion Mr. Leahy hotly disputed.

Mr. Sessions has promised to give Judge Sotomayor fair consideration, with his own unpleasant experience in mind. Two decades ago, his nomination for a federal district judgeship was derailed amid accusations that he had been insensitive on racial issues — accusations that he heatedly denied, and that some black associates also disputed.

Judge Sotomayor would appear to be virtually assured of confirmation, despite the hostility of some Republicans, given the Democrats’ 12-to-7 advantage on the judiciary panel and 60-to-40 majority in the Senate. Referensi

P.S. Perhatikan beberapa kata yang saya bold di atas. Dengan kata-kata tajam Sotomayor “membuka” mata para penuduh. Inikah perjuangan gender sesungguhnya, tanpa affirmatif. Inikah perjuangan negarawan sesungguhnya, tanpa melihat asal-usul keturunannya. Inikah perjuangan ranah hukum semestinya, tanpa carut marut yang disengaja. Belajar dari Sotomayor, belajar kehidupan bernegara, dengan aroma multikultural dan pluralisme. Indah nian: profesionalisme tetap bersemi.

Obama Ungkapkan Kemarahannya kepada Iran. Ada apa sebenarnya?

In country on Wednesday , 24 June 2009 at 1:08 PM

Presiden Barack Obama, Selasa (23/6), menyampaikan pernyataan lebih keras menyangkut penanganan pemerintah Iran terhadap aksi demo memprotes hasil pemilu.

Obama mengekspresikan kemarahannya atas tindakan keras pemerintah Iran menyusul tayangan video menyayat hati seorang perempuan yang tewas ditembak selama protes di Teheran.

Berbicara dalam jumpa pers di Gedung Putih, untuk pertama kalinya Obama menyampaikan pendapat bahwa strateginya untuk menawari negosiasi kepada musuh utama AS, Iran, akan tergantung kepada bagaimana akhir dari krisis Iran. “Amerika Serikat dan masyarakat internasional jijik dan marah atas ancaman, pemukulan dan pemenjaraan yang terjadi di hari-hari terakhir ini,” kata Obama memperkeras retorikanya terhadap Iran.

“Saya sangat mengutuk aksi yang tidak adil dan saya bersama rakyat Amerika berduka untuk semua dan setiap korban yang tidak berdosa yang meninggal.”

Obama berkuasa sejak Januari lalu dan menawarkan dialog dengan musuh-musuh AS termasuk Iran yang sebelumnya sangat dijauhi pemerintahan George W Bush. “Kami tetap menunggu untuk melihat bagaimana krisis itu diakhiri,” kata Obama merujuk situasi di Iran.

“Pendirian saya semenjak masuk ke kantor ini (Gedung Putih) adalah bahwa AS memiliki kepentingan keamanan nasional inti dalam meyakinkan bahwa Iran tidak memiliki senjata nuklir dan menghentikan ekspor terorismenya ke luar perbatasannya. Kami mencermati dalam beberapa hari terakhir, di pekan-pekan lalu, untuk tidak memberikan dukungan, dengan alasan bahwa rezim Iran lah yang boleh memilih jalannya.”

Obama menegaskan, dia tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran seperti dituduhkan pemerintah Iran, tetapi menyatakan dia harus memberi kesaksian bagi keberanian dan martabat rakyat Iran.

Secara khusus dia menyebut tayangan video kematian Neda Agha-Soltan, yang adalah penonton unjuk rasa yang ditembak mati di jalanan dan gambarnya menyebar ke seluruh dunia, sebagai simbol demonstrasi pasca-pemilu.

“Tayangan itu menyayat hati dan saya yakin bahwa semua orang yang menyaksikannya tahu bahwa ada ketidakadilan yang fundamental di balik itu. Saya kira, manakala seorang gadis tertembak di jalanan tatkala dia hendak keluar dari kendaraannya, adalah masalah (teramat besar).”

Beberapa tokoh Republik, termasuk lawan Obama dalam Pemilu 2008, John McCain, menuduh Presiden AS ini dingin dan terlalu lamban menyikapi demonstrasi yang meledak menyusul terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang ditentang Mir Hossein Mousavi.

Obama membalas kritik kelompok Republik ini dengan berkata, “Hanya sayalah Presiden Amerika Serikat. Apa pun yang dilakukan pemerintah selalu dilihat maju mundur oleh Republik. Itu bukan apa yang relevan bagi rakyat Iran.”

McCain kemudian mengatakan dalam wawancara dengan CNN bahwa dia sepakat hanya ada satu presiden di AS, tetapi mempertahankan haknya untuk berbicara. “Kebanyakan dari kita yang bertahun-tahun berpengalaman menangani masalah-masalah seperti Iran tidak hanya berhak untuk berbicara, namun kita juga memiliki tanggung jawab untuk berbicara demi orang lain yang sedang tertindas.”

Baru saja hari ini satu komisi kunci pada DPR AS setuju menjadikan Iran sebagai target larangan impor minyak dan sektor energi domestiknya dengan melarang Bank Ekspor Impor AS membantu perusahaan-perusahaan yang mengekspor bahan bakar ke Iran atau membantu produksi minyak Iran.

Departemen Luar Negeri juga menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berbicara tentang Iran via telepon dengan mitranya dari Perancis, Inggris, dan Jerman, tetapi enggan mengungkapkan isi pembicaraan itu.

Obama terlihat berhati-hati bersikap di Iran dengan menyeimbangkan empatinya kepada para demonstran Iran, seraya tidak terlihat ingin merenggangkan hubungan dengan musuh Washington yang dituduh menguasai senjata nuklir itu.

“Komentar-komentar saya telah keliru diterjemahkan di Iran dengan menyatakan bahwa saya membiarkan para perusuh melanjutkan aksinya dan terus membuat kegaduhan. Ada laporan bahwa CIA berada di balik itu semua. Semua itu keliru, tapi itu membuat Anda berada pada posisi yang justru disukai pemerintah Iran untuk dimainkan (sebagai alasan untuk menyebut ada intervensi asing di Iran),” demikian Obama. Referensi

Barack Obama: “Americans are not your enemy”

In bLog, country, dEmokrasi, damai, e-goverment, eKsekutif, global, hAm, hIdup, iSlam, indonesia, informasi, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAhasiswa, nUrani, pEndidikan, pOlitik, peace, sumber daya on Wednesday , 28 January 2009 at 10:38 AM

Dalam sebuah wawancara pertama dengan stasiun televisi Arab, Presiden Barack Obama menekankan penawaran untuk mengubah hubungan Amerika dengan dunia Muslim.

Tugas saya adalah untuk berkomunikasi dengan orang-orang Amerika bahwa Islam adalah dunia yang penuh dengan orang-orang luar biasa yang hanya ingin hidup dan kehidupan mereka melihat anak-anak mereka hidup lebih hidup,” kata Presiden Obama kepada Al Arabiya. “Tugas saya terkait dunia Muslim adalah untuk berkomunikasi bahwa Amerika adalah bukan musuh.” Dalam wawancara yang dilakukan di Ruang Peta Gedung Putih, Presiden Obama juga menyatakan komitmen untuk menanggulangi proses perdamaian Timur Tengah segera. Selengkapnya silakan lihat sendiri tulisannya terbaru di blog Gedung Putih.

Jadi, harus difahami bahwa ungkapan ini adalah masih satu rangkaian dengan janji-jani yang ditebarkan pada saat kampanye dulu. CHANGE. Inipun masih by lisan, silakan realisasinya dilihat dan dicermati terus, kalau sudah terbukti nyata, bersyukurlah. Kalau hanya lipstick, ya begitulah …  sama saja dengan janji-janji caleg/capres kita ya …

Obama salah bersumpah, diulang deh ….

In bLog, e-goverment, eKsekutif, hIdup, indonesia, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, lEgislatif, mAnajemen, nUrani, pEndidikan, pErtahanan, pOlitik, risk on Thursday , 22 January 2009 at 1:14 PM

Pengambilan sumpah Presiden AS Barack Obama diulang (hanya untuk memastikan) karena insiden di di hari inaugurasi Obama, 20 Januari lalu. Dalam insiden itu, Ketua MA John Roberts, seperti dilansir Washington Post, salah mengucapkan urut-urutan kata yang harus diucapkan Obama. Buntutnya, Obama pun bingung dan terbata-bata.

Bersumpah saat inagurasi

Bersumpah saat inagurasi (20 januari 2009)

Di depan jutaan orang yang menyaksikan, secara keseluruhan Obama mengucapkan sumpahnya demikian:

“I, Barack Hussein Obama, do solemnly swear that I will execute the office of president of the United States faithfully, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. “So help me God.”

Mestinya, sesuai Konstitusi AS, sumpah tersebut harusnya berbunyi:

“I do solemnly swear that I will faithfully execute the office of president of the United States, and will to the best of my ability, preserve, protect, and defend the constitution of the United States. “So help me God.”

Kesalahan terjadi ketika Roberts harusnya menyebutkan kalimat:

“… that I will faithfully execute the office of president of the United States.”

Namun Roberts salah mengucapkan urutan kata-kata tersebut. Dia malah menyebutkan,

“…. that I will execute the office of president of the United States faithfully.”

Hal itu membuat Obama bingung. Obama sepertinya menyadari ada yang salah hingga dia mendadak berhenti pada kata “execute.” Menyadari ada yang keliru, Roberts pun kemudian mengulang kalimat tersebut. Namun lagi-lagi Roberts melakukan kesalahan. Dia memang mengucapkan kata “faithfully” sesuai urutan namun kata “execute” tidak diucapkannya.

Obama pun akhirnya mengulang kalimat awal versi keliru yang disebutkan Roberts:

“….the office of president of the United States faithfully.”

sss

Di Map Room sumpah diulang

Ulangan bersumpah ini untuk memastikan secara administratif bahwa presiden telah efektif melaksanakan sumpah jabatan, sebagai pemenuhan unsur kehati-hatian. Di Map Room mereka mengulang sumpah.

“Apakah Anda siap untuk mengambil sumpah?” Tanya Roberts.

“Aku, dan kita akan melakukannya dengan pelan,” Obama menjawab.

Sumpah presiden diperlukan oleh konstitusi, dan harus menyatakan,

“Saya sungguh-sungguh bersumpah bahwa saya akan setia menjalankan kantor presiden Amerika Serikat, dan akan menjadi yang terbaik sesuai kemampuan saya, melestarikan, melindungi dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat. “

Hikmah yang perlu pelajari dan kita petik dari kejadian tersebut:

a. Presiden juga manusia, bisa juga berbuat salah, termasuk dalam bersumpah. Yang penting jangan berbuat kesalahan yang disengaja.

b. Obama memang belum pengalaman jadi presiden!. Bagi kita, perlu mewaspadai presiden yang sudah berpengalaman, tetapi tidak menjalankan sumpah serta amanat jabatannya secara baik dan benar.

Selamat ya Obama, jangan lupa janjimu! CHANGES

In bLog, country, e-goverment, eKsekutif, global, hAm, hIdup, indonesia, kEnangan, kEpemimpinan, kEwarganegaraan, mAnajemen, pOlitik, peace on Tuesday , 20 January 2009 at 2:40 PM

Sekadar mengucapkan selamat atas pelantikan Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat boleh-boleh saja khan … yang penting nggak memuja-muja manusia secara serampangan, cuma relasi kemanusiaan saja dan diplomasi dasar ….

Toh, sesungguhnya Obama juga punya investasi di Indonesia, coba anda lihat.

Punya truk ya?

Obama, punya truk ya?

Ingatlah paman Sam (Mr. Obama) anda masih punya hutang kemanusiaan lho, terutama di:

a. Irak

b. Afghanistan

c. Palestina

Changes wujudkan dengan standar tunggal ya, jangan ganda. Hak Asasi Manusia itu universal. Untuk siapa saja, warga Amerika Serikat, Palestina, tentu juga Indonesia.

Congratulation-lah, kutunggu bukti janji kampanyemu. Masak, anda mau niru politisi Indonesia yang suka bikin janji, tapi belum pikun sudah tua, alias banyak lupa janjinya ….